Pendidikan Revolusi ke "Pelayanan Tanpa pamrih" Untuk Indonesia

Berita Pagi kamis ramai membincangkan "hari Ibu", sedang aku menulis topik lain yaitu tentang "pelayanan tanpa pamrih", terpikir bahwa tema "Ibu": anda juga orang lain telah menulisnya penuh tinta kasih untuk sosok yang sama kita cintai, yaitu "Ibu". Tapi pernahkah terpikir bahwa sebab kecintaan kita padanya karena sebuah "pelayanan tanpa pamrih"__ catatan ini seperti biasa ya tulis-tulis saja, berawal dari duduk merenung dengan mata terpejam dalam kamar yang senyap, kemudian ke-pengembaraan peristiwa kekinian yang akhirnya menyeruak dalam dimensi sadar, "sebuah gejolak sosial dalam lintasan pikiran, menghamparkan penderitaan, kekacauan juga keakuan yang berjalan-beriring.
 
Pendidikan ke "Pelayanan Tanpa pamrih"
Sesuatu yang bertolak belakang dari tujuan solutif kearifan ilmu adalah ke-mampuan  menempatkan kepentingan diri pribadi lebih rendah, dari kepentingan orang banyak, korelasi dari hal ini secara jamak adalah upaya menghidupkan pelayanan yang tanpa pamrih.  yah.. pelayanan tanpa pamrih ini merupakan kekuatan terbesar guna menginspirasikan dan meningkatkan manusia pada jenjang evolusi batiniah yang lebih tinggi. kesadaran ini mengantarkan pada pengembangan karakter menyeluruh ke sifat lebih manusiawi, pertumbuhan hal luhur ini mengakibatkan kebangkitan spiritual secara spontan. Pelayanan yang tanpa pamerih, benar-benar merupakan upaya yang paling essensial untuk ber-regenerasi secara fisik, moral dan spiritual bagi kaum muda dunia. 

Tanpa mengembangkan kebajikan yang mendasar ini, orang tak dapat memimpikan tentang realisasi Tuhan, disamping memahami Ke-Esa-an-Nya (sebagai pemberi, petunjuk, hidayah dan segala sesuatunya), implementasi dari kemurahan Allah swt, kepada seluruh makhluknya, menyebabkan sifat keluhuran demikian semestinya menjadi evolusi kedalam sifat-sifat manusiawi kita dalam perasaan kesepadan  kesetaraan, kebaikan hati, kemurahan hati, persahabatan, penyesuaian, kerendahan hati dan kepolosan. di era modern ini, hal demikian merupakan sikap yaang aneh, tetapi gejala demikian banyak di temukan dalam bacaan dan kisah-kisah yang dijadikan konsumen hati bagi para Sufi. 

Tidak ada peluang spiritual yang lebih besar daripada kesempatan untuk melayani dengan tanpa pamerih. Seorang dokter yang merawat pasien tak-mampu/miskin, yang datang di tengah-malam buta tanpa bayaran, sesungguhnya  lebih luhur dibanding seorang  yang melakukan puasa senin kamis, yang tetap diam ketika ia melihat seorang miskin yang kelaparan dan dalam keadaan sekarat, namun tanpa pernah mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati kepadanya, tanpa sekedar bertanya, "Saudaraku, apakah yang engkau mau? Dengan cara bagaimana saya bisa membantumu?" , misalnya pelayanan-pelayanan sederhana seperti inipun sudah sangat berarti bagi hati.., hati semua orang , termasuk hati semua agama.
______________
kaimuddin mbck > Hari Ibu, Pendidikan Revolusi ke "Pelayanan Tanpa pamrih" Untuk Indonesia

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar