Respon atas Kritik Pada Peng-gunaan terhadap "Bahasa Pasar"

yuk tetap berbahasa resmi di pasar ?, pengetahuan atas bahasa tak patut membuatmu demikian, bukan berlebihan ketika , aku sendiri mengira bahwa aku sedang tertidur saat pembagian bahasa baku sedang marak orang dengar dan komunikasi-kan, setelah sunyi semalaman membaca beberapa catatan dan mengintroduksi hasil revitalisasi budaya lokal kedalam postingan fb, sengaja memilih bahasa pasar karena sesuai ideologi dan karakter diriku yang bersosiasi dengan habitat ke-pasar-an dan pinggiran sungai, juga sebab kebanyakan teman, kakak serta adik-adikku, yang juga nge-baca nih postingan lebih pada:" inginKu mudah, " mereka pahami /pannessai dan merasa lucu juga merasa mereka pembaca bertemu habitatku pula ", maka menuailah Respon atas Kritik Pada Peng-gunaan terhadap "Bahasa Pasar yang memenuhi teksku.

Respon atas Kritik Pada Peng-gunaan  terhadap "Bahasa Pasar"

Lebih pada, ya tulis tulis saja, juga bahwa puisiku (yang anda anggap puisi) sedang aku-sendiri belum anggap puisi), masih membidik pasar dan pinggir sungai sekaligus penggunaan teks yang sangat tidak boleh mengikatku, tanpa peduli keterikatan berbahasa skala linguistik / baku nasional, yah…dengan bahasa apa adanya lebih sering kukenali ujud sepi ini, meski ia mengendap dan tumbuh sendiri, wajahkupun kau temukan dalam pesan, “kegairahan cinta”, juga tentang dunia yang sedang terbalik mungkin ?, atau mengoreksi banyak hal dengan memelintir bahasa, adalah nyawa bahasaku, ya sering bilang "apaji, awwe, nak sambala... dll)

Mungkin ini sebuah dorongan dari pasar dan pinggir sungai habitatku, (tempatku makan dan berak), sebagai faktor keterwakilan sebuah catatan, haha..ha…aku bahagia mengatakan ini, meskipun dalam jarak, pun selalu dengus angin mengirim berita dengan terbata-bata kalau kalau bahasa pasar yang aku / juga mereka (mungkin) gunakan telah di legalitaskan dalam idiom bahasa Indonesia baku/ resapan dari bahasa daerah, semisal idiom : pete-pete, curuk, palak, telekan dll.

Berdampingan dengan jurnalis dan media jejaring sosial, seperti twitter youtube,  facebook dll, kupantau..., mereka turut memperluas penggunaan bahasa pasar. sebuah kewajaran ya...?, juga kekuatiran lemahnya "bahasa baku kita" (ngajak sepakat, hihi..hi..) ku- titip saja pada mereka sebagai penyebab utama.(haha..ha..ruhku sedang keluar dari mengguna bahasa baku) ku sedang enak disini "meng-guna bahasa pasar".Detik, Menit.. Jam..Hari..Bulan..hingga taon..= selama apaPun Engaku menunggu q, q tak kan BERUBAH…karena q bukanlah PoweR RangErz..

Dunia tempat kita seorang diri, sebuah bentuk yang tak terlihat, jadi nyata juga tanpa bahasa asing / tanpa harus buka kamus, kau utuh ke dalam rindu ku juga rindu kita : jika kau mengangguk.Aku mengajakmu kesebuaah pahaman bahwa “mengikuti keinginan pasar adalah salah satu upaya mendekatkan diri dengan "khalayak pembaca", sehingga muncullah bahasa sehari-hari atau bahasa pasar, atau nyaman dengan istilah" ya tulis tulis saja"

{ 2 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

nurarifah_azzahra mengatakan...

he..he...masitta tongeng...tapi merakyat (like this postingan)

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

awaski nah....cantee...

Posting Komentar