Esai Budaya Menggugat Pemimpin

Kamis, Juni 28, 2018

Esai Budaya Menggugat Pemimpin : ulasan pandangan Esai adalah jenis karangan yang mengekspresikan opini penulis mengenai keberadaan pemimpi yang erat hubungannya dengan pesan lampau kriteria pemimpin. Penjelasan awal ini bahwa esai budaya merupakan sesuatu yang melekat pada peradaban manusia. Seperti Bung Hatta bilang, kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa ujud pemimpin dan masyarakatnya dalam menerapkan nilai kearifan. Adagium yang sangat erat dalam terwujudnya suatu peradaban. Budaya sebagai suatu adat Warisan budaya inilah yang nantinya akan di turunkan dari generasi ke generasi sehingga menjadi sebuah tradisi di setiap jejaknya. Nilai  Kebudayaan diharapka menjadi darah daging bagi identitas bangsa, dimana kebudayaan tidak hanya dilihat dari sisi fisiknya sebagai suatu bentuk keindahan saja tetapi lebih dari itu adalah nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. 

Seiring berjalannya waktu Esai Budaya Menggugat Pemimpin merupakan  dinamika peradaban yang girahnya harus terpelihara. Sebab tanpa pemimpin yang baik  peri kehidupan masyarakat mengalami proses pengikisan, entah dari segi fisiknya maupun nilai-nilai filosofis yang mengakar di dalam kebudayaan yang ada. Terlebih pada masa kini dengan kemajuan komunikasi global dan meningkatnya hubungan antar budaya, menimbulkan pemikiran dan kesadaran bahwa di balik keragaman tersebut timbul berbagai kekuatan dan kekayaan budaya hingga timbulnya berbagai permasalahan sosial. Simak esai budaya berikut ini.













Esai Budaya Menggugat Pemimpin 

Implementasi Pemimpin masyarakat lampau Bugis Makassar dalam makna kontekstual secara sederhana di pahami bahwa “ketika pemimpin itu ada, hal tersebut  merupakan ekspresi sebuah harapan yang diidamkan, semisal keinginan terhadap keamanan dan keberlangsungan kehidupan, adalah sebab sederhana yang disebut stabilitas.

Kita ingat sebuah glosarium tanpa etos kepemimpinan, keadaan yang melahirkan tentang istilah “sianre bale”, sebuah narasi kehidupan masyarakat sangat kacau, ketika si kuat memangsa yang lemah, tanaman tak membuahkan hasil, penyakit menular dimana-mana, kolusi-korupsi dan nepotisme, suasana runyam seakan tiada tanda kapan akan berakhir". Di tengah kisaran tersebut pemimpin tiba-tiba hadir : ditengah hujan lebat dan petir  meraung-raung membelah angkasa.

Latar belakang nilai kepemimpina di bumi lain, Mengutip dari buku “Politics is a kind of war victory”, ...Sejak Kautilya menulis Arthasastra di India di abad ke-4 sebelum Masehi, juga sejak Machiavelli menulis Il Principe di Italia di abad ke-16, sampai dengan kompetisi demokratik abad ke-21,

"para pemikir dan pelaku politik sadar: politik kepemimpinan itu  sejenis perang, yang harapannya berujung harmonisasi. ikhtiar perlawanan itu lahir dan  tumbuh dari konflik ,bentrokan, persaingan, dan pergulatan hegemoni serta kekerasan yang membentuk sejarah,_ dan  sampai hari ini kita harus mengakui, bahwa secara sederhana idaman akan stabilitas adalah idaman yang di inginkan oleh masyarakat, negeri, kerajaan, republik, atau apalah namanya ...tapi Perlawanan  tak pernah berakhir

Masa genting dan Kelahiran Tokoh di Bugis Makassar sering di identikkan dengan "To Manurung"manusia dari langit. , menegas bahwa pucuk kepemimpinan periode masa awal terbentuknya kerajaan di Sulawesi selatan, selalu di mulai pimpinan dengan Manusia semisal dewa dengan watak , sikap dan keteladanan, juga cerdas dalam memberi solusi kepada pemimpin dari kelompok masyarakat budaya. Keberadaan To Manurung ini menandai awal perlahan-lahan berakhirnya  situasi si "sianre bale".

Usai peristiwa panjang tersebut  tanpa mereka duga, tiba-tiba hujan berhenti, langit berubah cerah, tanah kering dan tak ada genangan air juga tanpa  tanah becek berlumpur

Dalam keheran...., penduduk keluar dari rumahnya masing-masing , tampak oleh mereka di sebuah padang berdiri Saoraja (Istana) yang sangat indah dan besar, entah siapa yang membangunnya dan sejak kapan berdirinya, sebab sebelumnya di tempat dimana Saoraja itu berdiri hanyalah sebuah padang yang ditumbuhi ilalang liar.

Tak berselang lama Gallarang serentak bergerak menuju kesana. Betapa herannya ketika melihat di depan Sapana (Tangga Istana/Saoraja) tersebut, seorang lelaki muda berwajah tampan bersih dan berwibawa duduk di atas sebuah kursi bamboo. Badannya keras berotot, di kepalanya bertengger sebuah Lingkayo (semacam Mahkota) terbuat dari emas, pakaiannya merah menyala berhias kalung garuda di dadanya. Di kedua tangannya melilit sepasang gelang berbentuk naga yang juga terbuat dari emas. Di pinggang bagian depan terselip sebilah keris berhulu emas dan berantakan permata aneka warna.

Di pangkuannya tersandar sebilah alameng (kalewang) yang gagangnya terbuat dari kayu hitam mengkilat, warangkahnya terbuat dari kayu cendana berlurik kulit harimau. Tatapannya  tajam memancarkan kewibawaan, namun kelihatan bibirnya tersungging penuh kharisma melihat penduduk berdatangan mendekat di depannya, sebab pesona tersebut menyembahlah Gallarang  diikuti oleh semua yang menyertainya. Demikian pemimpin itu ada dan bergelar to manurung (mengutip kisah folklore di Marusu terkait muasal Karaeng LoE Ri Pakere ).

Narasi Lontara , tanda atau kisah yang  mengacu ke sehimpun informasi tentang latar belakang ke-pemimpinan di daeran tertentu utamanya di Sul-Sel., sesuatu yang  hendak dikatakan, semisal  kesadaran tentang hubungan stabilitas suatu Negara, nilai solutif dan ke-akrab-an yang secara misterius ditengarai hadir nya "sang Tokoh ".

pemimpin era kontemporer : Bincang-Bincang 2 bulan pra PILGUB (2018-2019  periode ramainya pengusungan pemimpin, Indonesia hari ini tak cukup dengan hanya kaidah : "kaifa matuku yualla alaikum", tetapi lebih dari itu….bahwa kekuasaan tercipta bukan untuk dirinya, kesadaran awal sebelum negara itu terbentuk mengindikasikan :  kepentingan individulah sebelum ada negara berdiri, Adanya pemimpin karena kelompok kasuian (galla) mengangkat pemimpin dgn persetujuan kedua belah pihak, aatara pemimpin dan yg di pimpin, dan restat di tekskan,  sebuah hukum baru saja terbentuk_ kausalitas ini memungkinkan pemimpin dimakzulkan untuk  dipenggal jika bersalah, sesuai perjanjian tersebut._ keadaan ini sesungguhnya menolak segala sistim yang mberi imun terhadap presiden juga dprd (yg bukan lagi perwakilan rakyat tapi kepentigan kelompok)

Mungkin ujian demokrasi tak berhenti hinga....entahlah,  bahwa bumi akan berhenti gonjang-ganjing setelah pemimpinnya  memangku masyarakat, ya ..kekuasaan selalu bergeser sedang tiran tetap ada sebagai pengganti, kasus-kasus tak bisa diselesaikan, visi pemimpin sebagai janji pd rakyat juga gagal di selesaikan kelompok parlemen ini seperti pemilik negeri ini..., _ TETAPI Pilsuf  Ernesto Laclau, bilang ”pemimpin itu akan sia-sia mendapatkan waktu istirahatnya setelah kematian”.

Pandangan kemuliaan Bugis Makassar, keberadaan pemimpin oleh masyarakatnya dianggap sebagai manusia surgawi atau Wija Palamoa, diakui sebagai orang yang datang tersebut pintar dan amanah .

Seorang karena beberapa alasan antara lain, dengan  kehebatan tersebut  (pengetahuan, religi dan ke- bijaksana-an) ia dengan alasan politik untuk menenangkan pula dengan tujuan membahagiakan dan mempersatukan wilayah, sedang ia merasa bahwa "Tuhan yang menciptakanku, ketahui segala sesuatunya, termasuk yang mengerang di hatiku..."_

demikian ulasan sederhanana esai budaya menggugat pemimpin, semoga memberi manfaat, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan, wassalam__(dialog dengan Makmur Radika, Ketua PWRI DPC Maros)_
~~~~~~~~~
Sangbaco Maros 28`06`18. "Esai Budaya Menggugat Pemimpin"

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images