Toakala dan Bissudaeng (cerita rakyat Sulawesi Selatan) bag, 2


Menanamkan nilai lewat paupau rikadong, diyakini akan
 melekat sampai dewasa, hal ini berkaitan dengan salah satu nilai luhur yang membentuk watak peserta didik.
 
........................
Perasaan gembira pun meliputi bala tentara Toakala dengan tak sadar berteriak memanggil rajanya,  “Toa…. Bissudaeng, Toa…., Toa….Bissudaeng Toa….”, sambil menggiring Bissudaeng mendekat kearah Toakala yang sedang terkesima, Perasaan Toakala menjadi tak menentu, sambil menatap dalam pada Bissudaeng.
Berkatalah ia dengan suara dingin dan getar, “ Semua ini  terpaksa aku lakukan  Bissudaeng, aku tak pernah gentar menghadapi kerajaan Marusu dan kerajaan Cendrana dan aku sudah siap perang, tak ada yang bisa menghalangiku. Tidak ada yg bisa menghalangiku…!”. suara Toakala seakan  gelegar yang memenuhi langit, pekikan kerapun terdengar nyaring nampaknya ketegasan Toakala membuat Bissudaeng dan para tentaranya menjadi takut.
Suasana sakralpun memenuhi ruang semesta, hening sejenak ketika lamat-lamat prajurit dan kelompok kera tersebut meninggalkan mereka berdua. 



Dengan perasaan sedih, Bissudaeng berkata, “ Sejak pertemuan kita diarena permainan raga di Balla Lompoa, banyak putra-putra kerajaan yang hadir. Aku tak pernah lupa ketika daeng menjatuhkan bola raga di pangkuanku dalam acara marraga itu, peristiwa itu membuat semua orang menatapku tak terkecuali  ayahandaku…, aku berusaha menyakinkan semua orang kalau aku mencintaimu, tapi…. ayahku tetap ayahku,  jadi aku harus patuh kepadanya”.

Toakala  lalu berkata, “ belum cukupkah bukti cinta itu pada semua orang ketika dengan sengaja menjatuh raga itu di pangkuanmu. Ingatkah engkau dengan sutra ini, ku masih menyimpannya ndi.. menyimpanya, Selendangmu ini lebih dari hidupku….

Ditengah pergulatan hati Bissudaeng tentang perjodohannya, kepatuhan pada ayahandanya sekaligus cintanya yang juga mendalam pada Toakala, mengantarainya untuk sampai pada sebuah keputusan pasrah lewat tantangan yang akan dimintanya pada Toakala.
   
Bissudaeng pun berkata, “jika demikian bisakah daeng  mengabulkan permintaanku sebagai mahar ke-permaisuri-an ku. “. ” Apa itu Ndi. “, Toakala menyambung pembicaraan  Bissudaeng dengan sigap dan cepat,” Bendung tujuh mata air di kerajaan Simbang, dan buatkan aku permandian air terjun di Je’ne Taesa “., Pinta Bissudaeng terbata-bata, Toakala menimpali dengan tegas” Jangankan air terjun dinda, istana berlapis emaspun akan aku buatkan“. Merasa dilematis, Bissudaeng pun berkata “Tapi aku hanya memberi waktu satu malam daeng, kalo kanda tidak bisa menyelesaikannya dalam satu malam, berarti saya harus kembali keistana”.

Tanpa bicara Toakala pun mulai bekerja dengan penuh keyakinan, ia mengerjakan permintaan  Bissudaeng semalam suntuk. Peluh mengalir membasahi tubuh Toakala Sejenak ketika  permandian air terjun tersebut hampir selesai, ayampun berkokok menandakan fajar akan segera muncul.

Toakala semakin gencar untuk menyelesaikan pekerjaannya namun, tiba-tiba matahari terbit, langit menjadi mendung, sebuah gejalah alam yang tak biasa, suara Guntur dan petir saling menyambar, pertanda sebuah kutukan telah jatuh dari Dewata Seuwwae.
  

Toakala berteriak histeris, “Bissudaeng……..,Bissudaeng…….”
Ditatapnya sang kekasih yang terakhir kali, ia tak berdaya oleh taqdir, disela tenaga yang hampir habis, Toakalapun perlahan tumbuh bulu-bulu panjang putih yang menutup seluruh tubuhnya, dipaksakannya panggilan pada kekasihnya yang terakhir kali tapi, Bissudaeng tak lagi bisa mendengarnya, ia hanya menyambut isyarat suara itu dengan lambaian tangan, didepan Bissudaeng berdirilah    patung seekor kera putih, yang kakinya basah oleh tangis Bissudaeng yang di tinggalkan, suara suara alam seakan terhenti tergantikan dengan suara tangis seorang perempuan cantik, “daeng...... (isak tangis Bissu Daeng  memenuhi keheningan Alam Benti Merrung. …
…….Selesai ………….

Bende*semacam teroong
Benti Merrung *Bantimurung kini
Boting Langi *penguasa langit
Dewata seuwwae* dewa di langit
Je’ne Tae’sa*tempat yang tak pernah kering/ selalu berair.
Balla Lompoa’*Rumah kerajaan.

kaitan cerita ini menjadi  obyek wisata ..
catatan setelah lounching ..
catatan kami yang lebih merefresh anda...Menyulam hujan yang sama hingga suatu hari "kita" adalah sepi yang saling menggantung. Tapi benarkah hujan ini ......? 

Toakala dan Bissudaeng (cerita rakyat Sulawesi Selatan) bag, 2

{ 7 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

manjilala mengatakan...

luar biasa daeng :)

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

iyye..syukurma kalo terhiburki ndi...

Fhyro mengatakan...

sedih tong endingnya....

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

iyye ... teks naskah gitu ...

Zulys mengatakan...

teks naskah dari mana ini?sy tidak lihat anda acknowledge the writer...yang bikin naskahnya siapa?

Soyingwa maudy mengatakan...

Terimakasih ya
Sangat membantu

alias beddulawa mengatakan...

luar biasa sejarah maros...it is incredible

Posting Komentar