Keajaiban Kabah dan Masyarakat Islam pertama

Mengapa Suku Jurhum dari Yaman dianggap sebagai penduduk pertama masyarakat Mekkah, bagaimana keberadaan Siti Hajar dan anaknya Ismail kecil, sejarah menegaskan bahwa (dengan) sebab wahyu mereka di sana. Kisah dimulai : sedang gurun pasir dan terik matahari memenuh pada  hamparan kosong di sejauh mata memandang, secara rasio maka tak seorangpun mampu hidup di tempat seperti itu, namun Nabi Ibrahim, As,  dengan perintah Tuhan, maka ia membawa anak bersama istrinya di tempat tersebut,  Nabi Ibrahim merasa sedih meninggalkan Istrinya dan anaknya Ismail kecil di gurun kering tak berpenghuni tersebut_ sesaat sebelum Ibrahim As pergi atau meninggalkan Hajar bersama anaknya Ismail

Tatapan Siti Hajar menubruk pundak Nabi Allah, karena Nabi Ibrahim As tiba-tiba ingin segera meninggalkannya “apakah kau akan meninggalkan kami disini, yang tanpa sebuah ranting keringpun ?, “, 2 kali pertanyaan tersebut bak menjotos genderang telinga nabi Ibrahim, namun ia  tak menjawab bahkan  tak membalikkan wajahnya, lalu menghunjam pertanyaan ke3 “apakah ini perintah Tuhanmu ?”, Nabi Ibrahim As pun membalikkan tubuh lalu mengangguk, dengan mata yang terlihat telah tumpah dengan kesedihan, Ibrahimpun kembali ke Kanaan atau Babilonia ( Irak sekarang), memasrahkan istri dan anaknya pada Allah SWT. Sedang Siti Hajar menenangkan dirinya dengan keyakinan, "jika karena tuhan,  tentu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami ?" ujarNya.
gurun tempat ka'bah dibangun (simbolik)

Menetaplah Ismail berdua dengan ibunya di tengah gurun itu, tetapi sejarah telah menandai keberadaan bangunan persegi bernama Ka’bah lama dengan tertinggal semisal pondasi, sebuah riwayat mesebutkan bahwa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh mesisakan hal/ pondasi tersebut. Bangunan awal itu Merupakan bangunana yang didirikan oleh Adam bersama anaknya Syid. (riwayat menyebutkan bahwa Syid anak Ibrahim yang paling sholah, hanya masa itu belum di perlukan peran seorang nabi_menurut pendapat jumhur)

suku jurhum
Dalam proses kesulitan Siti Hajar mencari air maka Ismail kecil dengan kaki mungil menghentak bumi lalu secara ajaib muncratlah  mata air, sedang Siti Hajar bereaksi mengumpulkan air tersebut dengan menghelanya, secara refleksi ia berkata “zamzam” yang dalam bahasa ibunya yaitu bahasa Palestina artinya “berkumpul…berkumpullah…”. Akibat penemuan mata air abadi ini, berselang tak beberapa lama Siti Hajar dan Ismail tiba-tiba kedatangan musafir dari arah seperjalanan pinggir laut merah dengan melihat banyaknya burung2 beterbangan di sekita mata air tersebut, tentu hal adalah gelagat akan adanya sumber air atau kehidupan, mereka pun memutuskan untuk tinggal. Kelompok tersebut adalah Suku Jurhum dari Yaman dengan tujuan hijrah mencari air sebab bendungan mereka di Yaman tiba-tiba roboh, dan sejarawan lain meprediksi “kering secara tiba”, dan sumber lain baca (1*) hal yang lebih banyak disebut sebagai sunnatallah atau pengaturan Tuhan, Kata kepala suku Jurhum “bagilah air itu pada kami, dan sebagai imbalannya kami membayar upeti padamu”, maka kesepakatan hal tersebut mejadikan satu komunitas awal di sekitaran Ka’bah dengan penanda bangunan tersebut masih tampak seperti pondasi .

Maka aliran air zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam, dan gurun pasir didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Periode selanjutanya Nabi Ismail yang telah dewasa menikah dengan anak kepala Suku Jurhum, seiring waktu berlalu tibalah suku Khusa’ ah pula dari Yaman, yang melakukan penyerangan atau hendak penaklukan pada penduduk daerah setempat, Suku Khusaah pun berhasil merebut kepemilikan atas tanah Mekkah, namun Air Zamzam yang jadi harapan kehidupan tiap orang kala itu telah di tutup oleh suku jurhum sebelum mereka secara dominasi meninggalkan daerah  tersebut. Akhirnya suku khusaah menguasai wilayah tersebut dengan keperluan air tetap mesuplai dari luar wilayah ka’bah atau Mekkah. Kemenangan yang bukan apa-apa. (bersambung….)
------
1* : dam raksasa ini jadi rusak dan tidak dapat lagi melawan air bah, terutama air bah yang disebut "Sailul Arim" yang diceritakan oleh Tuhan di dalam al Quran (surat Saba ayat 16). Sailul Arim ini mesebabkan kehidupan di Yaman mengalami perubahan besar. Penduduk Yaman terpaksa mengungsi kebagian utara Jazirah Arab, karena air bah yang besar itu telah melanda dan menenggelamkan negeri mereka.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar