Dunia pendidikan ke Pelajaran "Temuan situs-situs Spiritualitas"

Mengenal "siang" pangkep dan harapan ke penerbitan "kurikulum Budaya lokal", Temuan musik tradisi berpartitur dengan nama gendang-gendong,  pesan-pesan kebajikan yang terasa sakral spiritual lewat instrumen suling lontara, mengenalkan nilai lama  kearifan lampau  dalam menunjukkan kecakapan (gengang-gendong) dan peran pembinaan akhlak,(pappaseng dengan  intrumen suling) sungguh masih sebuah impuls fitrah dari pemikiran masyarakat tradisi, mereka menggerusnya  padahal ia hanya butuh ruang kecil

"Jarummako naikambe bannang panjaik
Terjemahan: Jarumlah engkau dan kami adalah benang penjahit / sebuah kepercayaan penuh yang diberikan oleh masyarakat kepada kesadaran psikis/moral. juga hapan pada kepada  seorang pemimpin arif yang dicintainya. (dialog usai workshop "pengembangan musik  dan tari tradisi di kab. Pangkep)

Rekaman kehidupan masa lalu yang justru mulai menjadi tren atas kehidupan manusia masa kini, (mengatakan hal serupa tadi > ku-memberangus kePD an-ku, maka pengejawantahan kearifan lokal sebagai ruang yang mesti menguat, kerja-kerja revitalisasi ini kuanggap saja sebagai kerja cinta yang jika kamu mencarinya, dia akan menghindarimu, tapi jika kamu jadi orang yang pantas dicinta, dia akan mengelilingimu, upsss.. menandai dialog pertama bissu pada dewata seuwae.....

Keberagaman siklus peristiwa yang terjadi di muka bumi, antara harapan dan kenyataan. sedih dan suka cita biasanya menjadi respon yang merefleksikan sikap kita terhadap peristiwa hampir setiap waktu, kita dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang mempertontonkan pertempuran dalam urutan statistik, karenanya dalam kilas balik kehidupan ini menggerus perlahan-lahan ke-lemah lembut kita, menjauhkan dari melembutkan hati, meskipun dikatakan oleh psikologi bahwa kelembutan sungguh lebih keras dari batu batu dan perkataan yang kasar atau perkataan yang akan mengasarkan hati, sebab kelembutan itu lebih halus dari sutera juga lebih tajam dari pedang...

ke pendidikan situs dan kertas
Reaktualisasi dari mengikuti kefitraha-an hati dalam kelembutan (terutama)/ ke-reaktualisasi) kasih sayang Tuhan, "seolah kau merasakan rahasia dunia-haqi, yang penuh dengan teka-teki. tapi a kau  berhasil memecahkan satu teka-teki-Tuhan, bahwa dunia ini ada dalam mainan jari-jemari-Nya, bahwa tugasnya melakukan apa yang kamu mampu, bahwa semua peristiwa itu hanyalah mengikuti kehendak-Nya (amanah > ketika kamu merasa pendapatmu tak didengar, ketahuilah bahwa kamu tengah belajar tentang cara menghargai_dan Allah adalah Basirah...yang memprioritaskan pada  kepentingan kebajikan dan maslahat-nya untuk orang banyak. "lettu ri parapiI nawa-nawa deE narapiI nawa-nawa".

lounching buku "kearifan Budaya Lokal"
Spiritualitas dan penemuan situs-situs dari masa lalu

Ketika kita bicara tentang Spiritualitas dan penemuan situs-situs dari masa lalu, itu artinya kita juga bicara sebuah Psikologi Simbol dan Psikologi Kisah. Bagaimana pun, semua yang kembali dari masa lalu ini merupa dalam simbol dan kisah yang di dalamnya mengandung pesan atau nilai. Inilah sudut pandang penting yang perlu disadari. Hingga "Ri aherak sallang taua aklipak gauk ngasengi
Terjemahan: Di akherat nanti semua manusia memakai sarung perbuatan / Semua manusia bangkit dari kuburnya sesuai dengan perbuatannya di dunia.

Lantas, apa pentingnya kita membicarakan Simbol dan Kisah? Ada dua hal penting di sini: Pertama, manusia adalah mahluk yang hidup dan dihidupi oleh simbol,Kedua, manusia adalah mahluk yang menarasi. Masing-masing dari kita adalah sebuah narasi.

Esensi dari simbol dan kisah selalu hadir sebagai pengganti dari sesuatu yang tak dapat hadir. Apa yang tak dapat hadir sehingga mewakilkan dirinya lewat simbol atau kisah? Jawabnya: Makna!. Ketika membahas makna, kita perlu waspada. Sudah terlalu sering orang menyampur-adukkan antara makna dan kebenaran. Makna sama sekali berbeda dengan kebenaran. Makna adalah sebuah kebernilaian yang membuat sesuatu, apapun itu, tak menjadi kosong belaka. Tapi, tak pernah ada sebuah kebenaran tunggal untuk makna, setiap makna meski datang dari sebuah simbol yang sama, ibarat surat, memiliki tujuannya sendiri-sendiri, Pakmaik bajik nibalasak santang, Terjemahan: Budi baik balasannya adalah nikmat

Berikut dari .terbitkan buku Subhanallah... memang bukan rahasia, " segmen-segmen pentasilabik serta unsur-unsur lain yang terkandung berupa simbolik didalamnya tersusun dengan kecerdasan linguistik sangat khas sekaligus pariatif. Paling tidak, untuk mengerti bagaimana naskah ini disusun dan ditransmisikan kepada generasi ke generasi, tentu dengan paparan wilayah linguistik yang mudah dipahami atau dengan istilah Bugis “Malomoi/masitta i’ risseng pakkielo’ na pasengnge namancaji akkatenningeng”.Demi kebersamaan melahirkan kembali kosmos kearifan budaya lokal ini, mari membawa diri kita sendiri ketempat berpijak, sejajar, sederajat pada keluhuran cita-cita, masyarakat lampau kita. kaimuddin mbck, Maros, 18 juli 2011"dalam pengantar buku kearifan budaya lokal"

Tujuan  "Temuan situs-situs Spiritualitas" 
Agar suatu makna sampai pada tujuannya, dibutuhkan penuntun. Nah, penuntun inilah yang akan kita temukan dalam pembahasan temuan-temuan purbakala dan kaitannya dengan kebangsaan atau Indonesia. Barangkali di sini lantas muncul pertanyaan, penuntun menuju ke mana? Untuk siapa? Dari siapa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ijinkan saya mengutip sebuah komentar dari pak Denny Nicholas di wall acara ini di Facebook. Komen pak Denny itu pun mengutip kisah Syech Siti Jenar. Kurang lebih begini:

Seseorang bertamu ke rumah Syech Siti Jenar dan terjadilah dialog berikut
Tanya: Saya mencari Syech Siti Jenar?
Jawab: Syech Siti Jenar tidak ada yang ada Allah
Tanya: Kalau begitu saya mau mencari Allah
Jawab: Allah tidak ada, yang ada Syech Siti Jenar.
Kutipan kisah itu sebenarnya kental salah satu prinsip sufisme: Aku mencari diriku dan hanya menemukan Allah, Aku mencari Allah dan hanya menemukan diriku.

Michael W. Fox, dalam buku Meditation with Animals, mengatakan bahwa saat ini kita nyaris kehilangan kontak dengan bagian dari diri kita sendiri, yaitu bagian yang resonansinya menghubungkan kita dengan mahluk hidup lain dan juga dengan alam semesta. Bagian dari diri kita ini sebenarnya memiliki kekuatan yang memampukan kita mengalami kesatuan spiritual antara keberadaan diri kita dan keberadaan segala hal lain di semesta. Kesatuan yang membuat kita mampu memahami bahwa di satu titik kita dan semua bentuk kehidupan berada dalam satu asal dan penciptaan.

