Pentingnya tak berbicara

Tak bicara adalah kesempatan memilih untuk refleksi guna berkonsentrasi pada apa yang harus dikatakan oleh benak kita.  "Puasa bicara"  bikin insting, naluri jadi peka, dan perihal ini menelusupkan gairah mengenal kefitrahan hidup, berhenti bicara maka batin menjadi lebih tajam untuk mendengar isarat-isarat gaib, mendengarkan hati nurani.

Bicaralah lebih banyak dan terimalah keadaanmu menjadi tuli.

Hal sederhana dapat dikatakan bahwa mengurangi bicara upaya meninggalkan kata-kata kotor, yang mungkin saja menyinggung perasaan orang lain, dengan tidak bicara kita juga meninggalkan kata-kata yang biasa-biasa. Hanya supaya pembicaraan kita tidak mengambil alih zikir yang seharusnya kita lakukan.

Tak bicara Seringkali menjadi senjata terbaik dari sekian senjata yang kita miliki. efek tawaran ini n maksud kita  jauh lebih efektif daripada argument yang persuasif sekalipun.

Dengan hemat tenaga dalam mengurangi bicara : seluruh isi dunia ini terbuka bagi kita, sebab perlahan kita mulai mengerti segala sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan kita dapat mempunyai akses terhadap apa yang menurut pendapatnya tidak kita ketahui. Mendengar dan tak menyela orang berbicara merupakan kunci untuk memasuki pengalaman hidup yang lebih bermakna, lebih berpengetahuan dan empatif.

dengan mendengar bicaramu maka aku mulai meraih hatimu, sebab dengan "mendengarmu" kau merasa bahwa aku sangat menghargaimu, bicaralah terus...karena itu menunjukkan kebodohan 

Tak bicara sebuah cara menikmati komunikasi yang lebih efektif, meningkatkan pemelajaran, pertumbuhan pribadi yang bermakna, damai, hubungan yang lebih efektif, dan perasaan yang diperkaya sehubungan dengan hidup dan pekerjaan kita.
aksi jahit mulut sebagai bentuk protes terhadap PT Chevron Geothermal Salak Ltd, agar mengganti kerugian rumah warga yang rusak."Aksi ini kami lakukan agar pihak Chevron bertanggung jawab atas ganti rugi rumah warga yang rusak akibat kegiatan yang dilakukan perusahaan tersebut," kata koordinator aksi unjuk rasa, Heru Herlambang

Ilustrasi Pentingnya Tak Bicara 
Nabi Zakaria as, ketika diberitahu bahwa ia akan mempunyai anak yang bernama Yahya, merasa amat bahagia karena dalam usianya yang amat tua, ia belum juga dikaruniai seorang putra. Zakaria as sering berdoa, "Tuhanku, sudah rapuh tulang-tulangku, sudah penuh kepalaku dengan uban, tapi aku tak putus asa berdoa kepada-Mu." (QS. Maryam: 4) 

Satu saat, Tuhan menjawab, "Aku akan memberi kepadamu seorang anak." (QS. Maryam: 7) Zakaria as hampir tidak percaya, "Bagaimana mungkin aku punya anak, ya Allah. Padahal istriku mandul dan aku pun sudah tua renta." (QS. Maryam: 8) Lalu Tuhan menjawab, "Hal itu mudah bagi Allah. Bukankah kamu pun asalnya tiada lalu Aku ciptakan kamu." (QS. Maryam: 9) Zakaria masih penasaran dan ia minta kepada Allah, "Apa tandanya, ya Allah?" Tuhan menjawab, "Tandanya ialah kau harus puasa bicara. Kau tidak boleh berkata kepada seorang manusia pun selama tiga hari berturut-turut." (QS. Maryam: 10)

Zakaria as diperintahkan Tuhan untuk mensyukur nikmat yang diterimanya dengan berpuasa bicara. Itulah juga nasihat kepada seorang suami yang istrinya sedang mengandung; belajarlah puasa bicara. Usahakan sesedikit mungkin berbicara. Insya Allah, jika selama istri kita mengandung, kita berpuasa bicara, maka Allah akan memberikan kepada kita seorang anak seperti Yahya yang cerdas, arif, berhati lembut dan suci, bertakwa kepada Allah swt, dan sangat berkhidmat kepada orang tuanya, tak pernah memaksakan kehendaknya.

Hanya dengan puasa bicara, batin kita menjadi lebih tajam untuk mendengarkan isyarat-isyarat gaib, mendengarkan hati nurani. Ketika kita terlalu banyak bicara, kita menjadi tuli.
Komisi III DPR Martin Hutabarat, minta Presiden SBY untuk mengurangi bicara di depan publik karena dikhawatirkan akan ditanggapi berbeda maksud arah pernyataannya. Permintaan ini disampaikan dalam Rapat Kerja dengan Kapolri Jenderal Timur Pradopo di Gedung DPR
Dalam peristiwa mikraj diceritakan ketika Nabi Muhammad saw, Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, beliau melihat di pertengahan jalan ada seorang yang "menggunting  lidahnya berulang kali". Malaikat Jibril menjelaskan, "Itulah tukang-tukang ceramah yang suka memberikan nasihat kepada orang banyak tetapi ia tidak mempraktekkan apa yang ia khotbahkan."

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar