"tak henti ", hingga halaman berikutnya

ketika malam adalah lautan aksara dalam 
hiruk-pikuk imajinasi, aku se-penyelaman kayuhan  yang resap kedasar telaga,
 Aku menenun gelombang badai hingga 
ketepian atau...... 
aku mengapung saja di keheningan bentangan cakrawala,
                        uh...malam-malam begini dan udara selalu basah
 
Halaman berikutnya adalah jarak fajar yang

jauh dan sepoi dan angin yang  menyisir bebukitan,  
yah...malam selalu laju yang mencatatkan kutuk jika bukan maut, ah...
bila kau selalu di halaman depan suratku?,
    : mungkin tembang heningan terciprak tajam dan menancap....

 

Halam berikutnya yang resah adalah melupakan hiruk-pikuk dingin yang 
merambah di lengkung waktu,
: aku mungkin saja pelacur yang mengais kasih di berandamu, atau.....
       tembang  lirih yang mengendap di narasimu, atau ...apapun yang kau mau
       Tapi aku ?, " tak henti "

Puisi tak henti hingga halaman berikutnya

     
.



{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

perdanaanugrah mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar