PUISI : KEMARAU

Kemarau pun teks, sebuah kumpulan kebekuan yang sayang jika membuangnya, ia berencana mendengar sekali saja tentang getar " suara cinta yang memanggilnya", dan kemudia ia siap berpetualang atau mati, tak mengapa....!.
____________


Kemarau dengan selaksa perkiraan  waktu yang tidak tepat, dan barangkali lebih lama.
Kemarau penuh yang menatap kalender, mengering dinding tua , seolah...
tak ada peristiwa sorga juga neraka, pula  "tak ada kau aku"

Jauhmu nan  jarum kemarau,
begini kering dan  sangat kita kenali.
Kemarau yang tenang dan  masih  kusangka pelukan darimu,

Jauhmu nan  jarum kemarau
yang mengajarkanku selangkah demi selangkah tentang rahasia, hingga suatu waktu :mata kita sembab dan kita saling membaca satu sama lain.

ia kemarau, mengenali diam kita.

____________

kemarau masih tersimpan luka kemarin nan belum diterjemah,

(aku.... menulusuri bening matamu, lengkung alismu dan rambutmu yang kau biarkan tergerai, jika saja tersimpan ledak yang mungkin mencairkan kemarau)

sayang….dalam diam ini, kita melewatkan satu hal : rindu yang tak kita mengerti mengapa ia tumbuh, sebab pada akhirnya kita bukan apapun kecuali puisi paling sepi, puisi yang mengendapkan rindu pada kisaran "kau dan aku".

tak kepikirkah hujan mengetuk sekali saja
maka tak setanganpun kecuali "aku, ingin menghujani-mu"
mengajakmu basah..dan berangkulan .

____
Sang Baco_pinggir sungai Marusu, kassi _1 September 2019

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar