Revitalisasi Budaya Maros ke Kurikulum _

Buku "Kearifan Budaya Lokal", semisal kesadaran pada observasi alam sejarah sistemik bugis makassar, dengan tawaran tepat program pembelajaran tingkat sma di maros, sebab disadari bersama bahwa minimnya kemampuan kurikulum yang tertebar di nusantara  untuk menyerap total instrumen kebudayaan lokal masing-masing daerah, sebagai contoh; sangat sulit menemukan kebudayaan Bugis Makassar, dalam kurikulum KTSP yang beredar sekarang......

Kausalitas tersebut, mengatraktifkan penelusuran, perangkuman dan analisis data, secara serentak dan bolak-balik atau sesuai dengan prinsip lingkaran hermenutika (hermeneutic circle), hingga keverifikasi semua temuan penelitian, dengan trianggulasi temuan kepada pakar bahasa, ahli lontara' dan budayawan Bugis Makassar, mengemaskan sebuah buku "Kearifan Budaya Lokal", tulis Kaimuddin Mabbaco. Buku Kearifan lokal ini merupakan tawaran pertama di Kab Maros Sulawesi Selatan, sebagai Kurikulum Belajar Seni Budaya Lokal, 

" Baik buku ini jadi rujukan, "dan si penulis memungkinkan di mummi kelak atas kematiannya " persepsi sejarawan Maros A. Fachri Makkasau. Dalam bedah buku kearifan budaya lokal maros

Garap buku pendidikan ini, sebagai langkah awal ini tentu saja terdapat banyak kekurangan dalam ke aneka ragam tradisi di sulawesi selatan ini dengan sumber khususnya kab maros, ya sebuah daerah dengan lintas masa lalu menjadi tempat pertemuan 2 kerajaan besar Gowa dan Bone_sebab nilai kearifan lokal yang sangat luas semoga upaya ini menjadi sesuatu....

Penuh sikap santun kami mengirimkan doa keselamatan buat ayahanda kami H. Abdul Kadir Parewe (almarhum) , yang banyak membantu sebelumnya dalam banyak sumber/ referensi, beliau  "penerima piala Grammy award selebes 2006, sebagai Budayawan di sulawesi selatan, beliau sungguh melengkapi kami  banyak hal

menyunting kalimat dari catatan buku sebuah Kaidah tampak menegas di halam depan mengesan : "kebertahanan hidup masyarakat lampau Bugis-Makassar, tidak ditentukan oleh ruang tertentu, tetapi pemertahanan nilai-nilai kearifan budaya yang ada dalam Pappaseng/Pappasang itulah yang selalu dipedomani agar tetap hidup di dalam ruang itu". by :kaimuddin mbck

Revitalisasi Budaya ke Kurikulum sebab Tanggapan atas Berkembangnya Pola perilaku Buruk

Menawarkan 3 bab beserta pasal-pasal atau anak bab, dengan formula pertama Pappaseng dengan bahasan panjang makna tekstual dan kontekstual, sedang pasal setelahnya adalah refitalisai ritual dan seni tradisi di 14 kecamatan di Kab Maros, dan di tuntaskan dengan paupau ri kadong atau cerita rakyat juga dengan penelitian di 14 kecamatan _  Gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam menanggapi perkembangan zaman,  merupakan konsekuensi sepanjang hidup bagi kemanusiaan.(penyebab perubahan telah terbahas sebelumnya), dan dapat di tegaskan bahwa dasar fitrah tiap orang pada hakikatnya selalu ingin mengadakan perubahan, termasuk karena rasa bosan sebagaiman dikatakan Hirscman " bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan".

Buku ke Kurikulum 2 hasil jejak Revitalisasi 14 kecamatan
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, juga karena sebuah peperangan. 

Tetapi gejolak perubahan sekaitan dengan Pengetahuan kearifan lokal dengan melihat perkembangan revitalisasi kearifan budaya, menguat nilai-nilai ideal yang dilontarkan dalam makna Pappaseng/Pappasang diskursuskan dan terharapkan menjadi keteladan pewarisan dalam mengimbangi perilaku kedurjanaan dari sebuah kultur asing yang negatif, sebab keduanya tampil bersamaan terpampang dalam realitas waktu kehidupan, sehingga nilai-nilai ideal sebab Revitalisasi Budaya ke Kurikulum lebih dominan mempengaruhi generasi kita, maka perlawanan radikal terhadap perilaku durjana pun bakal terjadi dalam keberadaan individu-individu yang memperjuangkan nilai-nilai kearifan tersebut.

 *naia riasengage’ to warani maperengnge’ nare’kko moloi roppo-roppo ri laommu, rewe’ko paimeng sappa laleng molai…”. Artinya : Yang disebut orang berani ialah yang kuat dan unggul bertahan, jikalau engkau menghadapi rintangan berat yang engkau tak dapat lalui atau atasi, kembalilah memikirkan jalan atau cara untuk mengatasinya.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar