Puisi pAling BayAng

waktu tak pernah menyerah, meski detik-detik jam begitu lambat dan kian mengentalkan bayang-mu, paling bayang itu kau, mengental dan mengendap di sebagian rongga dada, "jika pergi, tolong bawa serta bayanganmu"_

pulanglah...pada gerimis yang membasahi daun,
pulanglah dari segala arus yang berakhir di muara
lihatlah .. kursi-kursi taman yang  meratapi kesendiriannya
jenguklah juga kelopak mata dengan nasib yang  digelayut elegi,

pulanglah,  tidak untuk meresapi dan
                bukan untuk menepati janji, pulanglah
                sebab isarat yang belum kau baca saat pergi
lihatlah, keadaan selalu seperti itu,tampa pernah bisa ditawar atau
ditimbang, tak lebih atau berubah
 jika :
       kau... benar-benar pergi
       kau... tengkar dengan "bayanganmu sendiri "

maaf dalam bayang itu "kau tak pernah sendiri"
 ______
 kaimuddin mbck pAling BayAng "awwe lamata pergi de' ? "
Isarat bahwa manusia selalu bersama dengan Tuhannya pada fitrah yang dititip di hatinya, tak apapun selain kau diminta mengenalnya, maka dengan ini Ia : Kekasih dan Perhatian, juga dengan ini kitapun bisa "ada" atau "tiada..." Mengenal fitrah maka akan menemu ilmu sadar atau mengenal Tuhan melalui bisikan hati. kesimpulan esensia keadaan ini adalah perhatian dan refleksi internal, lalu terus menerus melalui metode inilah kita akan membentuk makrifat tak sadar atau setengah sadar yang di kenali dengan istilah dsawq: terhadap Tuhan menjadi makrifat yang sadar dan aktual.Selengkapnya di Pulang ke fitrah

{ 2 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Menembus Logika,Menentang Emansipasi mengatakan...

mntap skli puisiix pak....

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

iyye..kebetulan ini termasuk puisi yg lamasekali ku endapkan baru selesai

Posting Komentar