puisi : mengeras jauhmu

Sesaat itu abadi pada memoar yang menyuling cerita kanak kanak kita.
     mencari-cari rindu atau...., mengulang temu di pesisir sambil memunguti kerikil dan memintalnya jadi  hiasan, mengeras jauhmu dan sepangkal  alat musik tiup dari kerang, usai kubuatkan,
          
mengers jauhmu saat sore memahami laju kendaraan tua , dengan  asap knalpot melangit, di sudut mana atau  rumah-rumah telah tak beralamat 

                   sudut sudut yang jauh pada layar ingatan kita, 
                         seperti plat hias namamu yang mengabu di mejaku, kemana berakhir mu?,
                           ---------tak ada sahutan. 
                           Sebuah tanda bahwa kita telah saling jauh....telah saling berpihak

                             _____________
kaimuddin mbck 
sebab bete jadi ....mengingatmu, trus menulisnya..gitu...>>


di sela rindu aku menggali sendiri, dan di persinggahan itu  kita mulai terbakar ?
________
seseorang berlari-lari kecil ,  memenuh keringat
(ia terkenang, ketika kau seka keringat di pelipisnya, lalu ia menangkap ombak di mata itu , kini ia tetap berlari dan mencari penanda tersebut, serupa ketika Adam melihat Hawa di sebelah bukit, "uh demikian menjejak ", bilangnya
----------------------------
 Suara sepi berantakan , ia tetap berlari dalam diam,  sebab kalau tidak , segalanya mengubur,  segalanya ....
________


memoar : waktu itu > ketika kau bulat bola dan kita masih perawan,
aku mencatat bahwa "  senyum   itu panas....  ,  mirip telur dadar yang selalu kubuat ,  lengkapi nasi goreng kesukaanmu, haha..ha...


{ 2 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

bocah kampoenk mengatakan...

mantap baco hehe

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

iyye..mksh dah mampir

Posting Komentar