Pencarian semacam inilah yang membutuhkan penuntun. Dan penuntun itu ada di sekeliling kita dalam bentuk simbol dan kisah. Artinya, untuk sampai pada makna, dibutuhkan pembacaan. Bacalah!, maka kau akan sampai pada kedalaman di mana makna ditemukan. Seperti juga tertulis dalam Injil Yohanes 1:1 yang berbicara tentang penciptaan semesta, di situ tertulis en arche en ho logos. Pada mulanya adalah Yang-Terbaca-dan-menjadi-pengetahuan atau logos. Maka itu, kehidupan di semesta ini adalah soal membaca hingga mencapai suatu kedalaman makna.

Lantas, sampai seberapa dalam suatu pembacaan bisa sampai pada makna? Kedalaman sebuah pembacaan, sebenarnya tak lepas dari seberapa dalam seseorang mampu mengakses dirinya sendiri. Ada sesuatu di kedalaman diri tiap orang, yang ketika banyak orang mampu menemukannya, maka akan membawa pada masyarakat yang lebih baik. Mengutip Lao Tzu, di situ dia mengatakan ”Memahami orang lain adalah kearifan, memahami diri sendiri adalah pencerahan”. Di sinilah saya akan masuk pada topik utama saya yaitu bagaimana menemukan apa yang terdalam dari diri, atau di sini saya istilahkan sebagai citra Ilahi.

Analitik Pendekatan perkembangan kejiwaan siswa sekolah

*Satu Kebanggan saya hari ini karena_
Kebanyakan pelajar yang bermasalah menceritakan kesemua masalah UTAMA mereka kepada saya...,..tetapi mereka tidak pernah atau sangat sedikit, menceritakan masalah tersebut kepada ibu bapa mereka sendiri.
" bapak kami kemana ya sedang kami berminat dan apresiasi terhadap seni budaya,  tapi kami sama saja dgn di kerangkeng pak..jika tak ada prasarana tuk pemgembagan .... ttak ada gedung kesenian itu biasa pak.., tapi keringanan pajak untuk pertunjukan seni ?, haha..ha...(catatat saja bahwa  banyak sekolah tak mampu mengapresiasi pmblajara budaya lokal musik dan tari sebab,....."

Mendengar perkara-perkara tersebut di katakan oleh guru-guru pend,seni budaya,, tidak mngasyikkan, atau dilakukan oleh golongan dewasa sahaja, tetapi perbuatan tersebut bukan lagi perkara yang mustahil untuk dilakukan oleh pelajar sekolah pada zaman ini. cerita serba-sedikit mengenai pengalaman saya mengendali pelajar yang bermasalah, sebab mereka suka dan hidup dengan musik industri ala...*profil band korea_

Seniman tak perlu baliho juga gedung, what... ?
Beban sangat berat untuk menampilkan kreativitas dan karyanya karena semuanya dibebankan kepada seniman, tanpa dukungan pemerintah.
Radhar mencontohkan, jika dulu untuk pementasan teater memakai gedung pertunjukan tak membayar, sekarang untuk geladi resik saja harus bayar. Baliho pertunjukan juga demikian. Tidak ada keringanan pajak dan retribusi yang diberikan kepada seniman saat menampilkan karyanya. ..... solusi atas persoalan ini ?
__________
kaimuddin mbck " esai Dunia pendidikan ke Pelajaran  "Temuan situs-situs Spiritualitas"

*Jendra/ kefitrahan adalah : Bisa dipahami sebagai kemuliaan atau sesuatu yang bernilai namun sifatnya imaterial, sesuatu yang samar. Bisa pula dipahami sebagai rongga dada, yang kerap dipahami sebagai gerbang menuju ‘rasa sejati’.

Dunia pendidikan ke Pelajaran "Temuan situs-situs Spiritualitas

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar