Dialog CALEG "mengapa harus memilih ?"

Calek bisa menjelma Setan politik transaksional, sedang perlawanan terus melemah atas pola dan strategi pemenangan. Sebuah era yang terlindas oleh symponi ambisi diri, negeri kemarau dalam sengangar yang berdebu, turun sepanjang gunung lalu mengerang pada kota tempat anak-anak kita dilahirkan_

dialog yang berkelanjutan dengan tema "bagaimana harus memilih ..?", lalu sesi dialog caleg prov sulsel wil 6 selanjutnya dengan tema "pemilu legiselanjutnya Dari mana kami harus memulai lagi belajar memahami pilihan kami ? Setiap hari kami mengeja tatatan kebajikan , mengingat percakapan-percakapan. Tapi yang kami hitung hanya orang-orang mempercepat pilihan lewat telepon juga amplop,yang kami hitung hanya orang=orang berburu impian yang ingin segera diucapkan. : dan kami tak paham kenapa semua pilihan membiarkan kami meraba- raba sendiri di rahang rahasia. Ah…pilihan yang resah dan  konyol.

sebuah kebutuhan yang paling mendasar untuk memantapkan diri menjadi calon anggota legislative terpilih. Secara umum pola dan strategi pemenangan ini dapat dipastikan sudah di dipersiapkan sejak awal oleh masing-masing calon anggota legislative tingkat kabupaten kota, provinsi, hingga tingkat pusat, dengan tujuan agar bisa mendulang suara sebanyak-banyaknya. Dalam proses penyusunan pola dan strategi pemenangan ini, para calon anggota legislative umumnya menitikberatkan pada upaya mobilisasi suara lewat money politik sebagaimana yang terjadi pada pemilu-pemilu legislative sebelumnya, namun dalam pelaksanaannya, pola dan strategi ini tidak cukup efektif untuk mengantarkan calon yang bersangkutan menduduki kursi lembaga legislative.

Pola dan strategi seperti ini sesungguhnya cenderung hanya membentuk masyarakat (pemilih) untuk berpikir praktis (politik transaksional) yang tidak hanya merugikan calon anggota legislative yang bersangkutan tetapi juga merugikan masyarakat (pemilih). Sebagai contoh, banyak di antara caleg yang sudah mengeluarkan dana yang sangat besar, namun hanya mendapat suara kecil atau dalam arti kata bahwa dana yang di keluarkan tidak sebanding dengan jumlah suara yang di dapatkan. Banyak di antara calon anggota legislative melakukan sosialisasi melalui diskusi, pertemuan maupun pemasangan stiker, baliho dan kartu nama yang sebanyak-banyaknya, tanpa memahami karakter dan budaya masyarakat yang menjadi calon pemilihnya.

Banyak di antara caleg terjebak pada hitung-hitungan angka pembagian sembako, uang maupun barang, menjelang hari H pemilihan, tanpa mempertimbangkan target dan kebutuhan masyarakat, dan banyak pula caleg yang hanya mengandalkan nama besar pribadinya maupun keluarganya (mantan pejabat, anak pejabat dll) tanpa memperhatikan persentase tingkat kesukaan atau tingkat penerimaan masyarakat. Tak bisa di pungkiri bahwa paradigma berpikir masyarakat kita selama cenderung terjebak pada asumsi bahwa hanya Caleg yang memiliki persiapan “UANG BANYAK” yang paling berpotensi terpilih menjadi anggota legislative, sementara yang tidak memili “DUIT” atau hanya memiliki “DUIT” pas-pasan, hampir dipastikan GAGAL, padahal kegagalan seorang Caleg dalam Pemilu legislative sangatlah di tentukan oleh POLA & STRATEGI pemenangan yang di gunakan.

 Politik transaksional dengan pendekatan Money Politics sudah semakin membudaya dalam setiap pentas pemilihan bukan hanya pada jabatan-jabatan politics saja akan tetapi seluruh perhelatan yang melibatkan massa dengan mekanisme pemilihan langsung, kondisi ini tentunya tidak boleh kita biarkan semakin membudaya dan tumbuh subur dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sebab akan sangat mempengaruhi kualitas pemimpin yang terpilih terhadap kepedulian dan tanggung jawabnya terhadap penciptaan perikehudapan masyarakat yang lebih baik. Masyarakat harus menyadari bahwa politik transaksional adalah desain yang sengaja diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kekuatan modal tetapi tidak memiliki visi dan komitmen yang jelas terhadap kesejahteraan masyarakat.

Jabatan politik yang diraih semata-mata digunakan sebagai alat untuk memuaskan sahwat kekuasaannya. Pada hal sesungguhnya jabatan politikyang telah diamanahkan oleh masyarakat adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan secara moral dan seluruh aktivitas yang dilakukan harus selalu berorientasi terhadap kepentingan masyarakat. Dari kondisi tersebut diatas maka Lembaga Pengkajian Strategis Salewangang (LEPASS) memandang perlu melakukan diskusi politik dalam rangka mendorong kesadaran masyarakat Kabupaten Maros untuk memilih wakil-wakilnya di DPRD Kabupaten,DPRD Provinsi dan DPR-RI pada pemilihan Umum pada tanggal 9 April tahun 2013 sesuai dengan Nurani dan memiliki kualitas dan komitmen yang jelas terhadap perbaikan tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan di Kabupaten Maros. 



MAKSUD DAN TUJUAN
 1. Kegiatan Diskusi ini adalah bagian dari pendidikan politik masyarakat Kabupaten Maros.
2. Menginformasikan dan menyebarluaskan kepada masyarakat akan pelaksanaan PEMILU tanggal 9 April Tahun 2013
3. Mendorong/Memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi/menyalurkan suara sesuai denganNurani dan tidak Golput.

HASIL YANG DIHARAPKAN
Diharapkan setelah kegiatan ini masyarakat meningkat pemahamannya terhadap pendidikan politik yang sebenarnya, diharapkan setelah kegiatan ini masyarakat semakin termotivasi dalam mengikuti tahapan Pemilu secara benar. Juga diharapkan setelah kegiatan ini masyarakat semakin terbangun hubungan emosionalnya terhadap Caleg.

NAMA DAN TEMA KEGIATAN
Diskusi Politik, Tema “Mengapa Harus Memilih” WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN Kegiatan ini akan diselenggarakan Pada tanggal 12 dan 25 Oktober 2013 yang bertempat di Warkop BAGAS Kabupaten Maros. PESERTA Ormas, BEM, LSM dan Masyarakat Umum

PEMATERI/PANELIS · Calon Anggota Legislatif DPRD Kabupaten dan Provinsi Periode 2014-2019 ·

{ 2 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Anak Bugis mengatakan...

Sebagian caleg klo ada maunya barumi nadekati masyarakat tapi klo sudah terpilih, bagaimana di !!!...

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar