kumpulan puisi cinta , memoar, "tulis tulis saja"

Masih dengan kumpulan puisi cinta, yang mengentalkan memoar nan lugas hingga hari ini, meskipun menandainya dengan "tulis tulis saja", inspirasi kumpulan 7 puisi cinta berikut mulai tertulis sejak 1999, ketika dunia selalu saja luput dari genggaman, termasuk rindu yang tak pernah berpihak, dan kemenangan hari ini hanyalah karena aku menyisahkan teks yang setiap saat dapat mengingatkan masa lalu itu, dan ku-membacanya hingga mabuk.

memoar bulu mata-mu 
Aku ingat kembali
bulu matamu yang lentik dan
kembali ingin sekali meniupnya, ahh......
aku bayangkan saja telah menemuimu dan........
melakukannya ...
lagi....... 
kumpulan memoar puisi cinta

~Sepi~
Sepi adalah lidah api yang menjilat-jilat
Terdesak pada sudut-sudut gelap tempat segala perih
di tenggelamkan
Wajah wajah bersetubuh, bugil, dingin, penuh ilusi ..imajinasi
Disini terkubur lalu terlahir kembali, sebagai kata dalam “sepi..”

Rindu-Nya
ia, merindukanmu
silet bermata lebar, menatap paha, leher, matamu…..
tapi..kemana pergimu ketika sesosok tubuh, 
pucat meregang tanpa nyawa,
ia silet menembus jeruji besi, mencarimu……
__________________________________
Pangeran dengan pedang ditangan menyelamatkan aku dari sebuah kurungan, aku benar-benar menyadari ketika sebuah jari lembut memapahku dengan kasih, sulit meminta berhenti sebelum benar-benar pagi
karena malam itu aku adalah wanita.

Film…. 
(suatu sore bersama kucing kesayangan)
Suara dari backstage:pilu dan jerit…
si pelacur menangis hingga demam, sebab ikan 
pemberiannya hasil nglacur,
tak disantap, mulut yang 
sering mengusap jari telunjuknya berbusa


*Puntung Rokok
tumpukan puntung roko’ di asbak semalam,
adalah cerobang dari keringat kata yang menetes,
setelah sebelumnya ia berlayar dan tersesat sendirian ,
ketika fajar menggelar subuh,
... tumpukan puntung roko’ di asbak semalam, dalam bisu…,

”sejuta kata seperti hendak diteriakkannya “

Pesta Semut 
Gerak angin  menggetarkan daun…. kusangka peluru melesat, 
seseorang yang sedang tidur teriak “akh…”,
sebuah lubang berdarah di jidatnya,

ia terbangun di siang itu lalu membasuh muka, 
"kukira jerawatnya sedang meledak",
ia menatap cermin tak percaya
:baru saja semut pesta di wajahnya……..
_______
kaimuddin mbck-Maros

Gejolak hijau daun teh menuai disepanjang perkebunan, tentang rindu yang tercecer dikelok jalan penuh lubang, juga tentang janji yang tertinggal pada bunga edelweis, sebuah kans ....memelukmu ke dua kali tanpa satupun sandiwara (seperti temu awal itu), ya sangat alami bebukitan dan kotamu melukiskan cerita apa adanya...: aku ingin membeli lebih banyak bunga juga markisa juga tak lupa membeli hatimu, hihi....kau sukaa ya_ by Malino
kumpulan puisi cinta , memoar, "tulis tulis saja"

{ 3 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

ANITA SARI XII IPA 1 mengatakan...

ass..........

Pak saya ambil puisi diatas yg judulx "Sepi" Sebgai tugas apresiasi...........

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

silahkan

Anita sari XII PA 1 mengatakan...

SEPI

Sepi terasa tanpa hadirmu malam
Tak da bintang tak ada bulan
Senyumku yang dulu riang
Kini sirna tanpa bekas
Daun-daun yang tampak dimalam hari
Kini lenyap entah kemana
Sungguh sepi yang kurasa malam ini
Jantungku berdetak lebih kencang
Menaksikan tiupan angin yang menggoyah batin
Sungguh aku takut karena sepi
Sepi...sepi...sepi

Posting Komentar