dedikasi berantakan dari keindahan teks,

Sekecup sederhana yang melepasmu pergi, menegaskan : bukan kesetiaaan air mata yang menetes, tetapi embun yang menetas menjelma butiran cahaya, dedikasi ini sebetulnya sedang mengenali keindahan yang setiap saat sedang berlangsung dalam hati. Tapi sebeginipun tak menanti kau berharap banyak dan tak menyuruh ini dan itu, sebab aku selalu... dan hanya perlu melompat-lompat tanda tak tenang. Peristiwa demikian memungkinkan kutempuh cara baru atau mungkin sebuah metode yang harus berubah, aku mengubur jawaban atas "bagaimana mencintaimu secara ideal ?" (bukannya berduka dengan catatan tidak setia lalu melupakanmu, ih...). aku menyayangmu dengan perasaan yang tumpang tindih.....

"Parlente" rupanya teks yang lahir dari benakku hari itu, dan kau tak sudi memeluknya, sebuah wajah prosais dengan muka penuh jerawat yang juga dengan rambut penuh uban, sekali saja kutatap kalimatku sendiri dan kusebut ini "teror", kita menjadi menakutkan sebab melukai dan membuat orang lain menderita, masih sebuah asap yang banyak dari gambaran imajinasi tentang segala bentuk permasalahan dalam kehidupan, tapi hal ini bukanlah tanpa sebuah unsur, dalam tubuh kehidupan ini ku-merasa ikut, “menggauli” segala kalimat yang mampu mengajak kita berbuat dan memikirkan hal indah /buruk, tetapi jika pencerahan...maka aku tak mengenal yang lainnya selain .bahwa,"cinta bukanlah sebuah keterlanjuran"(sebuah sindrome hermeneutik atau hiperbolik)

Tidak ada orang yang merasa kasihan kepada penderitaan yang dialami oleh kesombongan (konotasi=tampa cinta. tapi jika ini sebuah kesalahan aku berusaha bertobat, meski di zaman edan ini "tak ada buruk atau baik, kecuali yang dibuat buruk atau baik oleh pikiran" (William Shakespeare). dan sebuah kematian pun hari ini, tetaplah sebuah persoalan tentang "mengapa dia mati", padahal ia telah berjanji "untuk hidup 1000 tahun lagi", (Chairil Anwar), Ya...meski masih susah membunuh diri sendiri, pun kutahu bahwa Tuhan tak benarkan alasan apapun untuk melukai dan menganiaya diri sendiri apalagi menganiaya orang lain tanpa hak.

ya...sebuah ungkapan yang melunak jika kuterang menjadi seniman,"aku manusia bertanggung jawab terhadap kehidupan, realitas dan kenyataan, aku datang padamu menepati janji pada kemaraumu meskipun ini tak mendatangkan hujan secara tiba-tiba. kesederhanaan hari ini yang masih tersisa adalah keyakinan bahwa ,"dengan cinta sebagai bukan sebuah keterlanjura maka itu m-buat kita melakukan sesuatu dengan indah, - tersenyumlah tanpa trauma....
 ----------------------------------
Maros, Kaimuddin,Mbck "Sindrome Kemarau Zaman".  dedikasi berantakan atas keindahan dari sebuah teks

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar