ya.. tulis-tulis saja

Selasa, Juli 03, 2012

Dalam tulis-tulis ini, aku sunguh jauh dari keadaan : seperti yang kau inginkan, jiwaku selalu melemah terlebih jika aku sedang kurang ngopi juga nge-rokok, "Sayang aku bersalah tapipun aku tak boleh lupa untuk menasehati kamu, jika marah padaku keluarkan amarahmu, kalo kamu sedih keluarkan tangis-mu di dadaku, tapi ingat…! kalo kamu malu jangan pernah keluarkan Kemaluan mu…, ingat itu ya... sayang..!

Menulis tak perlu bikinmu merasa keren terlebih  bahwa tulis-tulismu itu  harus menjadi syair,  puisi.._ yang terpenting  bahwa peristiwa hari ini harus dituliskan dan tak perlu tahu siapa yang baca, atau dimana ia membuangnya.


Tak mudah,  begitu saja menyerahkan pilihan kepada  kata juga bahasa terlebih tuju khasanah linguistik, yang buat bikin susah itu, karena format2 penulisan itu tumbuh dengan jargon-jargon yang membentuk kekutan kelompok juga ambisi diri. istilah ini kadang di sebut "polarisasi", sebuah teks mengalir dengan seolah berkuda-kuda juga membentuk keseragam bahkan beratribut. Kalimat dibuat untuk menegaskan bahwa kami ada dan kuat, kami punya penjara, ente jangan macam-macam 


Aku benci teksku yang tidak bisa "memaki" padahal ke bobrokan terjadi d depan mata, dan itu insiden yang kamu harus baca, kelak

Tak perlu malu, tulis apa adannya  serupa ketika rindu bersemayam di benakmu, dan kau hampir pingsan karena sepi, uh....seberapa sadarmu dalam kemarau ini ?? bahwa  " tetesan air hujan yang jatuh ke tanah pertama kali , adalah kauu..."._ resapkanlah rindu itu dan tak perlu bikin kemaluanmu bengkak.

Peristiwa malu juga bengkak,
entah, tapi ia tiba-tiba menepuk pundak seseorang di tengah keramaian, ternyata dia bukan teman lama__ peristiwa lain ia Kentut di hadapan calon mertua. atau sekali ia Tersandung dan jatuh ketika sedang bergegas. 

Semua itu hanya beberapa contoh keadaan memalukan. Ketika hal-hal seperti itu terjadi, kita berpikir keras mencoba mencari cara untuk meloloskan diri dari situasi. Mungkin juga berharap kita adalah orang lain.__ biasanya yg bikin terasa mau mati sebab kita Orang yang cenderung menghakimi dan menilai diri sendiri jauh lebih keras daripada penilaian orang-orang di sekitar mereka.

Akhirnya aku menulis peristiwa memalukan tadi dan itu tak bikin kemaluan bengkak, haha..ha..ha..
Malu yang terpapar di atas kertas, itukan hanya kertas, ia tak mungkin menjawab, jika ditanya , benarkah itu ?. Maka tulis saja dan hanya  kertas  yang mo nerima nih teks, juga bahwa menyimpan sesuatu itu bisa saja  berkarat, lalu malu..kemaluan itu kehilangan fungsi, misal jomblo terlalu lama....

Maluku terbang ke angkasa ia tampak tak sendiri bahkan tanpa sedih. Seperti hidup yang penuh salh juga malu  maka tulis sajalah lalu kirim dan tegaskan kata "maaf', atau "maafkanlah saya"_ , toh otak penyimpanannya berlapis-lapis, bahkan kata "maaf" lebih sering nangkring di halaman depan file memori kita.__ dan malu2 in lainnya: kalau tiba2 ruang sadar kita terbuka akan posisi bahasa, yang mesti ter-serta-kan "makna" dalam me-biak-nya sebagai tanggung jawab lahirnya teks, Dulu hingga kini masih banyak teksku malu-maluin, tapi terlanjur hal itu sampai di ruang baca ruang dengarmu, untung kemaluanku tak sampai bengkak sebab malu

alamat malu-maluin
Menulis Tak perlu Malu
Dahulu mereka malu-maluin tapi proses menempa mereka, kini sedemikian cerdas tokoh-tokoh pujangga atau  penyair kita nge-buat sastra yang hari ini tetap asyik nyimak hasil tulis mereka. sebab prinsip mereka rame-rame menganulirnya sebagai pandangan, ulasan bahkan kekuatan teks, Mungkin karena mereka sadar   bahwa, " hasil bahasa itu merupakan usaha untuk menundukkan alam semesta...", berlebihan ya....?.

Sekali itu urutan malu kelak menjadi teks yang baru /  "unik" , mungkin saja kemaluan itu me-jelma tak hanya tentang  'kesadaran akal' namun juga 'kesadaran batin._____sekali saja teks itu "menjelma kupu-kupu lalu hinggap pada bunga,  bukan di hatimu, mungkin kau tak tersentuh, tapi keindahan itu menjadikan taman yang dengannya tatapan bersatu di situ".

"jangan kemaluan..lantaran salah!, hatimu sendiri suka konflik dengan diri sendiri, kau sering tak rujuk pada penggunaan bahasa yang sederhana 

"masalah utamanya cukup disederhanakan, tidak ada pihak yang berani terbuka mengakui perbuatannya. Padahal, jika pelaku salah mau bertobat, Allah pasti akan mengampuninya dan sejarah hidupnya akan menjadi inspirasi generasi yang akan datang". Mengapa harus malu, kerahasiaan tersekap dalam tembok terdalam di lapisan hati, bukankah kepada Allah semata kita seharusnya malu dan ngeluarin semua unek-unek?", dengar uztad di tivi.

tanpa malu-malu-in maka dirimu sendiri terbawa kedalam teks, sebuah sayap lembut membawamu terbang, dan setelah lelah lalu ia menenggelamkanmu hingga kedasar laut.


 Semua bentuk komunikasi itu (intern sastra) adalah ruang untuk penafsiran dari pendengar / penerima pesan. Tentu saja orang bisa salah tangkap, sehingga tercipta kesalahpahaman. Namun hal itu terjadi, karena orang tidak mampu menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Maka perhatikan pula : apa yang tak terkatakan, di samping juga mendengarkan apa yang terkatakan. sebab segala adalah komunikasi yang universal dengan tujuna makna, Tak selainnya..!
__________________________
kaimuddin mbck dalam tanggung jawab terhadap teks, yang harus mengurai kembali peristiwa

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images