kau boleh menamai atau memanggilku "batu"

Ketika aku konyol dan tolol, seluruh maumu tak kuindahkan sama sekali, alur sedang melambat sayang, yah..kekurangan sedang berlangsung dan penuh kesan mengada-ada, tapi aku tak sempat "bohong" pada keindahan yang harus kutanggapi dengan pengertian yang benar, meskipun indah itu belum juga dapat ku-teriakkan...?, duh..jika kau desak sebab "belum" kuteriakkan indahmu : kau boleh marah dan  menamai atau memanggilku "batu".  

Dalam diam batu tak dihirau ombak juga usikan angin, aku digerak arus mengurai lengkung isarat di tubuhmu, hingga kupahami sepenuh jarak juga se-teriak, antara isi hati dan jarak pikiran-mu.  Namun ruang cinta kadang terlalu kaku dan munafik sayang..., aku batu diam dan begini-begini saja, ya aku bukan pemilik kesempatan untuk senantiasa mampu menghiburmu. Begini hujan bikinku konyol dan lembab sayang..,  seisi kulitku di penuhi lumut-lumut halus...mungkin esok atau entah...?, tapi dapat saja melekat serupa tisu di keningmu, jika kau mem-basuh keringat atau hujan_ aku lumut atau...?, ah...aku masih konyol sayang..., panggil aku "batu", atau aku melempar diriku sendiri ke pangkuanmu?_
_________________
kaimuddin mbck, di pinggir sungai marusu
"Segalaku Batu Bete"
malam dan kusangat bisu, kaupun memanggilku "batu", mungkin itu
Sebuah Pernyataan dan aku tak melupakan itu
 aku batu di titik koordinat tak melukai tangan dan kaki
juga tanpa gelisah, Cinta membatu-pun masih seserpih emosi tak dibuat-buat, ya rasakanlah  sebelum menuliskannya dengan jujur, ”Menjadi batu tak membuatmu rumit, dan menegas bahwa aku bukan seperti pikiranmu..., maafkan : aku batu
keris dari batu
menjadi batu tak perlu  belajar untuk sedih apalagi meminta maaf kepada hidup. Tempat ini terlalu hujan untuk ditanam air mata, dan terlalu sempit untuk diisi penyesalan. Santai saja ya..jika ada yang ngebuatmu marah "aku batu yang bebas tafsiran", kau boleh melemparku padannya

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar