Wajah pendidikan hari ini, meretas dalam syair, diiring Pentas Musik Balada di acara KOPEL" (Komisi Pemantau Legislatif), Tapi sesuatu yang kita bangun hari ini mengerang dan kita tetaplah orang-orang kalah tak bisa bicara, lagu balada ”menanti batas…..batas segala yang tidak ada batasnya, menanti akhir…akhir segala yang tidak ada akhirnya, waktu berlalu waktu berpacu)

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini , Tidak ada pilihan lain. kita harus berjalan terus, karena berhenti atau mundur berarti hancur,Apakah akan kita jual keyakinan kita,Dalam pengabdian tanpa harga, Akan maukah kita duduk satu meja,Dengan para pembunuh tahun yang lalu, Dalam satu kalimat yang berakhiran,”Iye Karaeng, Iye Puang ?”
Tidak ada pilhan lain. Kita harus berjalan terus, Pendidikan kita serupa bocah bermata sayu, yang ditepi jalan,Mengacungkan untuk oplet dan bus yang penuh, Kita adalah berpuluh juta yang bertahu hidup sengsara, Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hawa, Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka, Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan, Dan seribu pengeras suara yang hampa suara.
(Lagu balada (dengan iringan percusionAku belajar melihatmu setelah matahari tak mengajarkan cahaya dan malam tak …….tapi ketika mereka…dst)
Tidak ada pilihan lain.kita harus berjalan terus. Di tempat ini telah dipahatkan kemerdekaan, mengLIRLAH….KARENA laut cukup pintar mengantarmu pada pantai yang tepat….. Siapakah guru para matahari ? Dia orang yang mengajarkanmu, menapaki ilmu sepanjang hari, Yang tak peduli pada uang Tapi berjuang bagi otak dan akhlakmu……..
----------------------------------
di abadikan sebagai teks Pentas oleh : crew Maros Budaya Pappsaeng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar