Jangan Kemaluan

Sebelum kemaluan, mencipta atau melahirkan kalimat terlebih syair atau puisi, menjadi subyek bacaan yang mumpuni ?, uh.. tidak mudah itu kodong..., U begitu saja menyerahkan pilihan kepada idiom/ kata juga bahasa ke khasanah linguistik, yang buat begini....karena format2, yang sudah terkorelasi dengan kebiasaan membuat/ caraku mencipta, bahwa aku masih begini : seperti lebih sering mengalir saja, menulis apa adannya, juga me-paksa diri walau tak mut), serupa ketika rindu datang maka yang pasti kucatat adalah " tetesan air hujan yang jatuh ke tanah pertama kali , adalah aku...".

Jangan kemaluan, atau menjadi malu adalah peristiwa membaca ulang karya2 lampau sebab proses tulis2 saja, dan sisi lain bahwa moment apapun tak boleh terbuang meski dgn kata sesederhana apapun, ya demikian tanggung jawab atas kata yang mesti sampai padamu sebagai bacaan, dan malu2 in lainnya: kalau tiba2 ruang sadar kita terbuka akan posisi bahasa, yang mesti ter-serta-kan "makna" dalam me-biak-nya sebagai tanggung jawab lahirnya teks, uh..., sedemikian cerdas tokoh2 sastrawan kita nge-buat sastra yang hari ini tetap asyik nyimak teks mereka, mereka rame-rame menganulirnya sebagai kekuatan teks, kecuali Sutardji Cb, mengapa ?. haha..ha...

lebbipasi nakko ditongengi, ri makkedda : pijeppu i pappaseng e' rilete makkesabbi wanuae (lebih lagi jika kita berprinsip ), bahwa, " hasil bahasa itu merupakan usaha untuk menundukkan alam semesta...", berlebihan ya....?.asal tulis mo deh...nah...,tapi ini mi kasi heranka' (mengapa menuliski terus-terus) padahal imajinasi ji yang ditata. Nabilang Uak sena, "sang baco itu ya...suka tulis-tuli saja"

"karena memang hanya kertas : kertas aja yang mo nerima nih teks, sedang menyimpannya tanpa apresiasi bisa aja dia berkarat, atau terbang lalu teks tersebut sendirian dan bersedih, haha..ha.., lanjut ia bilang " tapi meskipun saya tidak menuliskannya, otak saya juga tidak bakalan penuh",>cat ya tulis-tulis saja

aku tak boleh lupa untuk selalu nasehati kamu, jika marah padaku  keluarkan amarahmu, kalo kamu sedih keluarkan tangis-mu di dadaku, tapi ingat…! kalo kamu malu  jangan pernah keluarkan  
Kemaluan mu…, ingat itu ya sayang..!

Tapi ranah ini dalam teman2 bergulat dengan penemuan teks yang baru /  "unik" (istilahku/ atau istilah siapa lah), maka me-jelmakan-nya ukan hanya  'kesadaran akal' namun juga 'kesadaran batin' jika dalam rujuk fitrah ke (ke)-arifan. tanpa malu-malu maka teks itu kadang menjelma kupu-kupu yang hinggap pada bunga bukan hinggap di hatimu dan tak memungkinkan kau sentuh, tapi keindahan itu menjadikan taman yang dengannya tatapan berseru "indah".

Tapi ada seng yang bilang bahwa : pengalaman batin dan badan takkan pernah mampu kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya sastra dari produk laboratorium, karya jurnalistik, telaah sejarah, atau penyusunan biografi.
alamat malu-maluin

"jangan kemaluan..lantaran salah!, hatimu sendiri suka konflik dengan diri sendiri, kau sering tak rujuk pada penggunaan bahasa yang sederhana "masalah utamanya cukup disederhanakan, tidak ada pihak yang berani terbuka mengakui perbuatannya. Padahal, jika pelaku salah mau bertobat, Allah pasti akan mengampuninya dan sejarah hidupnya akan menjadi inspirasi generasi yang akan datang". Mengapa harus malu, kerahasiaan tersekap dalam tembok terdalam di lapisan hati, bukankah kepada Allah semata kita seharusnya malu dan ngeluarin semua unek-unek?", dengar uztad di tivi.

tanpa malu-malu-in maka dirimu sendiri terbawa kedalam teks, sebuah sayap lembut akan membawa dirimu terbang keawan dan setelah lelah lalu menenggelamkanmu hingga kedasar laut, haha..ha.....awwedede....proses anuji ini kodong....memaksa akal bekerja sebab kalo malas-ki akal atau berhenti-ki sedetik saja, -maka mati miQii...itu ---


Tetas penulisan puisi kubilang :
 Semua bentuk komunikasi itu (intern sastra) adalah ruang untuk penafsiran dari pendengar / penerima pesan. Tentu saja orang bisa salah tangkap, sehingga tercipta kesalahpahaman. Namun hal itu terjadi, karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Maka perhatikan pula : apa yang tak terkatakan, di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. segala adalah alat komunikasi yang universal untuk makna, pahaman. Wow...
__________________________
kaimuddin mbck dalam tanggung jawab terhadap teks yang harus dilahirkan kembali demi peristiwa

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar