Tanggap Bahasa Pasar

Selasa, Juli 16, 2013

Tanggap atas bahasa pasar, ulasan yang apa adanya dan tak ilmiah bahasa. Ilustrasikan Penggunaan bahasa secara tepat, dan bukan perihal terburu-buru mengkritik pengguna bahasa pasar. 

Kalimat ringan dengan penerimaan yang baik

 "seperti kurasa mauka di kita, "tidak ada tempat lain  baku tatap, kecuali liat bulan di atas itu
"awwe...ampumma ma', kalo ditinggalkanka bawaki serta bayanganta 

Kutulis saja kata pengguna bahasa pasar berikut ini, katanya "Kukira aku sedang tertidur saat pembagian bahasa baku yang sedang marak orang dengar dan komunikasi-kan, setelah sunyi semalaman membaca beberapa catatanku dan mengintroduksi hasil percakapan bersama teman dgn banyak komunitas (juga), maka hal ini (bahasaku)  sengaja memilih bahasa pasar karena sesuai ideologi dan karakter diriku yang bersosiasi dengan habitat pasar dan pinggir sungai".







Iklan mengguna Bahasa Pasar

"bayarki paja' ta" ..............

Tambahnya " sebab kebanyakan teman, kakak serta adik-adik, yang juga membaca postingan ini lebih pada  inginKu : mudah mereka, pahami /pannessai juga sebab tentang atribut iklan promosi yang juga pakai bahasa demikian bahkan terdengar lebih sedikit konyol ini".

Paham bahwa bahasa pasar penggunaanya ya di pasar atau dalam kehidupan sosialisasi pertemanan dan juga ketika di warkop, teksku pula belum kuanggap puisi ia hanya kata-kata / lebih dianggap catatan, dan kutulis saja jika sedang takjub , jatuh hati , kesal juga ketika sakit hati, dan serampangan mengingatkan "hati-hatilah hati, ia hati senantiasa mesti mengantarmu dengan hati-hati

 membidik pasar maka penggunaan teks sangat tidak boleh mengikatku, aku tanpa peduli keterikatan berbahasa dalam pandang linguistik, yah juga dengan bahasa apa adanya lebih sering kukenali ujud sepi ini, meski ia mengendap dan tumbuh sendiri, wajahkupun kau temukan dalam pesan, “kegairahan cinta”, juga tentang "dunia yang sedang terbalik", demikian  nyawa bahasaku.

Mungkin ini sebuah dorongan dari pasar dan pinggir sungai habitatku, dan sekaligus tempatku makan, bersenggama juga berak 

Aku bahagia mengatakan ini, meski dalam jarak, pun selalu dengus angin mengirim berita dengan terbata-bata kalau kalau bahasa pasar yang aku / juga mereka (mungkin) GUNAKAN telah di legalitaskan dalam idiom bahasa Indonesia baku,

KBBI resap Bahasa Pasar

KBBI terbaru (bukan edtrs Purwardarminta) bahagia menandai beberapa kata teresap dalam kamus tsb misal : 

pete-pete, telekan (di Bugis kami sebut "mattalekkeng), curuk, palak. dan "sumaddang" juga tudang sipulung, 2 idiom yan g terakhir ini belum resap KKBI, meski aku sangat ingin , sebab 2 kata tadi penting dan atraktip keadaan tak ada mewakili dari bhs Indonesia tahun ini. 

KBBI masih miskin Idiom

Berdampingan dengan jurnalis dan media jejaring sosial, seperti twitter youtube, atau facebook, kupantau..., mereka turut memperluas penggunaan bahasa pasar, ya biasa sajalah...?, juga kekuatiran lemahnya "bahasa baku kita" sehingga banyak rasa, atraktif, kesan nan belum ditemu indeksnya dalam kamus, mungkin karena entri bhs indonesia jumlahnya memang sedikit hanya sekitar 6000an, beda dengan bhs inggris juga bahasa Bugis yg jumlah kosa-katanya hingga 8-9 ribuan.

Bahasa Pasar tepat komunikasi dan padat metafora

Dunia tempat kita seorang diri juga seperti tujuan penggunaan bahasa, yang sekedar menyampaikan informasih tanpa mampu mengikatnya atau sebagaimana rasa tak mampu terwakilkan penuh esensial oleh bahasa. : jika kau mengangguk. Aku mengajakmu kesebuaah pahaman bahwa “mengikuti keinginan pasar adalah salah satu upaya mendekatkan diri dengan "khalayak pembaca", sehingga muncullah bahasa sehari-hari atau dan tanpa tanggap bahasa pasar, atau nyaman dengan istilah" ya tulis tulis saja", nasaba masitta i' ripahang iyyae pau-pau e_(terj_segera paham /ngerti apa yang di sampaikan_wassalam

____

Original content sangbaco.web.id

Kaimuddin. Mbck. 16|07|13

"Tanggap  Bahasa Pasar"


You Might Also Like

1 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images