Sore Hujan tak Reda, Antarmu Sampai Disini

sekali itu,  sore sedang hujan tak reda dan kita biarkan sesuatu semaunya terjadi. ya sebuah sore yang mengekal dalam ingatan dan puisi.
1. Sore dan hujan yang kita biarkan, maka : Sore yang manis dan begitu saja masuk ketenggorokan juga sore yang mengajakku kekamar mandi, sore yang menyimpan senja di matamu. Sore...yang mengajak bergegas melupakan  hujan yang tak reda. SEBAB Jika terus di sini maka waktu dari tetes kata akan melupakan kita tentang hari-hari, melupakan menyebut apapun, bahkan membiarkan mengalir sebagai pesan yang entah sampai padamu atau tidak, dan ketukan seterusnya adalah warna cuaca gelap seperti biasa, seperti sore itu kau berpayung dan pergi dgn kostum sma-mu kuyup, uh...( kutatap punggungmu terakhir kali yang ditemaramkan kabut, aku tak melupakan itu..., CUKUP....!!!, aku benci sore itu_sore taon 2000

2. Sore cerah seperti hari ini, lebih baik bahkan kita masih merasa perjaka dan perawan, sore yang melupakan segala sunyi, sore yang menandai cerah baju dan rambutmu yang segimbal...dipaksa lunglai oleh pita. (jadul taon 2000 an) ya dan sore yang lebih sering mengentalkan temu, haha..ha.., dan "baju seragam sekolah milikku yang selalu lusuh jika usai mengantarmu", bilangmu...haha..ha..

3. Sore ketika kita saling beringsut pergi

Sore, hujan tak reda, mengantarmu sampai disini
sore terakhir dan  hujan tak reda,
kota raja adalah jalan yang tertindih batu-batu hujan, menghantam bumi dengan bulir-bulir pasukan air yang sangat kasar, kita memicingkan mata dan saling melepas, ya...tanpa pelukan.

sore hujan tak reda, sejenak melupakan isarat yang menjadikan-mu selalu ada, aku hanya mengantarmu sampai disini*, tanpa hujan dari matamu
__________
kaimuddin mbck "di cafe buana hujan deras sore ini" (tiba2 ingat perempuan itu...ia Siti Ngaisatun dengan sedepa memorial)
aku hanya mengantarmu sampai disini* > (waktu itu) sebuah keadaan  yang tidak signifikan jika saja selalu di selaras-laraskan seumpama aku laut, kamu ikannya, saya  kumbang kamu bunga-nya, saya jadi matahari kamu jadi bulannya, kalo saya jadi tarzan, masa sih kamu mau jadi monyetnya?
____________
Senja sore itu terlihat murung ... setengah tubuhnya seperti ditelan gelombang, senja yang tak nikmat, kecuali : kecuali karena kata harus melahirkan puisi.

Aku pecinta biasa yang mengantarmu sampai disini, meski tak kupungkiri matamu lebih kilau dari jingga, juga lekuk pelangi indah keningmu saat kau tertidur. Oh perempuan silam....kau sungguh sialan..."ijinkan aku untuk mencintaimu berkali-kali
nanti d sambung...
________

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar