Sore Yang Satiris : Esai

Pulang ke kampung halaman,  kejejak kota dengan nama lampau  “Marusu” ( kini Maros). Area dengan tipikal masyarakat urban,  yang mengekalkan ikhtisar budaya zaman batu  Leang-Leang, juga tebing dan  gunung kars yang sambung menyambung. Disinilah sentra kota dibelah oleh sungai, tempat bermain dan belajar  mengeja. 

Sore yang satiris, sedang muda-mudi di Taman Kota, dan komunitas dengan baju seragam yang berkuda-kuda, kutelusur hamparan kolam raksasa tempat riuh wisata kuliner PTB. Aku mulai  asing dan mesti membaca ulang bantaran  sepanjang sungai tempatku dahulu berenang. Kemana mereka ?, aku mencari habitat   Ibu yang mengekalkan kasih pertama kali yang juga mengenalkan bahasa dan seabrek pesan lampau Pappaseng. Ya kampung halaman itu kini tampak seperti  negeri yang sedang bertahan atas perlawanan hedonisme,  perlawanan atas sebuah budaya instan juga pergulatan media yang menoreh metropolitan. 

Sekian tahun di rantau memekik "rindu kampung halaman". Namun, kampung tak seperti dulu lagi, seperti  ketika  kanak-kanak  tak bersendal dan terjun mengakrab-i sungai, saat  sepulang ngaji dengan  tangan  menggenggam quran. Terngiang mereka selalu mengatakan "tabe" juga "iye",  dan dengan kesalahan secepatnya ia berucap "maaf" atau "millau dampeng". Kemana anak-anak itu ?. Sebentuk entitas otonom yang bergerak sendiri dan  menafsirkan apa yang dapat dipersepsi di dalam dan di luar dirinya. Kini tak terdengar mereka mappau rikadong/ bercerita  tentang ketabahan Bissudaeng, Pungkalapung, juga si Pue-pue, demikian senyap.

Aku rindu keceriaan anak-anak itu, saat sore hari mereka mengantar perjalanan mega-mega sepanjang  sungai hingga muara, yang pada akhirnya senja adalah petanda waktu  istiarah, bukan memulai kegiatan dengan domisili yang memenuhi cafe-cafĂ©, tayangan televisi yang memenuh mata juga atribut atribut yang melekat ditubuh mereka sebagai bentuk polarisasi kekuatan, kukira aku pulang dengan tergesa-gesa. 

Dahulu di bantaran Sungai Marusu, mengendap pedalaman yang tumbuh sendiri, aroma pesisir, bunyi ayam dan suara anak-anak mengaji di kolom rumah,  nuansa yang melekatkan senyum untuk melenggang jauh ke lubuk riwayat, ke-pesan attorioloang (leluhur ) "padallisuni' na' nakko mangaribini nrara i' setangnge", (pulanglah nak sebab jika maghrib syetan sedang berkeliaran), sebuah kesan yang masih tersisa dari memorial yang meng-abu. 

Bagaimanapun, saya termasuk dalam arus urbanisasi itu, seseorang  yang meninggalkan kampung dengan menganggap kota sebagai masa depan, lalu memaknai “pulang” dengan  tetirah ke kampung halaman untuk menghidupkan kembali kenang-kenangan. Aku pulang  tergesa-gesa, kutemui rinduku sebagai  tempat melupakan diri sendiri"._ Sang Baco.
______________
Kata Muh Arfah  dlm Sebuah Dialog 13 Jan 2019



Keangkuhan Sejarah : ESAI

Beratus kabar dikisahkan dan beribu sejarah terekam jejaknya, dan dengan itu kita tercengang

makan pula merupakan perilaku dalam sejarah, rangkaian nutrisi dalam  cara seseorang berpikir, berpengetahuan dan berpandangan _Foto :Makmur Radhika.

Namun, di  sebuah kota tak di ingat lagi meski zaman itu menandakan kota tersebut sangat subur, kota yang mengenalkan Dewi Istar, dianggap sebagai dewi kesuburan oleh orang Babilonia. Pemimpin Babilonia Raja Hammurabi (Sumeria tahun 4500 -2000 Pra Masehi), mengekalkan Babylonia dengan keangkuhan, disebutnya dengan "Gerbang Tuhan". Sebuah simbol kecongkakan  manusia dalam keyakinan. Dilerar Babilonia terdapat Gerbang Istar yang terkenal, kausalitas Tuhan  dalam  kitab sucinya  sebabkan  bangunan yang sangat mengesankan itu kini tertinggal puing-puing.

Beratus kabar dikisahkan dan beribu sejarah terekam jejaknya, dan dengan itu pemimpin adalah konstribusi wajah peradaban.

Memetik dari kaidah bahasa Arab : Kaifa matakunu yualla alaikum , (terj : seperti apa keadaanmu sekarang, seperti itulah gambaran pemimpinmu). Ungkapan  yang terasa sangat  etiks,  dengan relevansi  bahwa pemimpin adalah pemegang tampuk kekuasaan yang pasti mengendalikan, semisal kemudi perahu dengan nahkoda yang  menafsir arah, membaca rambu-rambu jalan, dan dalam strata sosial inilah  warna nasib jutaan manusia kelak mengarah ke-tujuan, sebagaimana  kehendak pemimpinnya.

Di tengah kita tentu ada  para cendekia dan pemikir yang kukuh namun-berjarak, dan tetap melihat dengan jernih akan kemana negeri ini membawa nasibnya.
__________
 Warkop Citta Marola 11jan 19

Honorer K2, Soal revisi UU ASN, pemerintah ???

Para honorer K2 jangan berharap revisi UU Aparatur Sipil Negara (ASN) bisa tuntas di tahun ini. Selain pemerintah tidak punya niat, kehadiran PP 49/2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) oleh sebagian anggota dewan dianggap sebagai solusi penyelesaian honorer K2.

“Sudah pasti tidak akan diselesaikan dalam waktu singkat. Kecuali kalau pemerintah benar-benar punya niat yang kuat itu bisa terealisasi,” kata Bambang Riyanto, anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI seperti diberitakan JPNN, Selasa (25/12).

Politikus Gerindra ini menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah tidak akan menyelesaikan revisi UU ASN. Sebagai lembaga pengawas, DPR tidak akan bisa bergerak bebas bila pemerintah punya keinginan menjadikan honorer K2 sebagai PPPK, itupun lewat mekanisme tes.

“Kalau kami konsisten berjuang agar revisi jalan. Namun, ingat membahas revisi itu harus disamakan isi kepalanya. Bersuara sampai serak pun akan sia-sia bila lainnya tidak mendukung,” ucapnya.

Sementara Wakil Ketua Komisi X DPR RI Reni Marlinawati mengungkapkan, soal revisi UU ASN, pemerintah tidak mau bekerja sama. Pemerintah enggan menyelesaikan masalah honorer K2 lewat revisi.

Itu sebabnya Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendesak agar seluruh honorer K2 bisa diakomodir menjadi PPPK tanpa tes.

“Tes hanya administrasi. Jangan hanya tenaga kesehatan dan pendidikan yang diakomodir tapi seluruhnya,” tandas Reni yang juga anggota Baleg ini.

Angin dan Rok


angin yang hilir mudik
dan rokmu yang pendek


angin begini kencang dan rokmu terayun


seberapa pendekpun rokmu
tetap sesuatu itu tak bisa kau kenali dengan baik,

terlebih
   

     setelah angin datang dan menyingkap segalannya,
   "kau tak mengenali....!",


sekali lagi "itu tak kau kenaliiiii.......!!!!!!!!, "kataku.
____________
Sore Maros di PTB


KOHATI Maros Progresif BTQ

Santai di sebuah halaman rumah dengan paparan Jelas, racak dan teratur, demikian BTQ atau Baca Tulis Al Qur’an yang diselenggarakan dengan pelan-pelan dan tenang, oleh peserta dengan memikirkan arti-arti Al Qur`an yang sedang dibaca, juga semua hukum tajwid dan waqof agar terjaga dengan baik.

Agenda kegiatan BTQ diselenggarakan dalam kegiatan tambahan, kala itu tepat  hari Sumpah Pemuda "Bukan Sampah Pemuda", kegiatan dengan orientasi  mencerdaskan anak bangsa dalam program kerja KOHATI HMI Butta Salewangang Maros, salah satunya kelas BTQ (Baca Tulis Qur'an) yang rutin dilaksanakan setiap hari selasa dan berlanjut hingga kini. Kelas BTQ merupakan komitmen pengetahuan dasar dalam penerapan pengetahuan secara intern lembaga oleh Korps HMI Wati atau KOHATI, sebab sadar kebutuhan pencerdasan dasar individualistik dibangun lewat BTQ ini.


Pengurus KOHATI HMI cabang Butta Salewangang Maros mengundang kakanda Abdillah sebagai pemateri yang sekaligus sebagai ketua bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi. Beliau menyampaikan materi Islam IPTEK yang dikaitkan dengan hari Sumpah Pemuda pada hari itu, beliau mengatakan bahwa memperingati hari Sumpah Pemuda bukan berarti pemuda hanya bisa bersorak ria dan larut euporia upacara dan semacamnya namun hal penting dan mendasar adalah mengkaji makna dari pesan tersirat dari Bung Karno "Berikan saya 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia", perihal yang merupakan substansi dalam penguatan sebagai pemuda dalam karakter.

Belajar BTQ ini diresapkan dengan harapan menumbuhkan  pemuda yang cerdas yang dengan akal fikirnya mampu membuat perubahan, "agen of change, moral of course dan sosial of control". 

Sebagai kabid KPP, beliau juga mengungkapkan bahwa pemuda hari ini bukan monotif hanya dituntut terkait mahalnya uang panai dan bagaimana bisa menghidupi anak istrinya kelak namun pemuda hari ini dituntut untuk bagaimana menghasilkan bibit-bibit cerdas yang seperti dimaksudkan oleh Bung Karno. Olehnya itu bibit-bibit cerdas tersebut mesti di progresif lewat BTQ sebagai program intern dalam lembaga KOHATI.

Gempa Palu Mengagetkan Peserta Pramuka Munas X di Kendari

Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka menggelar Musyawarah Nasional (Munas) X di Kendari, Sulawesi Tenggara pada 25-29/09/2018. Ashari, salah seorang peserta Munas Pramuka mengatakan, kami peserta Munas ke X Gerakan Pramuka di Hotel Clarion Kendari. Sempat panik dan keluar dari lift ketika hendak ke kamar masing-masing.gempa tersebut terjadi sekitar pukul 16.02 WITA atau selepas Sholat Magrib


Sebagian teman kami sekamar tiba-tiba juga memilih keluar dari kamar akibat getaran keras dampak dari gempa tersebut. "Saya oleng tadi, langsung keluar dari lift dan turun lewat tangga darurat hotel," ungkapnya.Jumat (28/9/2018).

Gempa magnitudo 7,7 yang menguncang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah ( Sulteng),  terasa hingga Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Getaran gempa yang dirasakan peserta memuai pertanyaan, apa yang terjadi dan berusaha mengkontak beberapa rekan lain di daerah-daerah perihal tersebut.

Surahmaida mengaku kaget dan sempat oleng akibat getaran gempa. "Saya kira oleng karena kurang darah, ternyata gempa terasa keras sekali " tuturnya. Ia juga merasakan guncangan gempa sekitar tiga kali saat berada di kamar hotel.

Demikianlah Gempa magnitudo 7,7 yang menguncang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah  terasa hingga Kota Kendari, di lokasi Munas ke X Gerakan Pramuka_SB