kecamuk hutan

Hutan sastra penuh keliaran dan dengan terpaksa kita masuk kedalamnya, menemu bunga hutan yang alami, memenuhi mata kita dengan warna/i  ulat bulu yang membesar, juga mencerna embun yang dengan suhu alami memproduksi dirinya sendiri : sebuah gambar abadi dan natural. Dalam kecamuk hutan , senilai saja tentu telah se-fariabel, kesadaran menjelma teks, otak saja dengan segala kandungan hutan seperti bijian dan nikel bahkan emas, mengerang pada seluruh kesadaran perasaan, hutan dengan  tempat bernama "Biseang Labboro", merupakan teks pengalaman tersendiri bagi para pencinta alam juga para perenung. musim yang selalu berubah dalam hutan, mengindahkan 2 hal, serupa dengan nuansa sastra antara sakit dan bahagia.

bersama eyang dalam "kecamuk penghuni terakhir"
Suatu hari, hutan sastra bukan sesuatu yang apa-apa, sebab tampa percaya diri, ia : imajinasi, kausalitas dan mimesis dari hutan sastra ini , tercipta dengan berkelopak-kelopak bagai bunga hutan, kehidupan yang melemahkan kata-kata dan  menenun dari materi dunia,  dan sering pula hanya menenun sendiri / untuk diri sendiri. Sedang khalayak hanya mengenal yang disebut "aku bukan kau", hutan sastra itu respon langsung pe-milik kealamian, bukan celupan yang membentuk keindahan, terlebih tentang puisi,  maka,“masuk hutan rimba raya”, hati-hatilah karena didalamnya teman-teman pembaca dapat saja menemu simpul ketat dan renggang, mungkin anda akan menjadi pemburu atau mungkin juga awalnya menjadi petualang lalu tersesat, pusing, hehe..he..he..____

membaca catatan2ku, dalam blog ini www. sang baco.web.id,  hal sepele dan me-mungkin-kan buruk yang anda temukan di dalamnya, maka simpanlah di tempat  sampah demi tidak tercecer dan membuat risau dan kesakitan lebih dalam_ puisi-puisiku bertema hutan sastra membuat anda  bertemu dengan ke-aku-ku/ ya sebuah habitat yang menulis dirinya sendiri dengan ke'akuan', 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar