Pahaman Awal Suku Bugis Tolotang, Toraja dan Makassar

Sabtu, September 21, 2013

Pahaman keyakinan atau kepercayaan terjadi  karena adanya kejadian-kejadian  dalam hidup manusia yang pada akhirnya akan menimbulkan pertanyaan akan apa yang terjadi dibalik kejadian itu, dan pada akhirnya bagaimana religi ini akan membentuk agama yang akan dijadikan sebagai pedoman hidup,

Pahaman sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati menyertai manusia dalam ruang lingkup kehidupan,  nilai dan norma yang mengatur kehidupan manusia tampak dijadiakan sebagai dasar etika sosisal di mana praksis social digerakkan, di petahankan sebagai sesuatu yang sakral.

Pra Islam maka Bugis-Makassar, BUKAN kategori resapan agama Hindu juga Budha, umum dikatakan bahwa agama / kepercayaan lampau Bugis Makassar  disandingkan dengan "keyakinan attoriolong / mengikuti sebagaimana pahaman orang-orang  tua lampau mereka

Bugis-Makassar berpaham animisme ?_, sebab (penelitian dan observasi ) maka saya me-sangkal-nya : animisme beda dengan pahaman  attoriolong_ pahaman attoriolong : dominasi kulturnya secara jamak merujuk /me-teladankan nilai2 baik dari lontara lagaligo serupa yg di pahami suku tolotang dan selebihnya menjadikan paseng/pasang (terj Indonesia :amanah) pula sebagai bentuk rujukan  pelengkap keteladanan, dan paseng ini tercipta dari kearifan pemikiran (kontemplasi) masy lampau bugis-makassar dalam ketepatan me-sikapi hidup.

sebagai contoh sebutlah "Pahaman Tolotang" : sebuah kelompok masyarakat di daerah Sidenreng Rappang, penamaan tolotang lebih bijak dgn nama "Towani Tolotang", etnik terisolir ini meyakini bahwa Sawerigading adalah cucu PatotoE / penguasa segala-gala di dunia ini dan Surek Galigo menjadi kitab mulia sebagai sumber tuntunan hidup, dan saat pembacaan kitab tersebut tampak oleh kami,  tetua mereka menyertakan pembakaran dupa, hal yang mereka sebut ritual atau bentuk pengabdian. dikediaman rumah besar (bola Uwa/ uwatta )  kami dapati beberap "tereng"/ jilid naskah La Galigo tersebut.


Peran dan Keberadaan Tomanurung atas Bugis Makassar
penobatan tumanurung menjadi raja bukan didasari pada kesaktian, tapi lebih karena
 ada karismatik yang melekat pada sosok tumanurung sehingga mampu meredam konflik wanua, To Lotang pengikutnya diwajibkan untuk mengakui adanya Molalaleng ritual (sebuah prosesi  Mappianre Inanre> persembahan makanan dilengkapi daun sirih saat Tudang Sipulung/ duduk berkumpul / ritual pada waktu tertentu, segala untuk keselamatan setelah panen sawah_Nb > mereka tak mengenal yg disebut neraka.

Namun, menandai sub judul ini maka tak ayal banyak budayawan berpendapat, sejarah bangsa ini dibangun dari serpihan-serpihan mitos yang melekat kuat dalam budaya dan tradisi masyarakat. Telusur jejak awal bermula dari kitab sastra terpanjang dan tertua di dunia yaitu “La Galigo”. Begini ceritanya : sosok tumanrung yang diyakini sebagai manusia titisan dewa turun dari kayangan sebagai penyelamat umat yang  keadaan mereka serba  masalah. Tak ayal sosok ini /tomanurung menyelesaikan permasalahan mereka dengan solusi,  sehingga ia dinobatkan sebagai raja gowa pertama pada dekade 1300-an.

Membaca buku  karangan Pananrangi Hamid, seorang pengiat sejarah Sulsel bertajuk Sejarah Daerah Gowa menjadi rujukan utama. Alasanya dalam buku cetakan 1996 itu menyimpan beberapa catatan lontarak yang disadur dari naskah purrilolowi (isarat tomanurung yang tak beda banyak dengan hal yang di ungkapkan  kitab La galigo tersebut.

Buku Pananrangi yang mulai rapuh itu mengurai beberapa kisah terkait tomanurung. Misalnya, dalam tinjuan etimologi, kata tomanurung merupakan satu istilah yang berasal dari gabungan dua kata bahasa Makassar, yaitu to, dan manurung. Kata to diambil dari kata dasar tau yang bermakna orang, sedangkan manurung diambil dari ma dan turung yang berti turun (dari atas). Dengan demikian sejumlah pakar beranggapan istilah to manurung bermakna orang yang turun dari kayangan. Seperti dilansir oleh Pananrangi dalam bukunya yang kini tersimpan dilemari kaca perpustakaan daerah .

bersila di atas tikar tradisional, dan aroma minyak wangi sangat sakral trans dari batu leluhur lelaki mereka tampak bersarung dan menutup kepala, dominasi warna pakaian mereka putih, Sarung dan Tutup Kepala, Untuk Para Laki-laki, sedang wanitanya mengguna semacam Kebaya.

Sebelum kerajaan  (area gowa) maka kelompok2 tsb telah ada mereka disebut kasuiang2 yang terdiri 8 kelompok dan masing2 memegang bate atau bendera,masyarakat memandang tomurung, : sunting lontarak patturioloang

Tolotang : Pahaman Menjadi Tradisi Budaya
Agama bagi masyarakat Towani Tolotang dijadiakan sebagai dasar etika sosisal di mana praksis social digerakkan. Nuansa keberagamaan masyarakat Towani Tolotang yang titik sentral kepemimpinannya dikendalikan oleh Uwa’dan Uwatta dengan pola pewarisan estapet dari generasi ke generasi berikutnya samapai sekarang masih tetap di petahankan sebagai sesuatu yang skaral. 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriktif, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gamabaran pelaksanaan nilai-nilai keberagamaan dalam kehidupan social Towani Tolotang interaksi social Towani Tolotang sebagai aplikasi dari nilai-nilai ajaran agama. Mamfaat yang diharapkan adalah sebagai bahan untuk menata sebuah tatanan masyarakat global yang memiliki konsep social yang dapat meminimalkan terjadinya konflik antar pemeluk agama dalam setiap lapisan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep social yang dijadikan dasar dalam menjalankan kehidupan social Towani Tolotang merupakan perwujudan dari konsep agama yang selama ini mereka pahami, sehingga setiap kegiatan social Towani Tolotang tidak bias lepas dari nuansa keberagamaan.
gambar : massampe hari raya tolotang

Pahaman dan Ritual Tanah Toraja
Aluk Todolo. Aluk Todolo berarti agama para leluhur yang masih dianut oleh sebagian masyarakat Toraja. Dalam kamus Toraja-Indonesia Aluk berarti Agama, hal berbakti kepada Allah dan Dewa Upacara adat atau agama, adat istiadat Perilaku, tingkah Jadi dari pengertian diatas, dapat pula disimpulkan bahwa aluk mencakup kepercayaan, upacara-upacara peribadatan(menurut tata cara yang ada berdasarkan ajaran agama yang bersangkutan), adat istiadat dan tingkah laku sebagai ungkapan kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari. Aluk bukan hanya mengarah kepada ajarannya, namun juga kepada upacara (ritus) dan larangan atau pamali

Aluk atau kepercayaan (Agama suku) dan ritual kematian masyarakat Tana Toraja yang telah membentuk mereka dan menjadikannya sebagai pedoman hidup(nilai-nilainya). Mengarah kepada asal mula kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tana toraja (agama primitif) dan ritus kematian serta ritual-ritual yang dilakukan dalam upacara kematian dan bagaimana Gereja menanggapi hal ini, (dalam hal ini Gereja Toraja).
1. Kepercayaan masyarakat Toraja (agama suku) atau Aluk Todolo
2. Ritual Kematian
3. Kesimpulan

Tawaran Agama Islam Atas Suku Bugis Makassar
Tidak terjadi banyak pendapat dalam keumuman cara pandang masuknya Islam pertama kali di daerah Sulawesi Selatan, yaitu bermula dari kerajaan tua Luwu dengan raja bernama  La Patiware’ Daeng Parebbung,

Masyarakat Makassar dan Bugis dalam penawaran Islam merupakan jalan  medan dakwa yang berat bagi 3 ulama (Datuk RiBandang, Datuk Patiman dan Datuk Patiro dari kerajaan Johor Melayu) pembawa Islam tersebut,

sebab para raja yang ditawari Islam tersebut tak luput dari sifat ingin mengetes akan kekuatan si pembawa kebenaran , dan diantara tes atau semacam uji kelayakan impuls  terjadi  : unsure sabar,  tes kejantanan  (adu duel), juga hal-hal  sakral lainya….?).

Usai penerimaan raja Luwu atas pahaman Islam, maka 2 ulama melanjutkan dakwa penawaran Islam ke kerajaan Gowa, hal ini juga (daerah yang dituju) atas kecerdasan  raja Luwu tersebut, dengan pandangan  bahwa “ Percepatan di terimanya Islam sebagai pahaman mesti disandingkan dengan kekuasaan, maka sebaiknya anda  (maksudnya pada ke 3  ulama tersebut) bersegera menuju ke kerajaan Gowa sebab dominasi kepenguasaan atas wanua /butta atau Tanah sulawesi selatan.

You Might Also Like

1 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images