Kau Boleh Menamai atau Memanggilku "Batu ..."

Sabtu, September 29, 2012

Ketika aku konyol dan tolol, seluruh maumu tak kuindahkan sama sekali, alur sedang melambat sayang, maklumlah, sebab kekurangan sedang berlangsung dan penuh kesan mengada-ada, tapi aku tak sempat "bohong" pada keindahan yang harus kutanggapi dengan pengertian yang benar, meskipun indah itu belum juga dapat ku-teriakkan. " batu.." kau boleh memanggiku demikian..

Rindu yang batu, ia bahasa kematian sayang, kalimat bahkan kata-kata itu sudah berlumut dan dingin, bahkan ia telah terkubur Jika kau desak sebab "belum" kuteriakkan indahmu",  kau boleh marah dan menamai atau memanggilku "batu".

Dalam diam batu tak dihirau ombak juga usikan angin, aku digerak arus mengurai lengkung isarat di tubuhmu, hingga kupahami sepenuh jarak juga se-depa titik, antara isi hati dan jarak pikiran-mu. Namun ruang cinta kadang terlalu kaku dan munafik sayang..., aku batu diam dan begini-begini saja,
ya aku bukan pemilik kesempatan untuk senantiasa mampu menghiburmu.

Saat-saat aku batu
Sore dan se-begini hujan,  tanpamu aku batu lembab sayang.., seisi kulitku dipenuhi lumut-lumut halus...mungkin esok atau entah...?, tapi aku lumut di batu yang dapat saja melekat serupa tisu di keningmu, jika kau mem-basuh keringat atau hujan_ tulis-tulis ini dan sedang konyol sayang..., panggil aku "batu", atau aku melempar diriku sendiri ke pangkuanmu?_



Di pinggir sungai Marusu , segala batu kokoh berdiri ratusan tahun, diterjang gelombang disengat mentari ia batu yang menjaga hamparan pantai agar tak tergerus, btu yang serupa perasaan tak lelah menatap samudra memandang jauh ke depan untuk kelangsungan habitat 

Biarkan lumut menghinggap melicinkan penderitaan sebagai
santapan biota laut sekitar, lihatlah batu itu tetap berdiri kokoh di
sepanjang pantai nan eksotik tegar berhadapan dengan
semua iklim menjalani takdir,
sesekali petang ia sirna hanya sesaat tertutup pasang air, namun
kembali muncul menatap sang malam dengan bisu.

Jika kau memanggilku "batu", maka pernyataan itu kuanggap  titik koordinat yang tak melukai tangan dan kaki juga tanpa gelisah, sambil bermain kau boleh menginjaknya, dan resapkanlah seserpih emosi tak dibuat-buat, ya rasakanlah sebelum menuliskannya dengan jujur,

 ”Menjadi batu tak membuatmu rumit, dan menegas bahwa 
aku bukan seperti pikiranmu..., maafkan : aku batu dalam puisi

Keris Bahan Batu
Menjadi batu tak perlu belajar untuk sedih apalagi meminta maaf kepada hidup. Tempat ini terlalu hujan untuk ditanam air mata, dan terlalu sempit untuk diisi penyesalan. Santai saja ya..jika ada yang ngebuatmu marah "aku batu yang bebas tafsiran", kau boleh melemparku padannya
_________
Kassi, Batu di Bantaran Sungai "Marusu"_2012

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images