Perang Versus Argumen

Pengetahuan tentang hubungan Internasional, selalu jadi tema menarik, dan gejolak penguatan secara plural negara-negara menguatkan prinsip , “kalau anda ingin memelihara kedaulatan maka peliharalah senjata”.


Senjata menjadi tendensi properti utama. 
Senjata adalah kekuatan yang tanpa ampun, senjata adalah produksi industri dalam 
prioritas pengembangan.

“kalau negara ingin aman maka standbykan senjata”, spesifik Keterpengaruhan terhadap prinsip ini maka semua negara menyiapkan senjata, kausalitas dalam hub intern negara dalam pendekatan terhadap senjata dianggap sebagai bentuk pendekatan realis, bukanlah hal yang istimewa, bahkan dianggap kebutuhan primer.

Pemimpin semacam Nixon, Donal Trump, Ronal Reagen, yang realis atau secara platform disebut “pemimpin dengan konsepsi tradisi realis”
ungkap Rex Tillerson _Menteri Luar Negeri AS.

Namun prinsip ini merupakan in doktrin lama tahun 50-60 an lalu (cat : history of national defense), bahkan dengan komentar yang lebih panjang banhwa “mengatasi keamanan dengan prinsip “jika ingin perdamaian bersiaplah selalu untuk perang, atau dalam bahasa latin disebut sipis pacem pare belium” maka siapkan lah selalu senjata.

Sekali saja dalam peristiwa prerogatif ini jadi anomali, ketika Nato dan Patwarsawa, dalam perang dingin konflik antara faktawarsawa yang komunis dgn nato yang kapitalis, Maka seluruh penyedia peralatan perang dalam hal ini adalah Rusia yang di pakai untuk mengancam, akhirnya jadi besi tua ketika Kaum Muda dengan pikiran reformasi di Rusia (research thesis Mac Clauw), melegalitaskan tawaran bahwa dunia dengan industri yang kian lelah dan kedamain semestinya di dikondisikan dengan dialog dan argumen. menjadi tanda perang dingin itu berakhir dan tanpa senjata _ Tulis Sang Baco

Tak Penting

Resiko banjir sebab musim hujan, serupa dengan resiko mencintai sebagai tanda bahwa kita hidup.

Resapkanlah  banjir  sebagai isarat  nasib sedang mengapit lenganmu, entah asbab baik atau buruk, hal serupa dengan  cinta yang tak mesti kau tolak datangnya, atau ia akan meninggalkanmu setelahnya, segala berjalan seperti biasa.

sekali waktu kita bertemu, dan di lain saat harus berpisah, benar tak penting dan sama sekali tak menjadikan itu masalah,


mungkin lupa, tapi kita sendiri tak begitu mengerti apa artinya musim yang hujan ataupun kemarau. yang kering,  seperti "cinta",  kita tak mengerti kapan memulainya, ya segalanya berjalan seperti biasa mungkin sangat biasa.

Masa lewat begitu cepat  meskipun tak kita jalani bersama, tapi kita tetap seperti dulu seperti seperti jenis kelamin yang tak berubah."kau perempuan dan aku lelaki"

Sekali lagi kita  tak mencurigai akan waktu yang pasti berlalu, dan hanya menyisakan  kenangan yang tak hendak kita lepaskan dan membiarkan menua.

Tak ada apapun kecuali pagi ini aku lahir kembali, ketika kau terjebak dan aku menutup rambutmu dengan bajuku dari gerimis, jangan ke rumahku sebab aku pasti  merebuskanmu teh dari air sumur belakang, atau kau ingin aku  menemani-mu di atap, nikmati senja dan banjir yang hampir menenggelamkan.

Sederet peristiwa tak penting ini,  terjemah-lah kedalam catatanmu, : ku kan mengapresiasinya dengan tidak sederhana____

Kassi Banjir 2005 : Sang Baco _Catatan Tak Penting, (sayang jika membuangnya)

Sore Yang Satiris : Esai

Pulang ke kampung halaman,  kejejak kota dengan nama lampau  “Marusu” ( kini Maros). Area dengan tipikal masyarakat urban,  yang mengekalkan ikhtisar budaya zaman batu  Leang-Leang, juga tebing dan  gunung kars yang sambung menyambung. Disinilah sentra kota dibelah oleh sungai, tempat bermain dan belajar  mengeja. 

Sore yang satiris, sedang muda-mudi di Taman Kota, dan komunitas dengan baju seragam yang berkuda-kuda, kutelusur hamparan kolam raksasa tempat riuh wisata kuliner PTB. Aku mulai  asing dan mesti membaca ulang bantaran  sepanjang sungai tempatku dahulu berenang. Kemana mereka ?, aku mencari habitat   Ibu yang mengekalkan kasih pertama kali yang juga mengenalkan bahasa dan seabrek pesan lampau Pappaseng. Ya kampung halaman itu kini tampak seperti  negeri yang sedang bertahan atas perlawanan hedonisme,  perlawanan atas sebuah budaya instan juga pergulatan media yang menoreh metropolitan. 

Sekian tahun di rantau memekik "rindu kampung halaman". Namun, kampung tak seperti dulu lagi, seperti  ketika  kanak-kanak  tak bersendal dan terjun mengakrab-i sungai, saat  sepulang ngaji dengan  tangan  menggenggam quran. Terngiang mereka selalu mengatakan "tabe" juga "iye",  dan dengan kesalahan secepatnya ia berucap "maaf" atau "millau dampeng". Kemana anak-anak itu ?. Sebentuk entitas otonom yang bergerak sendiri dan  menafsirkan apa yang dapat dipersepsi di dalam dan di luar dirinya. Kini tak terdengar mereka mappau rikadong/ bercerita  tentang ketabahan Bissudaeng, Pungkalapung, juga si Pue-pue, demikian senyap.

Aku rindu keceriaan anak-anak itu, saat sore hari mereka mengantar perjalanan mega-mega sepanjang  sungai hingga muara, yang pada akhirnya senja adalah petanda waktu  istiarah, bukan memulai kegiatan dengan domisili yang memenuhi cafe-cafĂ©, tayangan televisi yang memenuh mata juga atribut atribut yang melekat ditubuh mereka sebagai bentuk polarisasi kekuatan, kukira aku pulang dengan tergesa-gesa. 

Dahulu di bantaran Sungai Marusu, mengendap pedalaman yang tumbuh sendiri, aroma pesisir, bunyi ayam dan suara anak-anak mengaji di kolom rumah,  nuansa yang melekatkan senyum untuk melenggang jauh ke lubuk riwayat, ke-pesan attorioloang (leluhur ) "padallisuni' na' nakko mangaribini nrara i' setangnge", (pulanglah nak sebab jika maghrib syetan sedang berkeliaran), sebuah kesan yang masih tersisa dari memorial yang meng-abu. 

Bagaimanapun, saya termasuk dalam arus urbanisasi itu, seseorang  yang meninggalkan kampung dengan menganggap kota sebagai masa depan, lalu memaknai “pulang” dengan  tetirah ke kampung halaman untuk menghidupkan kembali kenang-kenangan. Aku pulang  tergesa-gesa, kutemui rinduku sebagai  tempat melupakan diri sendiri"._ Sang Baco.
______________
Kata Muh Arfah  dlm Sebuah Dialog 13 Jan 2019



Keangkuhan Sejarah : ESAI

Beratus kabar dikisahkan dan beribu sejarah terekam jejaknya, dan dengan itu kita tercengang

makan pula merupakan perilaku dalam sejarah, rangkaian nutrisi dalam  cara seseorang berpikir, berpengetahuan dan berpandangan _Foto :Makmur Radhika.

Namun, di  sebuah kota tak di ingat lagi meski zaman itu menandakan kota tersebut sangat subur, kota yang mengenalkan Dewi Istar, dianggap sebagai dewi kesuburan oleh orang Babilonia. Pemimpin Babilonia Raja Hammurabi (Sumeria tahun 4500 -2000 Pra Masehi), mengekalkan Babylonia dengan keangkuhan, disebutnya dengan "Gerbang Tuhan". Sebuah simbol kecongkakan  manusia dalam keyakinan. Dilerar Babilonia terdapat Gerbang Istar yang terkenal, kausalitas Tuhan  dalam  kitab sucinya  sebabkan  bangunan yang sangat mengesankan itu kini tertinggal puing-puing.

Beratus kabar dikisahkan dan beribu sejarah terekam jejaknya, dan dengan itu pemimpin adalah konstribusi wajah peradaban.

Memetik dari kaidah bahasa Arab : Kaifa matakunu yualla alaikum , (terj : seperti apa keadaanmu sekarang, seperti itulah gambaran pemimpinmu). Ungkapan  yang terasa sangat  etiks,  dengan relevansi  bahwa pemimpin adalah pemegang tampuk kekuasaan yang pasti mengendalikan, semisal kemudi perahu dengan nahkoda yang  menafsir arah, membaca rambu-rambu jalan, dan dalam strata sosial inilah  warna nasib jutaan manusia kelak mengarah ke-tujuan, sebagaimana  kehendak pemimpinnya.

Di tengah kita tentu ada  para cendekia dan pemikir yang kukuh namun-berjarak, dan tetap melihat dengan jernih akan kemana negeri ini membawa nasibnya.
__________
 Warkop Citta Marola 11jan 19

Honorer K2, Soal revisi UU ASN, pemerintah ???

Para honorer K2 jangan berharap revisi UU Aparatur Sipil Negara (ASN) bisa tuntas di tahun ini. Selain pemerintah tidak punya niat, kehadiran PP 49/2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) oleh sebagian anggota dewan dianggap sebagai solusi penyelesaian honorer K2.

“Sudah pasti tidak akan diselesaikan dalam waktu singkat. Kecuali kalau pemerintah benar-benar punya niat yang kuat itu bisa terealisasi,” kata Bambang Riyanto, anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI seperti diberitakan JPNN, Selasa (25/12).

Politikus Gerindra ini menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah tidak akan menyelesaikan revisi UU ASN. Sebagai lembaga pengawas, DPR tidak akan bisa bergerak bebas bila pemerintah punya keinginan menjadikan honorer K2 sebagai PPPK, itupun lewat mekanisme tes.

“Kalau kami konsisten berjuang agar revisi jalan. Namun, ingat membahas revisi itu harus disamakan isi kepalanya. Bersuara sampai serak pun akan sia-sia bila lainnya tidak mendukung,” ucapnya.

Sementara Wakil Ketua Komisi X DPR RI Reni Marlinawati mengungkapkan, soal revisi UU ASN, pemerintah tidak mau bekerja sama. Pemerintah enggan menyelesaikan masalah honorer K2 lewat revisi.

Itu sebabnya Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendesak agar seluruh honorer K2 bisa diakomodir menjadi PPPK tanpa tes.

“Tes hanya administrasi. Jangan hanya tenaga kesehatan dan pendidikan yang diakomodir tapi seluruhnya,” tandas Reni yang juga anggota Baleg ini.

Angin dan Rok


angin yang hilir mudik
dan rokmu yang pendek


angin begini kencang dan rokmu terayun


seberapa pendekpun rokmu
tetap sesuatu itu tak bisa kau kenali dengan baik,

terlebih
   

     setelah angin datang dan menyingkap segalannya,
   "kau tak mengenali....!",


sekali lagi "itu tak kau kenaliiiii.......!!!!!!!!, "kataku.
____________
Sore Maros di PTB