Susah Menulis Sayang

Klimaks salah satu kumpulan Cerita True Story dalam "Keterpurukan" Menandai : sebuah kota tujuan tapi telah menyeruak bau anyir bahkan hampir menenggelamkan, juga tak jelas tulang belulang siap yang dingin dan menggebur padat-i bumi, mereka dengan dengus napas satusatu  yang hampir senyap, tak menghirau  apa pun lagi juga dengan lidah yang telah terpotong dan isak aduh-an yang hanya terdengar oleh diri sendiri. Jangan...bahkan tak ada kata "sayang sedikitpun"_ lihatlah cinta berbisik-bisik sesama mereka saja, sedang anak-anak meratapi  ibu bapak mereka yang terkunci mulutnya dan dengan tangan yang dijepit borgol.

kisah gadis muda yang merelakan kehilangan ovariaumnya, istri yang kehilangan suami tercinta tak lama setelah menikah, gadis penderita agorafobia?, penyakit psikologi yang menyebabkan penderita lemah lambung dan lebih suka berdiam di rumah, mahasiswa S2 yang tak jua lulus, gadis lulusan SMA yang mampu membuktikan diri tak kalah dengan sarjana, perjuangan dubber yang ingin mengangkat citra dunia sulih suara di Indonesia, gadis yang merana akibat indra keenam, dan sebagainya.   tentang asap musim hujan, yang tiada henti sementara beberapa orang penghuni rumah larut dengan diri masing-masing, begitu diam dan kaku", jangan tanya nasib anak-anak itu, mereka bersikeras ingin menjadi batu. Sekira tersisa pun mereka ingin mati…..hari ini !.

 Link terkait berikut ini


Tak menuliskan sayang sebab kalimat juga bahasa selalu TAK tepat mewakilinya: sebuah dialog drama dalam naskah : kebebasan Abadi, "jangan hidup seperti ombak orang muda dari jauh rindukan pantai begitu sampai pecah sendiri". bukan pada hal menggurui tapi lebih pada kepengecutan untuk : tidak meninggalkan pulau tersebut demi ketahan jabatan. Tanpa sayang ia menulis : suatu pagi yang tanpa embun sebab kau terlambat sedetik saja, < teks tadi menarik dan seperti benar tapi metafora-mu meruah kemana-mana tentang siapa atau apa "mengapa sedetik, mengapa embun dan siapa yang terlambat..?".

"mencipta atau melahirkan syair / teks, tidak mudah itu kodong... tuk menyerahkan pilihan kepada idiom.. kata juga bahasa di kekhasanah linguistik, yang buat B-gini....karena format2, yang sudah terkorelasi dengan kebiasaan membuat / cipta, (seperti lebih sering mengalir saja, menulis apa adannya, juga maksa diri walau tak mut), ketidak mudahan yang lain, kalo tiba2 sadar akan posisi bahasa akan ke ter-serta-kan nya "makna" meng- emban-nya (jika hasilnya kemudian memang berMaKna / no makna), Sebagai tanggung jawab lahirnya teks.  awwe kitami menulis ki ku baca pi

labbipi seng kalo moki berlebihan 
atau nipaui akkana " hasil bahasa itu merupakan usaha untuk menundukkan alam semesta...", berlebihan ya....?.
asal tulis mo deh...nah...

Lee Young namanya, ini cantik toh...tapi jangan tergoda ia 
pria terseksi di dunia, sebelum ku-britahu kau tetap sayang bukan ?.

kaligrafi tulisan indah
tapi ini mi kasi heranka' (knapa menulis ki terusterus) padahal imajinasi ji yang ditata, nabilang Uak sena, "karena kertas mantonji / kertas aja yg mo nerima nih teks, sedang menyimpannya tanpa apresiasi bisa aja dia berkarat, haha..ha.., lanjut ia bilang " tapi meskipun saya tdk menuliskannya , otak saya juga tdk bakalan penuh", tapi ranah ini dalam teman2 bergulat dengan penemuan teks yg baru / menurutnya "unik" (istilahku/ atau istilah siapa lah), melakukannya bukan hanya 'kesadaran akal' namun juga 'kesadaran batin' dalam rujuk fitrah ke (ke)-arifan. 

Tapi ada seng yg bilang bahwa pengalaman batin dan badan takkan pernah mampu kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya sastra dari produk laboratorium, karya jurnalistik, telaah sejarah, atau penyusunan biografi. awwedede....proses anuji ini kodong....memaksa akal bekerja sebab kalo malaski akal/ berhentiki sedetik saja, -maka mati miQii...it, ok canteee..skaleee..menulis nah...kubaca-pi.
gambar :keterpurukan yang dialami pelacur kampung demi menghidupi anak-anaknya, menulis ki ku baca pi
Dalam film "Lewat Djam Malam" , Usmar Ismail berkisah akan perjuangan hidup perempuan, yakni tentang Laila (Dhalia) yang ditinggal pergi suami hingga ia harus melacurkan dirinya. Melalui gambar perkakas rumah tangga yang dia kliping, Laila terlihat merindukan sosok suami dan anak dalam keluarganya. Sedangkan lewat kata-kata, “Lelaki, kalau sudah pergi, siapa yang tahu dia akan pulang lagi,” yang ia ulang terus, menunjukkan lukanya karena si suami minggat. Lewat Laila, Usmar Ismail bisa menampilkan karakter yang stres tapi tetap bertahan hidup dengan impiannya.

{ 4 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Anonim mengatakan...

hahahhaha begitu diiii.. sepakat sih sebenarnya tetapi menulis itu menurutku lebih kepada mencekoki tangan dengan pekerjaan positif biar sedikit punya amal. hahahhahahah

Sang Baco mengatakan...

mantabb, lanjutki Uak, hentikan segalannya dengan cara menulisnya, haha..ha...

tenri mengatakan...

Bagusji tulisanta, krn sempat berkaca2 mataku......:P

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

deE tenri ..., jangki sedih nah..lebih baik itu melucuka...haha..ha..

Posting Komentar