Menggugat Pemimpin (esai budaya)

Implementasi Pemimpin masyarakat lampau Bugis Makassar dalam makna kontekstual secara sederhana di pahami bahwa “ketika pemimpin itu ada, hal tersebut  merupakan ekspresi sebuah harapan yang diidamkan, semisal keinginan terhadap keamanan dan keberlangsungan kehidupan, adalah sebab sederhana yang disebut stabilitas.

Kita ingat sebuah glosarium budaya tentang istilah “sianre bale”, sebuah narasi kehidupan masyarakat sangat kacau, ketika si kuat memangsa yang lemah, tanaman tak membuahkan hasil, penyakit menular dimana-mana, kolusi-korupsi dan nepotisme, suasana runyam seakan tiada tanda >" kapan hal ini akan berakhir". Di tengah kisaran tersebut pemimpin tiba-tiba hadir : ditengah hujan lebat dan petir  meraung-raung membelah angkasa.

Latar belakang nilai kepemimpina di bumi lain, Mengutip dari buku “Politics is a kind of war victory”, ...Sejak Kautilya menulis Arthasastra di India di abad ke-4 sebelum Masehi, juga sejak Machiavelli menulis Il Principe di Italia di abad ke-16, sampai dengan kompetisi demokratik abad ke-21,

"para pemikir dan pelaku politik sadar: politik kepemimpinan itu  sejenis perang, yang harapannya berujung harmonisasi. ikhtiar perlawanan itu lahir dan  tumbuh dari konflik ,bentrokan, persaingan, dan pergulatan hegemoni serta kekerasan yang membentuk sejarah,_ dan  sampai hari ini kita harus mengakui, bahwa secara sederhana idaman akan stabilitas adalah idaman yang di inginkan oleh masyarakat, negeri, kerajaan, republik, atau apalah namanya ...tapi Perlawanan  tak pernah berakhir

Masa genting dan Kelahiran Tokoh (di Bugis Makassar sering di identikkan dgn "to Manurung")

1. Akhir "sianre bale" : 
Usai peristiwa panjang tersebut  tanpa mereka duga, tiba-tiba hujan berhenti, langit berubah cerah, tanah kering dan tak ada genangan air juga tanpa  tanah becek berlumpur
Dalam keheran...., penduduk keluar dari rumahnya masing-masing , tampak oleh mereka di sebuah padang berdiri Saoraja (Istana) yang sangat indah dan besar, entah siapa yang membangunnya dan sejak kapan berdirinya, sebab sebelumnya di tempat dimana Saoraja itu berdiri hanyalah sebuah padang yang ditumbuhi ilalang liar. Tak berselang lama Gallarang serentak bergerak menuju kesana. Betapa herannya ketika melihat di depan Sapana (Tangga Istana/Saoraja) tersebut, seorang lelaki muda berwajah tampan bersih dan berwibawa duduk di atas sebuah kursi bamboo. Badannya keras berotot, di kepalanya bertengger sebuah Lingkayo (semacam Mahkota) terbuat dari emas, pakaiannya merah menyala berhias kalung garuda di dadanya. Di kedua tangannya melilit sepasang gelang berbentuk naga yang juga terbuat dari emas. Di pinggang bagian depan terselip sebilah keris berhulu emas dan berantakan permata aneka warna. Di pangkuannya tersandar sebilah alameng (kalewang) yang gagangnya terbuat dari kayu hitam mengkilat, warangkahnya terbuat dari kayu cendana berlurik kulit harimau. Tatapannya  tajam memancarkan kewibawaan, namun kelihatan bibirnya tersungging penuh kharisma melihat penduduk berdatangan mendekat di depannya, sebab pesona tersebut menyembahlah Gallarang  diikuti oleh semua yang menyertainya. Demikian pemimpin itu ada dan bergelar to manurung (mengutip kisah folklore di Marusu terkait muasal Karaeng LoE Ri Pakere ).

2. Narasi Lontara , tanda atau kisah yang  mengacu ke sehimpun informasi tentang latar belakang ke-pemimpinan di daeran tertentu utamanya di Sul-Sel., sesuatu yang  hendak dikatakan, semisal  kesadaran tentang hubungan stabilitas suatu Negara, nilai solutif dan ke-akrab-an yang secara misterius ditengarai hadir nya "sang Tokoh ".

pemimpin era kontemporer : Bincang-Bincang 2 bulan pra PILGUB (2018-2019  periode ramainya pengusungan pemimpin, Indonesia hari ini tak cukup dengan hanya kaidah : "kaifa matuku yualla alaikum", tetapi lebih dari itu….bahwa kekuasaan tercipta bukan untuk dirinya, kesadaran awal sebelum negara itu terbentuk mengindikasikan :  kepentingan individulah sebelum ada negara berdiri, Adanya pemimpin karena kelompok kasuian (galla) mengangkat pemimpin dgn persetujuan kedua belah pihak, aatara pemimpin dan yg di pimpin, dan restat di tekskan,  sebuah hukum baru saja terbentuk_ kausalitas ini memungkinkan pemimpin dimakzulkan untuk  dipenggal jika bersalah, sesuai perjanjian tersebut._ keadaan ini sesungguhnya menolak segala sistim yang mberi imun terhadap presiden juga dprd (yg bukan lagi perwakilan rakyat tapi kepentigan kelompok)

Mungkin ujian demokrasi tak berhenti hinga....entahlah,  bahwa bumi akan berhenti gonjang-ganjing setelah pemimpinnya  memangku masyarakat, ya ..kekuasaan selalu bergeser sedang tiran tetap ada sebagai pengganti, kasus-kasus tak bisa diselesaikan, visi pemimpin sebagai janji pd rakyat juga gagal di selesaikan kelompok parlemen ini seperti pemilik negeri ini..., _ TETAPI Pilsuf  Ernesto Laclau, bilang ”pemimpin itu akan sia-sia mendapatkan waktu istirahatnya setelah kematian”.

Pandangan Bugis Makassar,  maka pemimpin oleh masyarakatnya dianggap sebagai manusia surgawi atau Wija Palamoa, diakui sebagai orang yang datang tersebut pintar dan amanah . Seorang karena beberapa alasan antara lain, dgn  kehebatan tersebut  (pengetahuan, religi dan ke- bijaksana-an) ia dengan alasan politik untuk menenangkan, membahagiakan dan mempersatukan wilayah, sedang ia merasa bahwa "Tuhan yang menciptakanku, ketahui segala sesuatunya, termasuk yang mengerang di hatiku..."_
___
By Makmur Radika, Ketua PWRI DPC Maros.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar