Sang Baco Pengguna Bahasa Pasar

Kritik Pada Penggunaanku terhadapa "Bahasa Pasar"_Kukira aku sedang tertidur saat pembagian bahasa baku sedang marak orang dengar dan komunikasi-kan, setelah sunyi semalaman membaca beberapa catatanku dan mengintroduksi hasil percakapan bersama teman dgn banyak komunitas (juga), maka hal ini (bahasaku)  sengaja memilih bahasa pasar karena sesuai ideologi dan karakter diriku yang bersosiasi dengan habitat pasar dan pinggir sungai , sebab kebanyakan teman, kakak serta adik-adik, yang juga membaca postingan ini lebih pada  inginKu : mudah mereka, pahami /pannessai juga tentang  catatan-catatan konyol ini, (ya termasuk puisi misalnya, yang memang belum kuanggap sebagai puisi), masih membidik pasar maka penggunaan teks sangat tidak boleh mengikatku, aku tanpa peduli keterikatan berbahasa dalam pandang linguistik, yah juga dengan bahasa apa adanya lebih sering kukenali ujud sepi ini, meski ia mengendap dan tumbuh sendiri, wajahkupun kau temukan dalam pesan, “kegairahan cinta”, juga tentang "dunia yang sedang terbalik", demikian  nyawa bahasaku.
Mungkin ini sebuah dorongan dari pasar dan pinggir sungai habitatku, (tempatku makan, bersenggama juga berak), sebagai faktor keterwakilan sebuah catatan, haha..ha…, aku bahagia mengatakan ini, meskipun dalam jarak, pun selalu dengus angin mengirim berita dengan terbata-bata kalau kalau bahasa pasar yang aku / juga mereka (mungkin) GUNAKAN telah di legalitaskan dalam idiom bahasa Indonesia baku, (masukin kamus) dilematis ya..?_ terakhir,  dalam indeks kamus kontemporer juga KBBI terbaru (bukan edtrs Purwardarminta) bahagia menandai beberapa kata teresap dalam kamus tsb misal : pete-pete, telekan (di Bugis kami sebut "mattalekkeng), curuk, palak. dan "sumaddang" yg terakhir ini belum masuk literasi pengamusan, haha...ha.., termasuk yang kuingin kata "tudang sipulung".

Berdampingan dengan jurnalis dan media jejaring sosial, seperti twitter youtube, atau facebook, kupantau..., mereka turut memperluas penggunaan bahasa pasar, ya biasa sajalah...?, juga kekuatiran lemahnya "bahasa baku kita" sehingga banyak rasa, atraktif, kesan nan belum ditemu indeksnya dalam kamus, mungkin karena entri bhs indonesia jumlahnya memang sedikit hanya sekitar 6000an, beda dengan bhs inggris juga bahasa Bugis yg jumlah kosa-katanya hingga 8-9 ribuan.
Dunia tempat kita seorang diri juga seperti tujuan penggunaan bahasa, yang sekedar menyampaikan informasih tanpa mampu mengikatnya atau sebagaimana rasa tak mampu terwakilkan penuh esensial oleh bahasa. : jika kau mengangguk. Aku mengajakmu kesebuaah pahaman bahwa “mengikuti keinginan pasar adalah salah satu upaya mendekatkan diri dengan "khalayak pembaca", sehingga muncullah bahasa sehari-hari atau tanggap bahasa pasar, atau nyaman dengan istilah" ya tulis tulis saja", nasaba masitta i' ripahang iyyae pau-pau e_wassalam ,Kaimuddin.Mbck.

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar