Posts Tagged ‘wisata sejarah Samanggi’__1

Sebuah bebukitan kars dengan panorama yang sangat indah, alam pegunungan berpadu dengan bukit-bukit kebiruan yang klasik, serta hamparan kedai kedai sepanjang jalan milik pribumi yang menjajakan jagung rebus, ke unikan tempat ini membentuk barisan kawasan ini sangat ideal (khususnya remaja) yang melakukan Camping, Caving (Penelusuran Gua) panjat tebing atau sekedar menikmati panorama alam ,sungai dan flora-fauna khas yang terdapat didalamnya, daerah lintas kendaraan antar wilayah provinsi sering singgah untuk istirahat sejenak di kedaikedai tersebut, tetapi...bukan itu, karena tempat ini lebih pada nilai “history Samanggi”, sebuah tempat di Kecamatan Simbang Kab Maros, provinsi sulawesi Selatan.(penelusuran selanjutnya adalah 3 judul di bawah ini)

Uak Kope dari Samanggi__2)
Kayukayu Samanggi__3)
 Gua saripa dan 7 nisan Jepang mengantarai jejak Samanggi_4)
Dalam history Samanggi sebagai tempat, ditemukan seorang pengelana yang dituakan dengan istilah Jo’a, sebab menemukan atau membuka wilayah pertamakali di tempat tersebut, oleh Joa’ imanggarassa, atau dikenal juga nama lain yaitu Dg Majjoa Imanggarote.
Catatan keberadaan dg. Majjoa inilah kemudian menjadi jejak awal pembicaraan kampung  Simbang ini, dalam catatan lontara Attoriolong di kab Maros, tentang penamaan “samanggi”, menandai tempat ini sebagai pusat atau titik tengah tempat  pertemuan  suku Bugis Bone dan suku Makassar Gowa pada periode yang sangat awal (sebelum berdirinya imperium  kerajaan Bugis dan Makassar).


Crew Budaya Pappaseng Maros ke lacak jejak ini, terjelaskan asal kata “samanggi”, bahwa Samanggi sebagai nama kampung dalam literasi bahasa Makassar disebut dengan “samangki”, sedang dalam literasi bahasa Bugis dinamakan  “samakki,: sebuah tutur yang berbeda tetapi berarti sama yaitu “bersamaan “, atau bersamaan berada di tempat tersebut, (daerah Parang Tinggia spesifik tempat) Sebuah peristiwa sebelum masa damai atau masa konflik antara dua suku besar yang berakhir atas terjalinnya hubungan kekerabatan sebab “pernikahan” yang kemudian melahirkan  kesepakatan  damai dan ke-tentraman. Yang disaksikan oleh Gallarang Tallua dalam hal ini adalah Samangki, Sampakang dan Sambueja, (dibawah naungan tukusiang atau kelompok kesukuan “Simbang”,  yang di pimpin oleh Dg Majjoa Imanggarote dan sahabatnya Imagguliling petta benteng.
Senja mulai turun ketika petualangan wisata dan lacak jejak ini, di depan mata terhampar rumah Dgn. Moddo, episode history samanggi  ini juga menyerempet  dalam parikadong/ cerita rakyat tentang  “Uak kope”, yang keluar dari mulut beliau, kope menurutnya (maaf) payudara seseorang mampu di bentang kebelakang jika menyusukan anaknya, yah.., seorang perempuan yang menjadi insfirasi paupau parikadong masyarakat samanggi, bernama Uak Kope…..dan seterusnya (akan kami ceritakan pada episode berikutnya).
*Parang Tinggia : Parang ;tanah lapang/padang dan Tinggia berarti tinggi
-----------------------------------
.Referensi :
~H. Wata’
~H. joa
~Dgn. Moddo : mantan Kepala Dusun Balangajia

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar