Maros Budaya Pappaseng

Beberapa Postingan di Facebook : Maros Budaya Pappaseng· 30 November 2010 (tujuan pelengkap hasil penelitian budaya kab. Maros)

*Kearifan budaya lokal merupakan energi potensial dari sistim pengetahuan kolektif masyarakat demi hidup atas nilai-nilai yang membawa kelangsungan peradaban, sibgah kearifannya terkecup kenang, saat mereka coba melupakan rumah, meninggalkan paseng sebagai jatidiri mereka 

*Sebab arus zaman,  temu suku Bugis Makassar dan ruh masalampau itu terus keluh mencari-cari penanda cinta dari kristal lampau itu, sejauh batas pengertian titah leluhur adalah angin yang mengantarmu sejuk juga guncang di larung sesumbar mu...., temu yang mengajakmu pulang, pulang ke-, kearifan

*Tradisi adalah rumah kita tempat inspirasi yang lahir dari kristal kearifan,  mengajak bahkan menantang kita mengasahnya.

Pengantar


Berikut adalah Sosialisasi tradisi yang terekam dari masyarakat mengambil bagian dalam mengukuhkan norma – norma dan nilai–nilai budaya juga menunjukkan mentalitas religius – magis, yang diungkapkan secara kolektif melalui upacara – dan  mempererat rasa “masseddi siri” (kebersamaan) dan “abbulo sibatang” (persatuan) bagi masyarakat pendukungnya.


Tradisi Perkawinan Maros (Bugis Makassar)
Perkawinan hal penting dalam kehidupan, dan bagi masyarakat Bugis-Makassar perkawinan bukan hanya peralihan dalam arti biologis, pun menekankan arti penting aspek sosiologis, yaitu adanya tanggung jawab baru bagi kedua orang orang yang mengikat tali perkawinan atau hal yang hikmat suci dan sacral (terdapat banyak ritual), beberap pengertian terkait berikut

Bagi orang Bugis-Makassar, kawin artinya Siala (Sialle = Makassar) artinya saling mengambil dan menjadi pasangan dan  bukan hanya itu sebab juga melibatkan kerabat kedua belah pihak dengan tujuan memperbahurui dan memperkuat hubungan keluarga  keduanya, atau menerima seseorang yang sebelumnya bukan kerabat menjadi tiai tau maraeng (Bukan orang lain)

Rentetan kegiatan  kegiatan awal proses pernikahan sebagai berikut :
Mappucce-puce (Akkusissing dalam bahasa Makassar), ialah kunjungan dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk mengetahui apakah peminangan dapat dilakukan.

Massuro (Assuro dalam bahasa Makassar), yang merupakan kunjungan dari utusan pihak keluarga laki-laki kepada keluarga si gadis untuk pinangannya ditanggapi atau tidak lalu membicarakan waktu pernikahan yang didalamnya termasuk Sunreng atau mas kawin juga  balanja atau belanja perkawinan.

Madduppa (Ammuntuli dalam Bahasa Makassar), ialah pemberitahuan kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan terlaksana

Prosesi selanjutnya terdapat dua jenis pemberian dari pihak laki-laki ke pihak perempuan yaitu "Sompa" yang secara simbolis berupa sejumlah uang yang dilambangkan dengan rella (real) yang sesuai dengan derajat perempuan, dan dui' menre' (uang naik) atau uang untuk perongkosan pesta perkawinan, yang biasanya diikuti dengan lise' kawing (isi perkawinan), dan mahar biasanya sejumlah uang (kini dilengkapi dengan  Mushaf Al-Qur'an dan seperangkat alat Shalat bagi calon mempelai wanita).

  Mappaenre Balanca
Sebelum pernikahan maka kegiatan yang mendahuluinya yaitu mappaenre' balanja dalam bahasa Bugis (appanai leko' dalam bahasa Makassar), ialah  proses mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabatnya, mengantar uang lamaran kemudian ditetapkan hari baik untuk acara pesta perkawinan yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita dan maskawin. sampai dirumah mempelai wanita maka dilangsungkan upacara pernikahan, yang dilanjutkan dengan pesta perkawinan atau Aggaukeng (pa'gaukang dalam Bahasa Makassar). Rombongan tersebut dalam  bahasa Makassar di istilahkan dengan  Erang-erang, Iring-iringan pengantin dalam baju bodo kuning yang bersiap menuju kediaman mempelai wanita. Masing-masing membawa hadiah yang akan diberikan sebagai persembahan atau erang-erang untuk pengantin wanita. Biasanya erang-erang tersebut berisi seperangkat alat sholat, sepatu, emas, kosmetik dan sebagainya. Rombongan gadis pembawa erang-erang umumnya terdiri dari 12 orang gadis remaja dan dikawal oleh keluarga pengantin pria.

Pada pesta itu para tamu yang di luar di undang untuk memberikan kado atau uang sebagai sumbangan (soloreng), pada zaman dahulu soloreng itu berbentuk sawah atau ternak dan asalnya dari pihak paman (keluarga dekat dari kedua mempelai). Apabila dalam upacara adat itu salah seorang paman memberi pengumuman, bahwa untuk kemanakannya yang kawin itu ia memberi sepetak sawah, maka pihak kerabat pengantin laki-laki akan malu kalau tidak ada seorang diantara mereka mengumumkan pemberian kepada kemanakannya yang melebihi soloreng dari pihak kaum kerabat pengantin wanita.

Usai penetapan waktu perkawinan bersanding maka kedua pihak yang terpisah itu melakukan tradisi Kegiatan dalam tata cara atau prosesi upacara adat ini terdiri dari: Appassili bunting.

Appassili bunting (Cemme mappepaccing)
Persiapan sebelum acara ini adalah calon mempelai dibuatkan tempat khusus berupa gubuk siraman yang telah ditata sedemikian rupa di depan rumah atau pada tempat yang telah disepakati bersama oleh anggota keluarga.

Prosesi awal tradisi  Appassili:
Sebelum dimandikan, calon mempelai terlebih dahulu memohon doa restu kepada kedua orang tua di dalam kamar atau di depan pelaminan. Kemudian calon mempelai akan diantarkan ke tempat siraman di bawah naungan payung berbentuk segi empat (Lellu) yang dipegang oleh 4 (empat) orang gadis bila calon mempelai wanita dan 4 (empat) orang laki-laki jika calon mempelai pria. Setelah tiba di tempat siraman, prosesi dimulai dengan diawali oleh Anrong Bunting, setelah selesai dilanjutkan oleh kedua orang tua serta orang-orang yang dituakan (To’malabbiritta)

Aggorontigi (Mappacci).
Rumah calon mempelai telah ditata dan dihiasi sedemikian rupa dengan dekorasi khas daerah Bugis Makassar, yang terdiri dari :a. Pelaminan (Lamming) b. Lila-lila dan c. Meja Oshin lengkap dengan bosara. d. Perlengkapan Korontigi/Mappacci.

Acara Akkorontigi/Mappacci merupakan suatu rangkaian acara yang sakral yang dihadiri oleh seluruh sanak keluarga (famili) dan undangan. Acara Akkorontigi memiliki hikmah yang mendalam, mempunyai nilai dan arti kesucian dan kebersihan lahir dan batin, dengan harapan agar calon mempelai senantiasa bersih dan suci dalam menghadapi hari esok yaitu hari pernikahannya.

tradisi pesan aggorontigi
Traradisi aggorongtigi dimana para undangan sanak keluarga atau para undangan yang telah dimandatkan untuk meletakkan pacci telah tiba, acara dimulai dengan pembacaan barzanji atau shalawat nabi, setelah petugas barzanji berdiri, maka prosesi peletakan pacci dimulai oleh Anrong bunting yang kemudian diikuti oleh sanak keluarga dan para undangan yang telah diberi tugas untuk meletakkan pacci. Satu persatu para handai taulan dan undangan hadir dan didampingi oleh gadis-gadis pembawa lilin yang menjemput mereka dan memandu menuju pelaminan. Acara Akkorontigi/Mappacci ini diakhiri dengan peletakan pacci oleh kedua orang tua tercinta dan ditutup dengan doa.

Assimorong atau akad nikah hingga Mapparola
Acara selanjutnya adalah Assimorong (bahasa Makassar terjemahan akad nikah) dilakukan di kediaman mempelai wanita. Mempelai lelaki akan datang ke rumah mempelai wanita bersama rombongan dengan membawa antaran/seserahan,  biasanya berupa kue-kue tradisional BugisMakassar, buah-buahan dan sepasang ayam jantan dan betina juga selain barang-barang keperluan si mempelai wanita yang dihias dengan cantik. Setibanya di rumah mempelai wanita, pernikahanpun dilangsungkan, mempelai pria mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu disaksikan oleh keluarga dan kerabat lainnya. Setelah proses pernikahan selesai, para pengantar dipersilakan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan. Selanjutnya, para pengantar pulang dan mempelai pria tetap di rumah mempelai wanita untuk menerima tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan selamat dan menyaksikan acara pesta perkawinan. Pada acara pesta perkawinan biasanya meriah karena diiringan oleh hiburan keseniandaerah. Keesokan harinya, Mapparola Bugis bahasa Makassar terjemahan : sepasang pengantin diantar ke rumah mempelai pria dengan iring-iringan,  yang tak kalah meriahnya dank e rumah mempelai pria berlangsung acara yang sama.

Tudang Botting
Tudang botting adalah duduk pengantin atau pelaksanaan resepsi/persandingan, yang di mulai awal di kediaman pengantin wanita terlebih dahulu. Selepas resepsi mempelai lelaki tidak boleh menginap dan memakan sajian di rumah pengantin perempuan. Selepas itu majlis resepsi di rumah penganti lelaki dikenali sebagai Allekka’ bunting ( Marolle ) atau Mundu mantu. Pengantin wanita juga tidak dibenarkan memakan sajian dari rumah pengantin lelaki tetapi boleh menginap namun dikawal ketat agar tidak bersatu, belum boleh di satukan.

Makkaddo’ caddi’ ke Pa’ bajikang
Sehari selepas resepsi/majlis sanding atau tudang botting dilakukan pula acara makan nasi pulut/ketan yang di istilahkan denga  Kaddo caddi (bahasa Makassar semacam melepas kegembiraan dengan acara makan nasi pulut/ketan yang diolah secara tradisional)  Akhir sekali acara Appa’ bajikang bunting (bahasa Makassar terjemahan menyatukan kedua mempelai).
ilustrasi peristiwa :  dimana mempelai pria dan wanita disatukan dalam satu sarung. prosesi ini diberi nama pabbajikang. Yaitu prosesi yang mempertemukan kedua mempelai untuk pertama kalinya sebelum bersanding di pelaminan. Pabbajikang melambangkan status antara mempelai wanita dan pria yang sudah halal untuk satu sama lain. Biasanya salah satu orang yang dituakan membimbing kedua mempelai untuk menyentuh bagian tertentu seperti ubun-ubun, pipi dan bahu. dalam adat bugis, prosesi ini dinamakan Mappasikarawa (bahasa Bugis dengan terjemahan : menyentuhkan ujung jari mempelai pria pada wanita). Dalam ritual ini kedua mempelai akan disatukan dengan acara suapan.
Beberapa hari setelah pernikahan, pengantin baru mengunjungi keluarga si suami dan tinggal beberapa lama di sana. dalam kunjungan itu, si isteri harus membawa pemberian-pemberian untuk semua anggota keluarga si suami. kemudian ada kunjungan ke keluarga si isteri juga untuk pemberian-pemberian kepada mereka semua.  Pengantin baru juga harus tinggal beberapa lama di rumah keluarga itu. barulah mereka dapat menempati rumah sendiri sebagai nalaoanni alena / kemandirian (naentengammi kalenna dalam Bahasa Makassar). hal ini berarti bahwa mereka sudah membentuk rumah tangga sendiri. Berselang beberapa hari kemudian masih dilakukan acara kesyukuran dengan memakan Lappa-lappa. Perekam tradisi ini masih merupakan peristiwa yang umum sebagai anutan di Kab, Maros


Rujukan Utama : Buku “Kearifan Budaya Lokal “ oleh ketua Tim Penulis : Kaimuddin Mabbaco, Penerbit PT Pustaka Indonesia Press Jakarta. dan tambahan kelengkapan beberapa sumber lain.

  ______________________________________________________________

lukisan budaya pappaseng  maros
~Status kearifan ibu sebelum meninggalkannya, atau terpikir kau ingin membuangnya maka kenal-lah dahulu tubuhmu sendiri. tubuh dari air susu ibu yang mengental, atau kau mengenal bahasa kearifan ibu dalam peran yang tumbuh pada tulang sum-sum, di tubuhmu sendiri.




Matinro ni…matinro tudang ammo, nasala nippimu
Nippi magi mumalewe nrewogo makkawaru natodongi to peddi
Peddi pegani mutaro, tegai nupallanrung kumasalle lolang

Lolekko… musalleangi sara’e ri atimmu naaja mumadoko
madoko-doko laoe, makkale rojong-rojong
Tuwokona… malampék sungek, wekkek temmakkasapék Pattola palallo

Matinroni ..tori welainnu denre mattaro lebba cede pallawa uddani
Muddanikku muterri congako ri ketenge mu… siduppa mata

Artinya:
tidurlah …sebelum kau duduk tertidur dan tak menemukan mimpimu
sebagaimana kau datang padaku yang miskin ini lalu kau tinggalkan pula
dimana kusimpan sakit ini, dimana kuhempaskan biar lepas dari belenggunya.

pergilah…. biarkan hilang sakit hatimu yang membuatmu kurus, sungguh ia pergi dengan tubuh yang kurus , tapi ketahuilah bahwa yang ditinggal lebih penuh derita.

hiduplah nak..penuh semangat, tumbuh sehat dengan bekerja keras
tidurlah…ia yang meninggalkanmu menitip seserpih rindu, rindu dan  bukan tangis,  ketika kau melihat bulan, disanalah ..pandangan matamu bertemu.

Dalam sepi yang ditinggal pergi oleh suami, sang ibu melarutkan perasaannya dengan penuh cinta, ia mengayun sang buah hatinya dengan dendang syair kerinduan.  Di larut malam, syair lagunya sayup-sayup terdengar , harapannya pada bulan yang bersinar dilangit, menyampaikan kerinduan anaknya pada ambo/bapak  yang meninggalkannya (lokka massompe/pergi merantau), ia menghibur buah hatinya tentang keberadaan bulan sebagai tempat pandangan mata sang ayah melihatnya, dengan impian sang ibu anaknya tumbuh besar, sehat,  penuh semangat  dan bekerja keras,  harapan pertemuan itu terus menuai syair –syair kerinduan yang dilantunkan, hingga kelak ayahnya bertemu dengan buah hatinya sekembali dari perantauan.

Teks  lagu pengantar tidur anak-anak yang dilantunkan ibu-ibu Bugis Makassar di Sulawesi Selatan, sangat beragam, adapun indikator  tradisi ini yaitu sang ibu melaksanakan peran kulturalnya sebagai pendidik, sebagai pembangun benteng awal dalam penerapan akhlak dan kearifan bagi buah hatinya. Sang ibu meletakkan dasar peradaban dan pembinaan pada generasi mudanya. Memang, dasar-dasar benteng pertahanan peradaban masyarakat justru dibangun sejak dini melalui peran kultural sang ibu.

Ketika melakonkan peran keibuannya, menggendong, menyusukan, mengayun dan membelai anaknya, melalui syair-syairnya, sang ibu melantunkan pesan-pesan kultural masyarakatnya, mengemukakan wujud cita kultural mengenai ‘anak-anak’ generasi muda yang didambakan.

Seperti dikemukakan sumber Sitti Amarah dg, Cora[1], “temmakke waram parang ri sumange atuoanna ana e’ naia kia‘makkéati macinnong ri lempu lalenna”, Artinya : pada kehidupan anak bukanlah keinginan pada sifat materi  tetapi mendekatkan hatinya pada kesejatian, kesucian didalam hidupnya untuk tujuan yang lurus.

Karakter, sifat dan kepribadian generasi kekinian, seperti sinyalemen diatas tersebut justru tidak sepenuhnya mampu ditumbuhkan dunia pendidikan formal, apalagi orientasi pendidikan atau pengajaran terlihat lebih prioritas penguasaan kepandaian ‘otak’ semata. Kepribadian ‘makkéati macinnong’ tumbuh dari pendidikan kultural, pendidikan sejak dini yang diturunkan sang ibu dari lingkungan masyarakat karib (the intimate society).



[1] Isteri Subhu Desang dg.Ngerang ( seorang pejuang).

Dini, ketika awal kau mengenalnya sejak di ayunan dengan lagu "toengi Bambo", tak kau kenali filosofi lagu itu ?. Juga bahwa hati yang jauh sungguh gelisah..., mengantarkanmu asing ketika pengejawantahan sipakatau na sipakalebbi. Budaya paseng indokku  melemah  di laku tutur sedang bahasa ibu adalah penanda Bugis Makassar kita hari ini,  masih serupa coretan tangan yang terpaksa /aku sendiri memaksanya terlihat indah, kita tidak punya pagar betis budaya yang sakral sebagaimana yang dicipta negara Jepang atas kelanggengan budayanya, materre sedding pappasengE .....abiasange -abiasa topa palelei, ke-perubahan ini merupakan lika-liku waktu yang menjelaskan perih juga senyum Bugis-Makassar
____________________________________
coretan ini kemana saja kau bebas membuangnya tapi… sebelumnya ajarilah anak-anakmu mengenal bahasa Ibunya......., maaf menandaimu selessureng/saudara. Sebuah kecut jika telaah telah selesai dalam penguatan lokal ke-kurikulum lalu pihak-pihak tertentu tidak menghendaki perihal demikian, sebut saja : ketika usung ke-penerbitan buku, "Kurikulum kearifan budaya Lokal" dan program legislatif komisi c di Kabupaten Maros menandai hal ini, patah putus....harus gagal dari tanggapan pemerintah, Oleh: Facebook Maros Budaya Pappaseng_sebuah adagium berlaku bahwa, "priority on building physical...sedang mendera di upaya bangunan kita hari ini".
catatan maros budaya pappaseng dalam gambar air terjun bantimurung terindah di sulawesi selatan, yang terdapat di kabupaten maros, dan area wisata alam ini terdapat keindahan lain yang di sebut dengan gua mimpi, juga gedung dengan koleksi kupu-kupu terlengkap di dunia yang sekaligus tempat ini menjadikan kupu-kupu sebagai icon, air yang deras seakan mengantar pada petuah lama bahwa disini tempatnya membuang kemurungan.
Di kisahkan di dalam lontara ketika seorang hendak mengembara tuk bersikeras mencari kehidupan di tempat lain (dapat juga bertujuan mengembangkan keturunan) maka terlahirlah amanat atau pappaseng yang disampaikan oleh ambo' ayahanda sang pangeran tersebut, sekaitan dengan kriteria tanah/ tempat yang baik pengembangan keturunan dengan istilah anennungeng risompereng (jiwa pencari atau perantau) sungguh sebuah uraian yang sarat akan makna. Dalam teks matinro ritoppo galung, berkononotasi sebagai tempat yang baik mempunyai pedataran yang luas, dengan tersedianya wanua pulise babuwa, atau terdapatnya tempat yang dapat dijadikan areal persawahan untuk ketersediaan pangan yang dapat di jadikan lumbung padi, keinginan ini erat kaitannya dengan pelaksanaan tradisi maddengka ase lolo atau menumbuk padi sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah swt atas limpahan hasil sawah tsb….dan seterusnya ----posting Ibrahim L dg Tata 

"pada dasarnya manusia menghargai hidup dan kehidupan ini ,......tidak lain atas dasar budaya yang mereka junjung sampai detik ini. lihat.... betapa keras mereka memaknai persoalan SIRI na PACCE hingga sebesar apapun rintangan dan tantangan di samudera, mereka tetap mengarunginya dengan semboyan, kucampa'na sombalakku na kugunciri gullikku ku allena tallanga na toalia. @ post.....pucuk semi.

*Pulau itu bernama Balang Caddi_
refresh crew Budaya Pappaseng ke Pulau Balang Caddi "oleh Sang Baco pada 26 November 2010 jam 15:02. ........dunia yang sibuk dengan berbagai hiruk pikuknya, sebuah ruang lengang, yang mengajak kita untuk keluar sejenak dari rutinitas dunia. Tempat ini bernama pulau Balang Caddi, konon penghuni pertama pulau tersebut terkenal sebagai raja1 Balang Caddi yang terkubur di dekat pemakaman raja-raja Tallo (sekarang dapat anda kunjungi)


Penamaan balang caddi sebagai sara' /assennungeng (prasangka baik) bermaksud terhindar dari ke takabur atas sebuah nama, dan anonim ini  tersamarkan dari pandangan para bajak laut pawella (perampok), sebab keridhaan Allah atas nama tersebut, kata balang caddi (konotasi>tempat genangan lumpur yg kecil) sebagai ampe2 (harapan) untuk hidup sederhana demi keselamatan dan lindungan......dst_catatan : kumpulan postingan facebook crew  Maros budaya Pappaseng

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Unknown mengatakan...

Ijin copy daeng untuk makalah kuliah, trima kasih sebelumnya atas informasi yg lumayan lengkap dari tanah buttasalewangang :)

Posting Komentar