Pelaut Makassar siarkan Islam di Suku Aborijin

Celebes penamaan lampau bumi provinsi Sulawesi Selatan kini, sebuah era  menandai imperium kerajaan besar yaitu Gowa Makassar dan kerajaan Bone Bugis, juga adagium religi periode masuknya  Islam tahun 1603 yang disiarkan  oleh 3 ulama dari Kerajaan Johor Melayu, setelahnya pelaut Makassar dengan paham ke-Islaman-nya itu, syiarkan Islam menempuh jarak sekitar 2000 km untuk menjejak di Tanah Australia ke Suku Aborijin.

Baru saja sejarawan Australia memaksa Negeri Kanguru mengubah pelajaran sejarah mereka.  ia, Prof Regina Ganter dosen sejarah University of Griffith, Brisbane, Australia, membuktikan agama Islam masuk ke Australia sejak 1650-an dan bukan prediksi sebelumnya seperti mereka telah bekukan sebagai tahun1850-an,  yang merupakan versi resmi Pemerintah Australia.
Observasi sebab perubahan itu , karena ditemukannya  Gambar rumah-rumah adat Makassar dan perahu phinisi tertemu  di antara lukisan cadas yang dinding gua dan batuan yang tersebar di kawasan adat Aborigin.(*)

Hasil kajian Profesor Ganter ini menunjukkan hubungan antara orang-orang Makassar dan masyarakat Aborigin di tahun 1600-an," kata Direktur Unit Kajian Islam Universitas Griffith (GIRU), Dr Mohamad Abdalla, di Brisbane, Minggu (14/1). "Jadi kehadiran Islam di Australia jauh lebih awal," katanya di depan puluhan warga Muslim Indonesia yang menghadiri pengajian bulanan Perhimpunan Komunitas Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) yang mengangkat topik tentang hijrah dalam sejarah Islam semasa Nabi Muhammad SAW itu.

Abdalla mengatakan, Ganter akan memaparkan hasil kajiannya ini pada Konferensi Internasional bertajuk Tantangan dan Peluang Islam dan Barat: Kasus Australia yang diselenggarakan GIRU, Maret mendatang. Studi tentu saja mengubah banyak hal, termasuk klaim bahwa penyelam asal Malaysia yang membawa Islam ke negara yang kini berpenduduk 21 juta jiwa itu pada 1875. Juga sejarah bahwa Islam diperkenalkan penunggang unta Afganistan pada 1860. Saat ini, di Australia, terdapat lebih dari 300 ribu orang penganut Islam dari sekitar 21 juta jiwa penduduk. Mereka umumnya adalah para migran dari kawasan Timur Tengah, Asia, dan Afrika.

Hubungan Pelaut Makassar dan suku Aborijin
Hubungan orang-orang Makassar dengan Australia, terutama dengan suku Aborigin, tidak saja memberi penjelasan logis mengapa orang Makassar menjadi pembawa awal Islam di Australia, tetapi menjelaskan banyak hal misalnya banyaknya hewan dan tanaman yang ada, Juga beberapa bagian bahasa Makassar menjadi bahasa yang dipakai suku Aborigin hingga sekarang, perihal dimungkinkan sebab perjalanan melalui laut lepas sejak dikembangkannya perahu kano yang kemudian menjadi perahu layar.
Paul Clark  “What a Macassan perahu may have looked like.”   akhir abad XVIII. Dua bagian yang pertama ditulis oleh Thomas Forrest yang dipublikasikan pada tahun 1780 dan 1792. Buku ketiga ditulis John Splinter Stavorinus. Tulisan Stavorinus diterjemahkan dari bahasa Belanda, dan kemudian dipublikasikan dalam bahasa Inggris pada tahun 1798.  Forrest membuat sketsa dan juga menulis tentang perahu dari Makassar. Ia mencatat keberadaan  perahu padewakang (paduwakang, paduakan) dari bagian selatan Sulawesi di sekitar Pelabuhan Makassar, yang dihubungkan dengan orang Bugis di area tersebut. Ia menulis tentang pelayaran orang Bugis ke bagian utara Australia dengan perahu padewakang, pula  "orang Bugis, mereka berlayar dengan perahu padewakang ke bagian-bagian barat New Holland, di sekitar Teluk Carpentaria untuk mengumpulkan teripang, yang kemudian dijual kepada pedagang Cina yang datang tiap tahun ke Makassar" (Forrest 1792:82–83).

Menurut ahli sejarah, angin monsun barat laut membantu pelayaran dari wilayah Indonesia ke Australia. Ketika angin berubah arah, yakni pada awal musim monsun tenggara, maka dimungkinkan untuk berlayar kembali ke Indonesia.

Para nelayan Makasar secara teratur berlayar ke perairan Australia sebelah utara setidaknya sejak tahun 1650. Pelayaran ini mungkin dimulai pada masa Kerajaan Gowa di Makasar yang sudah memeluk Islam sejak 1500-an. Para pelaut Makasar ini menyebut Tanah Arnhem, wilayah utara Australia, dengan sebutan Marege dan bagian daerah barat laut Australia mereka sebut Kayu Jawa. Mereka berlayar dalam bentuk armada perahu berjumlah 30 sampai 60 perahu, dan masing-masing memuat sampai 30 orang. Tujuan mereka adalah untuk mencari ikan teripang yang kemudian mereka asapi. Kemudian mereka membawa ikan teripang itu kembali ke Sulawesi, dan selanjutnya diekspor ke Cina.

Perjalanan mereka itu disesuaikan waktunya supaya mereka tiba di pantai utara Australia pada bulan Desember, yakni awal musim hujan, mereka pulang di bulan Maret atau April, yakni akhir musim hujan. Para nelayan ikan teripang itu membangun rumah-rumah sementara, menggali sumur, dan menanam pohon-pohon asam, hutan kecil pohon asam tersebut masih ada sampai saat ini dan banyak orang terutama suku Aborigin yang bekerja untuk para nelayan teripang tersebut, mempelajari bahasa mereka, menggunakan kebiasaan menghisap tembakau, membuat gambar perahu, mempelajari tarian mereka dan meminjam beberapa kisah yang mereka ceritakan, bahkan beberapa orang Aborigin ikut berlayar dengan para nelayan itu pada saat mereka pulang ke Sulawesi, dan kembali ke Australia pada musim monsun berikutnya, dan beberapa di antaranya ada yang menetap di Sulawesi.

Kausalitas atas Bahasa dan Kebiasaan
Pengaruh orang Bugis dan Makasar masih dapat dilihat dalam bahasa dan kebiasaan yang digunakan oleh orang-orang tersebut pada saat ini, Jika kita bandingkan antara bahasa Aborigin dengan bahasa Makassar, maka akan kita jumpai beberapa kosa kata bahasa Makassar dalam bahasa Aborigin seperti kata kata yang berhubungan dengan kata jagung, beras/ padi, jarum dan peralatan memotong dan menebang kayu, bahasa Makassar campuran yang disebut Pidgin Malaya menjadi lingua franca di Pantai Utara. Bahasa itu tidak hanya dipergunakan untuk berkomunikasi antara orang Makassar dengan penduduk Aborigin, tetapi juga antara suku-suku Aborigin yang berbeda. Kata dari bahasa Makassar masih dapat ditemui dalam bahasa-bahasa Aborigin di Pantai Utara; misalnya rupiah (uang), jama (kerja), pammaja’ (wajan), kaluru (merokok) juga kalimat "kaluru rong" menjadi bahasa sepadan juga balanda, atau walanda (orang kulit putih). (Le Breton mendokumentasikan pemukiman pelaut Makassar, "Mereka mengolah teripang dengan wajan yang disebut pammaja’. Sebutan itu juga masih terpakai sampai sekarang untuk menyebut alat untuk menggoreng dan meng-sangrai"_

Istilah populer atau penamaan sebuah pohon dalam bahasa Bugis "aju tammate" (kayu yang tak bisa mati) pun diidiomkan demikian oleh suku Aborigin, dan pohon tersebut tumbuh pesat di wilayah Aborigin Utara terlebih di daratan Sulawesi Selatan. Adapun keunggulan dari kayu tersebut, karena gampang tumbuh dimanapun, meski berada di pantai yang terkena air garam. Kayu tersebut juga merupakan obat antibiotik bagi luka dengan cara menempelkan kulit bagian dalam ke luka. Bila diminum dapat pula mengobati penyakit dalam. Selain sebagai penanda keberadaan orang Makassar di suatu tempat, kayu itu menjadi sumber obat herbal tampa perlu pemeliharaan khusus, cukup di tancap di tanah, pasti tumbuh subur. juga kKayu khas yang identik dengan suasana Makassar di Marege yakni adanya kayu jawa, pohon asam, dan pohon aren tala.

Massompe istilah Bugis atau merantau,  pergi dengan melaut kewilayah /kesebuah negara asing dalam perspektif pada suku Aborigin, secara  harfiah dan realitas, merupakan penanda penanda betapa eratnya hubungan tersebut, hingga tampak pemersatuan dalam kekuatan struktural dalam menyimpul ikatan damai dengan Aborigin. Silang kebiasaan : Jika orang Aborigin kekurangan makanan selama musim hujan, maka mereka seringkali tertarik dan mendekati permukiman orang Makassar untuk mencari makanan dengan cara barter (saling tukar bahan pangan /makanan). Orang Aborigin mengumpulkan penyu, kerang kerang, cangkang mutiara untuk diberikan kepada orang Makassar. Orang Makassar kemudian memberikan peralatan besi dan aluminium kepada orang Aborigin. Sebagai pasompe dan bajak laut (sebagaimana banyak dikutip M.C Ricklefs) pelaut Makassar terhadap suku Aborigin ini tanpa pernah mengangkatkan mereka kawali/ badik bahkan untuk mereka tanpa pernah badik tersebut mereka cabut dari warangkanya /sarungnya sebagai bentuk permusuhan.

Ketika Aborigin Muslim melawan penjajah Inggris, mereka menyebut perang itu sebagai Jihad Kapher’ (jihad terhadap orang kafir). Sebutan ini memastikan mereka kukuh memegang esensi agamanya, menunjukkan semangat orang Makassar yang tak berhenti melawan Balandayya (sebutan umum orang Makassar tentang penjajah Belanda dan bangsa apapun yang berkategori bule). Sebutan Balanda, juga dipakai orang Aborigin terhadap orang Inggris, yang memastikan adanya musuh bersama pada masa itu. Dalam urusan perdagangan pun, orang Makassar masih terpelihara semangat jihadnya, apalagi dalam peperangan sesungguhnya, Tulisan Sufyan Al-Jawi, berjudul “Jejak Prajurit Islam Majapahit dari Bali hingga Australia” menyebutkan keberadaan prajurit Islam Majapahit di Marege-Australia.

dan sekira-kira 4.000 tahun lalu muncul dingo atau anjing hutan di Australia. Dingo serupa dengan ajak di Indonesia (anjing hutan). Konon, ada orang yang membawa dingo itu ke Australia. Lacak jejak lebih jauh menandaskan bahwa sebelum kedatangan pelaut Makassar, sebenarnya sudah ada beberapa asumsi tentang siapa yang pertama kali menyentuh benua paling selatan tersebut, namun, yang tercatat hanyalah kedatangan nelayan Makassar sebagai yang pertama, bahkan, catatan sejarah menyebut, kapal dari Makassar sudah berlabuh sejak 1620. Hingga pada umumnya orang Aborigin mempercayai orang Makassar dan seringkali ikut dengan orang Makassar belayar sepanjang perairan Australia utara. Bahkan menurut sejarah, beberapa orang Aborigin ikut berlayar sampai ke Makassar.

lukisan cadas kontak pelaut Makassar dan suku Aborijin
Kausalitas Pengkhitanan
Pada 1760, seorang peneliti bernama Alexander Dalrymple memberikan bahwa "Orang Bugis menggambarkan New Holland (Australia?) sebagai penghasil emas. Mereka beragama Islam dan gemar berdagang". Menurut Dalrymple, keislaman mereka didasarkan tradisi pengkhitanan, yang akhirnya menjadi kebiasaan sejumlah penduduk di kawasan Australia Utara, meski tidak tercatat apakah nelayan Muslim Makassar juga menyebarkan Islam, namun dipastikan, Australia mengenal Islam pertama kali dari pelaut-pelaut Makassar tadi, lambat laun, komunitas Islam membesar sehingga perlu dibentuk payung organisasi di level teritori sampai negara bagian..., sedari dulu mereka meritualkan acara sunatan ala "makassar", hingga Orang Makassar dan Aborigin mengeratkan hubungan dengan membentuk kekerabatan melalui pernikahan dan juga satu keimanan dalam Islam. Dalam urusan pernikahan itu, Peter ”Daeng Makulle” Spillet, sejarawan legendaris Australia pernah mempertautkan keluarga Matjuwi Burarrwanga dengan keturunan terakhir Husein Daeng Rangka yakni Mansjur Muhayang di Makassar. Matjuwi,  tinggal di Galiwinku, Pulau Elcho. Ia merupakan  hasil pernikahan Aborigin dan Makassar. Di tanah Arnhem, Marege, orang Makassar berhubungan baik dengan suku Aborigin, menikah dan beranak pinak. Perpaduan Makassar-Aborigin berdasarkan keyakinan Islam kemudian membentuk komunitas Aborigin Muslim, adapun gambar: "Perahu Pinisi Makassar digambar diatas kulit kayu koleksi Aboriginal Studies Institu dari Bulletin ORIGIN (South Australia),merupakan karya seni kuno mereka........  Cat sementara
 ________
 Catatan Kaki
(*) Paul Tacon, profesor antropologi dari Universitas Griffith, Queensland, Australia. ungkap : "lukisan cadas yang baru-baru ini ditemukan di Australia utara. Lukisan tersebut bisa jadi mengubah sejarah nasional Australia yang banyak menjadi referensi selama ini. Suku Aborigin umumnya diyakini terisolasi dengan kebudayaan luar sebelum pendatang kulit putih mendiami benua tersebut. Namun, penduduk asli di utara ternyata telah berhubungan dengan orang Makassar. Mungkin ratusan tahun lebih dulu daripada orang-orang Eropa yang datang ke sana tahun 1700-an. Orang-orang Avorigin bahkan kemungkinan pernah berlayar ke Makassar. Ini dapat dilihat dari lukisan monyet di atas pohon yang hanya dapat dilihat di Pulau Sulawesi. Gambar rumah-rumah adat Makassar dan perahu phinisi juga tampak di antara ribuan lukisan cadas yang dinding gua dan batuan yang tersebar di kawasan adat Aborigin".

(Kathleen Schwerdtner Máňez dan Sebastian C. A. Ferse dari “Leibniz-Center for Tropical Marine Ecology (ZMT) Bremen, Germany”, menulis dalam jurnal “Plos One” (June 2010,  Volume 5, Issue 6, e11346), dengan judul, “The History of Makassan Trepang Fishing and Trade”)

( Tulisan Stavorinus diterjemahkan dari bahasa Belanda, dan kemudian dipublikasikan dalam bahasa Inggris pada tahun 1798.  Forrest membuat sketsa dan juga menulis tentang perahu dari Makassar. Ia mencatat keberadaan  perahu padewakang (paduwakang, paduakan) dari bagian selatan Sulawesi di sekitar Pelabuhan Makassar, yang dihubungkan dengan orang Bugis di area tersebut. Ia menulis tentang pelayaran orang Bugis ke bagian utara Australia dengan perahu padewakang. “Beberapa orang Bugis menceritakan pada saya bahwa mereka berlayar dengan perahu padewakang ke bagian-bagian barat New Holland, di sekitar Teluk Carpentaria untuk mengumpulkan teripang, yang kemudian dijual kepada pedagang Cina yang datang tiap tahun ke Makassar (Forrest 1792:82–83).

Referensi :
^ Catatan >  Matthew Flinders dan Robert Brown (1803) pada Pobassoo
^ The Rock Art That Redraws Our History (SMH, 2008)
^ Article about Islam in Australia Mc Intosh, I. S. (2000)
^ Aboriginal Reconciliation and the Dreaming. Allyn and Bacon, Boston.
^ (+)(oase.compas.com, Selasa, 7/08/12)
^ Sari  Buletin ORIGIN

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar