demi cukup makanan di perahu nabi Nuh As

tradisi  awal  Muharram dalam Mappeca Sura' di  Kab.Maros,SulSel
Pappaseng deceng / syiar penyampaian amanah kebaikan juga dapat berupa simbol simbol religi dalam menghargai bulan Muharram ini,dengan membuat bubur hias dan saling berbagi makanan tersebut.
Dan bulan Muharram ini teranggap merupakan waktu-waktu  yang sakral : sebagai langkah awal dibulan pertama dengan memohon doa untuk keberlangsungan segala kebaikan selama 1(satu) tahun, dampak ini sebabkan pasar ramai pengunjung belanja.

demi cukup makanan di perahu nabi Nuh, As
Sejarah Peringatan Muharram
adalah nama bulan yang telah ditetapkan di Arab sejak pra kenabian, kemudian oleh Rasulullah saw,  perhitungan tahun ini diadopsi dan dilanjutkan, meskipun demikian, saat itu belum dimulai akan perhitungan tersebut,  sehingga tahun-tahun biasanya dinamai dengan peristiwa terpenting yang terjadi pada tahun itu, seperti tahun gajah, tahun kesedihan, dan lain-lain.

Tertanggapi perayaan Muharram ini  ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, perhitungan tahun itu dimulai dengan mendasarkan pada hijrahnya nabi saw dari Makkah ke Madinah.Indikasi peristiwa bulan muharram ini dari sebuah sumber mengatakan" bulan Muharram ini dinisbahkan sebagai peristiwa mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid.
simbolik perahu Nuh

Tradisi  Mappeca Sura' di  Kab.Maros,SulSel
Tetapi sumber lain mengungkapkan tentang tradisi Mappeca Sura' pada bulan Muharram oleh masyarakat Kab.Maros, dilansir merupakan makna simbolis dari sebuah kehidupan baru, "merasa hidup baru", keadaan ini mengantarai banyaknya penduduk yang mayoritas muslim di Kab.Maros, meramaikan pasar sore tadi dengan memenuhi keperluan untuk esok harinya, dan berbelanja (sore tadi) untuk keperluan Muharram besok menguat pendapat  bahwa "barang yang kami beli ini akan awet dan penuh berkah.

Adapun pendapat secara umum (menjumpai beberapa tokoh agama Siang tadi), menyimpulkan bahwa peristiwa memperingati 1 Muharram, adalah sebuah  penisbatan  meramu makanan agar tercukupi, dengan latar belakang mengenang sebuah pembuatan /memasak makanan demi ketercukupan bagi penumpang di perahu  nabi Nuh.as,  indikasi peristiwa demikianlah sehingga melahirkan simbolik menyiapkan peca sura/bubur, dimaknakan sebagai makanan yang mencukupkan, dengan membuat bubur yang dihiasi telur yg berwarna-i dilengkapi dengan udang ,kacang goreng dan tumpi-tumpi (kelapa yang telah digoreng disatukaan dengan ikan yang telah dimasak lalu dibentuk segitiga dalam keadaan telah di goreng).

Serba-Serbi Muharram
Simpang siur tentang mengadakan pesta pernikahan di bulan Muhararam (baik/tidak) ?, di paparkan oleh sumber* "bahwa Perkawinan mengikut pandangan Islam adalah satu amalan kebajikan bukannya amalan kezaliman dan maksiat, karenanya tidak ada larangan dalam Islam untuk membuat acara perkawinan di bulan Muharam ini.lanjut ia mengatakan, soal memilih seperti hari baik, bulan baik dan waktu yang baik untuk melangsungkan suatu perkerjaan maka tidaklah ada dalam ajaran Islam yang sebenarnya.Yang dikehendakinya ialah kita berserah kepada Allah karana tiada yang mengetahui segala sesuatunya dan yang tersembunyi kecuali dalam iradat Allah dan qadha dan qadarnya". Meskipun ada juga sekelompok pemahaman menolak hal tersebut sebagai tindakan kurang tepat karena 10 muharram dianggap sebagai hari berduka sekaitan dengan terbunuhnya cucu nabi tersebut)

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Muharram adalah nama bulan yang berasal dari tradisi Arab. Perhitungan ini dilanjutkan oleh nabi saw, tetapi tanpa disertai dengan berbagai muatan syirik. Sehingga perhitungan tahun ini menjadi khas perhitungan tahun Islam. Kesucian bulan Muharram tidak berkaitan dengan sakralnya bulan ini. "Kesucian bulan di dalam Islam hanya ditandai dengan larangan memulai perang pada bulan tersebut. tujuannya adalah untuk memberi kesempatan bagi jama’ah haji agar bisa kembali ke daerah asal masing-masing dengan rasa aman dan tanpa ada rasa takut diperangi".menurut Uztd. Amin lc.

lanjut Uztads Amin mengenang peristiwa,  saat masih bersekolah di Mesir, "ketika 10 muharram kami berpuasa karena sebuah peristiwa yang di abadikan Islam,yaitu tentang tenggelamnya fir aun, nabi yunus yg dikeluarkan dari hud /perut ikan paus dan kami dimesir dulu menganggap ini sebagai tahun hijrah dan pengertian tentang haram berperang pada bulan ini adalah pendapat masyarakat jahiliah Arab tapi tetap dianggap sebagai kebiasaan yang baik dan diadopsi kemudian pada pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab. sedang uzts Abdillah Sag (mengindikasikan Peca Sura sebagai makanan yang dapat di konsumsi segala usia sedang kebiasaan menyegaja berbelanja dianggap bahwa materi atau barang yg dibeli bulan ini dianggap tahan lama/kuat.
___________________________
kaimuddin mbck dalam " tradisi  awal  Muharram dalam Mappeca Sura' di  Kab.Maros,SulSel-

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar