Melukis Embun

melukis embun dengan jari di kaca oto, terbaca namamu, sedang itu mengganggu tidur. ya malam kemarin itu langit begitu khusyu_

Pagi begini, 
aku hanya ingin ingin melukis jelaga embun diatas rerumputan,
ia sedang tertidur kukira, setelah sunyi semalaman ia khusyu berdoa.

Hatihati sekali melukisnya,
aku takut ia terbangun dan mengajakku berbicara tentang “hakikat”,
sentuhan di kanvasku bergetar,
ketika embun itu
merekah lalu pecah, oh...rupanya
: matahari  membawanya  pergi .

____________
2009, waktu tak juga membuatmu mengerti, meski rindu terus kita tulis berlembar-lembar, awwe..., "lampu jalan malam tampak tetap berair",itu yang sering kau katakan.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar