Puisi dan Pemikiran : dialog tokoh sastra dan pemikir

Dua hal dengan gampang dikorbankan dalam krisis ekonomi yang seberat ini, di samping tenaga buruh juga adalah seni dan pemikiran. Keduanya sudah pasti bukan termasuk bahan pokok. Keduanya juga lebih sering memakan beaya ketimbang menjadi sumber dana. Keduanya tak jarang merisaukan.–*goenawan muhammad,
“Seni—termasuk puisi—memang tak sepenuhnya bisa diharapkan untuk mengubah dunia. Sebab puisi lebih bersifat pribadi, mungkin juga kemewahan terselubung seperti sering disinggung banyak orang beberapa tahun lalu, dan posisinya akan terus terpencil dari kehidupan yang mengejar serba-besar lewat perjuangan dan tanggungjawab. Maka, ketimbang terus berharap agar puisi bisa mengubah dunia, lebih baik “menatap dan menampung dunia sebagai kemungkinan-kemungkinan”, kata Hasif Amini

Leo Tolstoy pernah juga mengatakan: “semua orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi tak seorang pun yang berpikir untuk mengubah dirinya”. Tolstoy betul. Kita selalu ribut tentang bagaimana cara mengubah dunia, sementara tindakan lain tidak akan membawa perubahan. Namun, seperti dilihat Tolstoy, perubahan sesungguhnya datang dari dalam diri sendiri, bukan dari luar. Bukankah Tuhan sendiri “tidak menciptakan dunia” melainkan “Tuhan mengucap dunia”, kata Baudelaire pula. Dan puisi lebih sering bicara tentang bagaimana mengucap dunia ketimbang bagaimana menciptakan dan mengubah dunia. Puisi memandang dunia sebagai kata, dan karena itu dunia tidak lain adalah bahasa.

Seorang penyair dan pemikir tentu berbeda dengan para ideolog atau pengajar agama, dan sudah sewajarnya jika ia menjelmakan dirinya sebagai “seorang yang hidup di rumah sunyi”, kata Goenawan Mohamad dalam cacatan pinggir “Perempuan”.

 Para pemimpin agama selalu punya kecenderungan untuk menyusun rasa takut dan
 membuat manusia tak bisa sepenuhnya merdeka. Padahal, sebagaimana diisyaratkan Goenawan di tahun 2001 ketika bicara tentang takut, seorang yang merdeka seharusnya ia berangkat dari nol, terbang dengan kemerdekaan yang penuh, justru karena tak ada radar pengontrol,
 tak ada juga pangkalan untuk kembali, bahkan tak ada pelabuhan yang
sudah dirancang pasti akan dimasuki.

Dengan kata lain: kemerdekaan adalah “momen di tengah gurun”: di sana “tak ada rambu, perbatasan yang dijaga, bendera yang ditaati, kesempitan yang mengapit”. Pada titik ini, ambisi untuk sesuatu yang pasti, terjaga, pasti guyah. “Ada yang brutal dalam ambisi kepastian, tertib, dan otoritas”, tulis Goenawan yang cukup berani menggunakan kata-kata keras, yang bisa membuat merah telinga orang yang suka dengan kata-kata halus dan lembut. Tapi pilihan kata “brutal” yang keras semacam itu sungguh kena, terutama ketika kemunafikan masih merajalela, pretensi mempertahankan kehalusan berbahasa hanya akan jadi dalih bagi eufemisme yang sudah kelewatan.

Dengan sikap semacam itu, tak heran jika Goenawan akan terus menampik setiap kebenaran yang dinyatakan final dan mutlak. Sebab ia akan menjadi “gangguan” terhadap kisah-kisah yang lurus, ia akan merayakan perdebatan, menjunjung ketidakpastian, menyemangati gairah perbedaan dalam perbedaan. Hal-hal semacam ini mungkin tak menyelesaikan perkara di dalam diri dan dunianya seratus persen. Tetapi ia menjadi manusia yang berhak hidup dan menentukan pilihan-pilihan sendiri dengan bebas, dengan merdeka.

Maka saya tak pernah merasa cemas dan waswas oleh sikap kepenyairan Goenawan yang kelewat terbuka dan menantang. Saya bahkan mengagumi sikap yang meletakkan puisi tidak melulu dilihat dari guna dan manfaat, karena begitu banyak elemen yang terpaut satu sama lain yang juga mesti dicatat dan dapat tempat.

Dalam kata-katanya Dick Hartoko, sifat keterbukaan Goenawan terhadap hal-ihwal dapat disebut sesuatu yang “senggang”: yakni sikap spiritual untuk bisa mendengarkan, semacam kemampuan jiwa untuk tanggap terhadap kenyataan dunia yang tidak melulu dilihat dari guna dan tujuan. Atau dalam bahasanya Ayu Utami dan Sitok Srengenge ketika mengumpulkan sajak-sajak lengkap Goenawan: itulah “sebentuk penghargaan pada kesetian untuk menciptakan sanktuari: sebuah wilayah di mana bahasa, ciptaan, karya tak harus ‘berguna’, di mana sebuah arti tak sama dengan guna”.

Pada aras ini, filosofi kepenyairan Goenawan mirip Wu-wei yang mengambil falsafah air. Dibandingkan dengan segala sesuatu, air merupakan hal yang paling lemah. Tetapi air mampu menjebol karang yang paling keras. Lao Tzu pernah mengatakan: “Dunia dikalahkan dengan tidak berbuat apa-apa (Wu-wei)”. Maju terus berarti berbalik. Tapi justru karena wataknya itu, maka pasivitas Wu-wei nyaris membekukan waktu.

Hal itu terlihat dalam ajaran Taoisme yang menekankan kebebasan individu dan Wu-wei sebagai jalan menuju perdamaian dunia. Dalam Wu-wei ada kecenderungan anarki dan individu yang radikal dalam menekankan kebebasan. Hal ini berdampak adanya sikap anti sosial, anti kultural, anti filsafat dan anti sistem. Segala yang dianggap berguna mesti dipertanyakan. Sebab, dalam suatu dunia yang hanya mementingkan kegunaan, kata Dick Hartoko dalam esai Keadaan Senggang sebagai Dasar Kebudayaan, memang tak ada tempat dan waktu untuk ritual dan kebaktian. Padahal religi dan puisi yang sejati justru tak mementingkan faktor kegunaan, bahkan berani mengorbankan barang-barang berguna demi sesuatu yang lebih menggairahkan iman dan pemahaman.

Senggang adalah dasar bagi sebuah puisi. Tak ada puisi yang baik yang tidak kontemplatif. Dasar sebuah puisi adalah semedi, sunyi, hening, bisu. Itulah corak puisi-puisi dan esai-esai Goenawan yang akan saya bicarakan panjang-lebar di bawah nanti.

Karena wataknya yang nyaris tak bergerak, tak heran jika sampai hari ini masih ada yang beranggapan kalau Goenawan hanya mengutak-atik kata atau bahasa, dan pemikirannya cuma asyik dengan dirinya sendiri. Masih juga kita temukan orang yang nyinyir mnemandang puisi, dengan mengatakan: puisi tak lebih dari pergulatan atau permainan dengan daya khayal kata dan maknanya (kalau ada). Mungkin lantaran karena puisi pada dasarnya sebuah wilayah yang terpencil, atau melulu bergerak di dalam keadaan tanpa gema, atau bunyi yang lain dari tepian kecil yan tak kunjung jelas itulah, seperti kata Goenawan ketika bicara tentang H.B. Jassin, maka puisi bisa membebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas; hidup yang diinstrumentalisasi.

Tentu saja kata “membebaskan” di situ bisa ditafsirkan bermacam-macam. Namun kita tahu siapa yang mengatakan itu. Goenawan memang tidak sedang memberi pegangan dalam melakukan aksi, dan tidak pula sedang mengelus-elus massa, apalagi berharap agar ia menulis risalah dengan membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinian sekarang juga.

Goenawan seorang penyair yang selalu dirundung ragu dan senantiasa menaruh tanda tanya pada satuan-satuan besar. Bisa jadi kata “membebaskan” itu lebih ditujukan pada pembebasan pikiran sendiri dari kepicikan, dari keterbelengguan paham dan aliran, menjadi diri yang kreatif dan merdeka agar senantiasa bisa tulus.

Ketika industri budaya mampu membentuk hasrat besar sosial, tapi tanpa kehadiran puisi dan pemikiran yang “bisa membebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas” itu, apakah yang bisa kita bayangkan? Saya tak bisa menduga-duga, apalagi meramalkan di sini. Sebab kini segalanya kembali pada kemungkinan, ketidakpastian. Saya tak percaya ada sebuah negeri atau bangsa yang tak membutuhkan puisi dan pemikiran, kecuali mungkin bagi sebuah bangsa yang sedang karam dalam segala bidang.

Dalam sejarah Indonesia modern, puisi dan pemikiran sering mengguncang dan melahirkan yang tidak lazim. Puisi-puisi Rendra dan Wiji Thukul, atau novel Pramoedya Ananta Toer, terbukti bisa membuat penguasa Orde Baru gerah dan ketakutan. Sementara dunia pemikiran membikin situasi jadi “heboh”, seperti refleksi yang jujur dari Ahmad Wahib atau ide-ide nyeleneh dari Abdurrahman Wahid.

Apa sebetulnya pemikiran itu hingga sebagian orang tua begitu khawatir jika anaknya jadi pemikir yang bebas? Adakah memang pemikiran itu begitu berbahaya dan mengancam generasi muda kita?

Stephen Hirtenstein, yang sangat mengagumi Ibn Arabi, pernah mengutip ucapan tokohnya mengenai pemikiran sebagai “tamu dari langit yang melintasi ladang hati”. Dalam hal ini, pemikiran tidak cuma mengacu kepada proses otak, atau sesuatu yang dapat kita pikirkan, atau kita renungkan. Pemikiran mengindikasikan sesuatu yang muncul dari keheningan batin, setiap saat dalam diri kita, di dalam kesadaran batin kita.


Membaca Catatan Pinggir yang muncul hampir setiap minggu di Tempo, buah pena Goenawan yang paling pribadi itu, memang mulai terasa rutin. Tapi ia tak membuat kita merasa bosan. Mungkin karena gayanya yang lincah dan kutipan-kutipan pilihan yang tak jarang membuat kita takjub dan iri, membuat esai-esainya yang pendek dan puitis itu tetap mempesona. Mereka yang terdidik dalam disiplin pendidikan formal dengan baik tentu menyukai esai-esai Goenawan karena menghadirkan banyak kutipan, tanpa membuat bahasanya kering dan beku seperti risalah akademis. Demikian pula mereka yang suka menulis esai tanpa basis pendidikan formal, melihat harapan yang besar pada esai-esai penyair dan pemikir ini.

Apa saja yang ditulis Goenawan selalu bermuara pada puisi. Esai-esainya yang luas tak lain diniatkan untuk membela puisi. Di sini ada kesamaan antara Goenawan dan Octavio Paz. Dalam sebuah esainya, Paz pernah menandaskan: “Ambisi saya adalah menjadi seorang penyair, dan tak lain kecuali penyair. Buku-buku prosa saya dimaksudkan untuk mengabdi pada puisi. Untuk menilai, menjaga, dan menjelaskan puisi kepada orang lain, juga diri saya sendiri. Saya segera menemukan bahwa pembelaan terhadap puisi, yang diremehkan orang di zaman kita ini, tak terpisahkan dari pembelaan kebebasan”

Demikian pula esainya. Apa yang ditulis Goenawan menjelma jadi esai puisi. Sekalipun tulisan-tulisannya muncul di rubrik opini, rubrik ide, rubrik kolom, majalah ilmiah, tak lain adalah sebuah esai puitis. Bahkan esai-esai yang oleh sebagian orang dianggap kurang berhasil, tetap menampilkan ciri khas Goenawan yang menggigit dan menggugat dengan kritis.

Sejak muncul pertama kali hingga empat puluh tahun kemudian, gaya dan semangat Catatan Pinggir sebagai esai yang membedakan sebagian besar esai-esai lain, nyaris tak mengalami perubahan signifikan. Hal ini tidaklah aneh. Kita tahu, Goenawan memiliki bahasa pengucapan khusus yang sangat dikenal oleh para pengagum Catatan Pinggir.

Kata orang, sebuah tulisan yang bagus pasti akan ada epigonnya. Dan Catatan Pinggir tak terkecuali. Bila menyimak esai-esai yang muncul di sejumlah harian nasional beberapa tahun terakhir, pengaruh Catatan Pinggir ternyata di luar dugaan. Gaya, tanda baca, susunan kata, sering kali mempesona banyak orang.

Saya punya pengalaman pribadi ketika mengikuti serial esai Catatan Pinggir. Mula-mula saya kesulitan untuk bisa keluar dari cengkraman pengaruh gaya bahasa Goenawan ketika saya hendak menulis. Catatan Pinggir bisa menggoda kita, bahkan membuat kita terperangkap terbawa arus imaji dan kata dan gaya dan tanda baca yang serupa, dan dengan serakah mencatut kutipan-kutipan cerdas di dalamnya untuk diklaim sebagai hasil proses membaca sendiri.

Biasanya, untuk menghindari agar tidak menjadi maling atau epigon, setelah membaca Catatan Pinggir saya berusaha untuk tak langsung menulis. Walaupun, godaan untuk menuliskan kembali kutipan-kutipan cantik dan cerdas dalam Catatan Pinggir yang bagaikan hidangan yang siap santap itu, tidak juga surut. Salah satu ciri esai pendek Goenawan, ia bergerak ke dalam kemungkinan-kemungkinan yang tak selesai. Ia pandai membujuk kita dan membuat kita terperangkap dalam rasa penasaran sehingga tiap kali kita selalu merindukan untuk membaca Catatan Pinggir berikutnya.

Setahu saya, Goenawan tidak pernah menulis buku utuh. Peluang untuk itu bukan tidak ada. Selagi ia kuliah di jurusan psikologi UI, terdapat kesempatan untuk menulis karya yang utuh berupa skripsi. Namun Goenawan rupanya memilih cara untuk tidak menyelsaikan studinya, sehingga sampai sekarang ia tak punya buku utuh. Tapi jangan salah sangka dulu. Justru karena Goenawan tidak pernah menulis buku yang utuh, itulah kelebihan intelektual satu ini.

Kehadiran gerakan postmodernisme tampak sejalan dengan sejumlah pendirian Goenawan tentang buku. Derrida pernah menyinggung “senjakala buku” dan “kelahiran teks”. Buku, kata Jacques Derrida—yang saya kutip dari Muhammad al-Fayyadl dalam bukunya Derrida (2005)—adalah metafor tentang totalitas. Peradaban metafisika adalah peradaban buku yang memuja totalitas seraya menampik perbedaan-perbedaan. Buku mengandaikan halaman terakhir yang selesai, sementara esai-esai pendek Goenawan justru sebaliknya.

Sebuah buku, kata Fayyadl, terdiri dari huruf-huruf, mungkin juga angka-angka, aksra-aksara. Dan di sana, di dalam huruf yang tampak bisu dan diam itu, tersembunyi kekuatan yang tak mungkin selamanya dirangkum ke dalam totalitas. Sebuah huruf yang merapat di antara barisan kata-kata terkadang menyuarakan sesuatu yang lain—semacam enigma yang tak terselami tapi memikat, dan barangkali juga tak terlalu mudah untuk dijinakkan.

Tak heran jika Goenawan tak peduli dengan cibiran orang yang menyebutkan “buku” kumpulan esai bukan buku. Ia terus bertahan untuk tidak tergoda menulis buku, dan tetap setia menulis esai-esai pendek dengan kualitas yang terjaga. Rupa-rupanya motto “Enak dibaca dan Perlu” itu, tidak hanya motto majalah Tempo, tapi motto bagi Catatan Pinggir juga. Minimal perlu untuk penulisnya, kalau ternyata memang tak diperlukan pembaca.

Dari segi gaya, esai-esai Goenawan terhitung paling indah dan puitis. Walau pun menggunakan bahasa prosa, namun di dalamnya bertaburan puisi. Bahkan perbedaan antara prosa dan puisi lebur. Ulil Abshar Abdalla pernah menyebut Catatan Pinggir bagaikan haiku yang hemat, bening terbening. Dan Ulil tentu berlebihan.

Tapi sebuah tafsir memang tak jarang meraup nilai lebih. Demikian pula tafsir-tafsir Goenawan tentang puisi dan pemikiran orang lain. Beberapa kali saya terkecoh ketika Goenawan menulis tentang tokoh-tokoh pewayangan Jawa dengan sangat menawan. Ketika saya coba memastikan teks pewayangan itu, ternyata saya tak menemukan kisah di dalamnya sehebat dan sebagus yang dilukiskan Goenawan. Jadi, apa yang dilukiskan Goenawan tidak lain hasil sebuah pembacaan. Dengan kata lain : sebuah tafsir.

Salah satu model esai Catatan Pinggir yang mempesona saya cukup lama, selain tentang ulasan Goenawan mengenai tokoh, adalah esai yang ditulis dalam bentuk surat, seperti surat yang ditujukan pada Pram, surat tentang anak yang tidak lulus ujian atau anak yang mati karena didera kemiskinan, surat tentang kedua putra yang ditingalkan Munir, dan sebagainya, dan sebagainya.

Dengan gaya surat, Goenawan tak cuma membuai saya dengan keindahan bahasa dan gaya, tapi mengajak saya terlibat lebih intim, masuk ke dalam renungan yang sungguh-sungguh, dan benar-benar membuai rasa haus estetik.

Ketika Goenawan menulis tentang nama-nama kampus yang diambil dari nama pahlawan perang kemerdekaan, dan karena itu kondisi pendidikan kita mencerminkan otot ketimbang otak atau hati. Dan dalam hati saya berujar: iya juga. Mentalitas jawara sebagian besar kita, bisa jadi ada hubungan dengan kegemaran kita pada sosok pahlawan yang heroik dan gemar berperang ketimbang pemikir yang cerdas dan berbobot.

Sementara itu, esai-esai yang menawarkan pengalaman religiusitas juga termasuk esai yang paling kuat dan cukup sering muncul di Catatan Pinggir. Tafsir-tafsirnya yang puitis atas agama, iman dan Tuhan, tak jarang membuat orang terjerambab ke dalam cara berpikir nihilistik-relatifistik, walau saya tak menemukan ini pada esai-esai Goenawan.

Agama, Iman, dan Tuhan yang Tak Selesai

Ahmad Wahib, dalam catatan hariannya pada tanggal 14 Juli 1972, menulis: “Sebenarnya tuntutan pembaruan dalam memahami Islam sudah muncul lebih awal, tetapi tidak terpublisir luas atau dilancarkan oleh orang-orang muslim yang tidak berjuang di kalangan organisasi-organisasi Islam formal. Seingat saya Goenawan Mohamad dalam suatu majalah kebudayaan ukuran sederhana pada kira-kira tahun 1963 menulis tentang Islam dan perlunya cara-cara yang lebih hakiki dalam memahami agama Islam”.

Ahmad Wahib betul. Hampir semua buku yang pernah ditulis Goenawan, terdapat masalah agama—agama dalam arti seluas-luasnya. Bahkan kalau dilihat dari tujuh buku Catatan Pinggir, tema agama cukup dominan hampir dalam setiap buku. Hal ini tak mengherankan, sebab salah satu persoalan besar yang sangat rentan menimbulkan konflik dan pertikaian serta kerusakan yang berlanjut terletak pada penyelesaian masalah agama. Para bapak bangsa kita paham betul soal ini. Maka Bung Karno dan Bung Hatta—di antara tokoh terdepan—memilih pancasila sebagai dasar bernegara dan bhineka tunggal ika sebagai semboyan penting.

Sudah berapa besar korban karena penyelesaian konflik agama dengan benci dan kekerasan. Saya bangga Goenawan mau bicara terus-menerus soal ini, mau menulis tema yang tak habis-habisnya ini. Dan saya merasa lebih bangga lagi dengan sikapnya yang rendah hati dan begitu terbuka dalam menghargai perbedaan sebagai keniscayaan bagi tegaknya pondasi Indonesia sebagai sebuah bangsa besar, dengan penduduk 220 juta jiwa.

Tapi apakah layak Goenawan menyandang sebagai pembaru pemikiran Islam di Indonesia? Saya kira tak tepat meletakkan Goenawan sebagai pembaru di bidang ini, kendati juga tak bisa sepenuhnya ditampik. Jauh sebelum munculnya Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid, Goenawan telah menulis tentang pemahaman Islam yang lebih segar dan hidup. Tahun 1968 Goenawan kembali menulis esai sangat bagus, mungkin esai paling bagus tentang penghayatan religius pada masanya, yaitu Puisi Kitab Suci. Gagasan di dalamnya saya kira masih kena hingga kini. Di sana ia melihat agama kian jauh dari semangatnya yang semula, dan kerapkali dijadikan benda mati. Tuhan pun tak jarang ditampilkan secara kejam, sebagai yang Mahapemarah, sambil menyembunyikan sifat Tuhan sebagai Mahapengasih dan Mahapenyayang.

“Seandainya Kitab-kitab Suci hanyalah buku-buku hukum yang tanpa puisi”, kata Goenawan, maka “manusia akan hidup dengan rohani yang kerontang. Bhagawat Gita, Injil, Quran. Di tengah-tengah pengalaman masa kita kini, salah satu kebutuhan kita adalah menghidupkan kembali puisi yang terdapat di dalamnya”, dengan tujuan “pembaruan sikap, untuk lebih mampu menerima Kitab Suci bukan sekadar sebagai sebuh KUHP…Sebab Tuhan memang bersabda, dengan bahasa manusia, dalam puisi. Dan puisi, dengan perlambang-perlambangnya, dengan iramanya, dengan seluruh semangatnya, tidaklah mendikte…”

Barangkali lantaran karena saat ini kita hidup dengan kepelbagaian dan kemungkinan yang hampir tak mungkin lagi bersikap total dan mutlak-mutlakan dalam soal iman, agama dan Tuhan, maka tafsiran Goenawan atas hal-hal itu begitu penting untuk tak diabaikan. Apalagi bila melihat berbagai agama kini masih terus dipeluk umat manusia, dengan gairah yang kadang terasa pathos, namun terasa semarak dalam beberapa tahun terakhir ini. Sampai-sampai Moeslim Abdurrahman menulis buku dengan judul “Semarak Islam Semarak Demokrasi” yang mengandaikan bahwa yang satu bisa mempengaruhi yang satunya lagi. Jika demokrasi semarak, Islam semarak atau jika Islam semarak maka demokrasi juga bisa semarak.

Tak ada yang bisa memungkiri bahwa agama masih tetap punya pesona. Kaum atheis dan para teoritikus sekuler banyak yang salah sangka. Setelah mereka meramalkan “agama” akan punah seiring dengan munculnya kokok ayam positivisme dan empirisme, serta desing-bising suara mesin industri yang konon dianggap telah menciutkan jarak antarmanusia, kini tak terbukiti, malah agama tampil dengan memukau di ruang-ruang publik, di desa maupun di kota, di kantor agama maupun di pasar, di rumah maupun di jalan, di lapangan maupun di tempat ibadah.

Apa yang dulu dianggap candu dan agak nyinyir di mata sebagian aktivis Marxis, dan harus disingkirkan karena kerap kali melantunkan nyanyian nina bobok, kini justru meluap-luap hingga yang terdengar bukan lagi kesejukan dan kedamaian, tapi agama dalam letupan kemarahan yang mengerikan. Karena itu, apa yang kita harapkan tampil ke publik bukan lagi subjek yang otonom dan universal, iman yang mati, tapi iman yang hidup dan mau berdialog terus-menerus. Dalam konteks ini, Goenawan pernah menyebut : ”iman dalam praksis eksotopi”, yang dipinjamnya dari Bakhtin. Dengan kata lain: iman bukan sebagai sama, tapi iman dalam beda, atau dalam nikmat perbedaan.

Segala yang universal dan subjek yang otonom kini telah aus, dan mulai digantikan dengan subjek yang dinyatakan cair dan selalu dalam proses tanpa akhir dan tak terhingga. Sebuah kepercayaan tanpa kepercayaan; sebuah iman yang tidak meletakkan ”kepastian subyek”, melainkan ”subyek dalam proses”, kata Julia Kristeva yang dikutip Goenawan.

Ibarat sebuah perjalanan menuju sesuatu yang kita cari, perjalanan tersebut tak pernah ada ujung, bahkan apa yang disebut akhir memang tak pernah ada. Tak ada titik penghabisan yang bisa disebut sebagai proses selesai, kecuali hanya tarian di tepi-tepi yang mengasyikkan. Mirip seperti tafsiran Ibn Arabi tentang perjalanan transformasi persepsi. Apa yang disebut gnosis atau sufi, kata Ibn Arabi, adalah sebuah perjalanan tanpa henti.

Ibn Arabi mengatakan itu dalam Kitab al-Isfar, yang saya kutip dalam versi lain. Sebagai manusia, kata Ibn Arabi, kita tidak pernah berhenti berjalan, dari satu momen penciptaan kita dan penciptaan bagian-bagian fisik kita, dan seterusnya. Tatkala sebuah pemberhentian tampak bagimu, kau berkata, ”inilah! Ini adalah yang terakhir!” Tetapi ada jalan lain yang terbuka bagimu, di mana kau dilengkapi dengan persedian untuk keberangkatan yang baru. Segera setelah kau melihat tempat pemberhentian, kau mungkin berkata, ”Inilah tujuanku,” akan tetapi tak lama setelah kau sampai, lalu kau bergegas pergi dan mulai lagi.

Demikian pula perjalanan Goenawan Mohamad, yaitu perjalanan terus-menerus tanpa ujung tanpa sudah, yang mirip sebuah epektasis dalam tafsiran seorang guru Kristen Cappadician abad keempat, Gregory dari Nyssa: sebuah perjalanan maju tanpa batas, ”dari awal ke awal melalui awal yang tidak pernah berakhir”. Dalam perjalanan macam ini, kata Ibn Arabi yang rajin mengingatkan, kita dituntut untuk selalu melakukan ”pembaruan ciptaan di setiap saat” (tajdid al-khalq fi’l anat).

Dari sana kita bisa melihat lebih dekat bagaimana Goenawan mempersepsi ruang dan waktu dalam proses perjalanan yang tak pernah selesai itu. Ruang dan waktu bagi dia hanyalah efek dari pembaruan yang tak pernah terputus. Gerakan lahir kita di ruang tak lain adalah refleksi dari kreativitas Tuhan yang terus-menerus. Di sini ada kesejajaran Goenawan dengan Heidegger dan Marleau Ponty. Kedua tokoh ini punya kesamaan dengan Goenawan dalam hal keengganan merencanakan suatu sistem berpikir. Dia hanya mau mengekspresikan rasa heran dan mencari pertanyaan-pertanyaan tanpa rasa yakin bahwa jawaban selalu dapat diberikan. Baginya, pengetahuan manusia selalu fragmentaris, dan ia selalu curiga dengan para filsuf yang berbicara dengan terang dan jelas. Dasar dari cara berpikirnya adalah ambiguitas.

Kalau ditarik ke masalah agama, cara berpikir Goenawan sejalan dengan pendapat Ulil Abshar Abdalla yang mengatakan bahwa Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).”

Sementara itu, pandangan Goenawan yang begitu terbuka bisa dirunut lebih jauh, sejak Heidegger hingga Gadamer sampai Derrida. Heidegger pernah melontarkan sebuah gagasan mengenai segala klaim tentang realitas pada dasarnya adalah tafsiran. Hidup berarti menafsir dan tak ada hal yang luput dari tafsiran. Gadamer juga sepaham dengan Heidegger ketika menyebut hidup dan mengalami adalah bermain, yakni hubungan dialogis tak selesai, perpaduan interogatif antara horizon manusia dan segala di luarnya, upaya perumusan tanpa kata akhir. Derrida meradikalkan. Baginya batas makna dan fakta sangat kabur, selalu dapat dibongkar dan senantiasa guyah.

Sebagaimana pernah disinggung Goenawan, kita hidup dalam tafsir, dan setiap tafsir adalah hasil pemikiran, dan tiap hasil pemikiran tak pernah objektif dan bebas nilai. Setiap tafsir senantiasa menuntut pencarian, perenungan, yang tak cuma mengandalkan akal, tapi juga hati yang individual. Tuhan tak mungkin ditafsirkan sebagai yang menunjukkan kepastian ini atau itu, sebagaimana dalam logika ilmu pasti, melainkan sebuah kemungkinan: hal-hal yang tak selesai. Dengan pandangan ini, maka setiap orang dituntut terus mencari aneka kemungkinan, aneka pandangan dan tafsiran, seraya mempertanyakan rumusan dan konsep yang terlanjur disamakan, dibakukan, dan dianggap tamat.

Goenawan seorang pluralis liberal yang menekankan hidup dalam keragaman yang saling menyapa ketimbang hidup dalam persamaan yang semu. Dalam salah satu Catatan Pinggirnya, ia berkisah tentang Menara Babel yang diabadikan dalam kitab Genesis itu. Pada zaman lampau, ketika manusia di seluruh bumi masih punya satu bahasa untuk mengungkapkan sesuatu, ada sekelompok orang berencana untuk mendirikan sebuah kota di tanah Sinear, dengan sebuah menara di tengah yang tingginya sampai ke langit. Mereka ingin ”cari nama”, agar tak ”terserak ke seluruh bumi”.

Tapi kisah Alkitab tentang Menara Babel ini berakhir muram. Tuhan tahu niat setiap orang. Ia melihat niat itu sebagai siasat manusia meraih kekuasaan adidaya. Tuhan pun turun ke Sinear. Ia buncang orang-orang itu ke pelbagai penjuru, dan Ia kacau-balaukan bahasa manusia hingga mereka tak saling mengerti lagi. Mereka pun berserakan ke seluruh penjuru bumi.

Pesan dari metafor Babel itu amat jelas: Tuhan telah menciptakan keragaman agar orang saling kenal dan saling menghargai, tapi manusia justru memilih kesatuan dan penyeragaman. Tuhan tak berkenan melihat perbedaan harus punah lantaran ambisi manusia akan keutuhan dan keterpaduan. Perbedaan selalu menunda hasrat akan kehadiran dalam proses, dan penyeragaman tak mungkin direalisasikan di sebuah negeri yang terdiri dari aneka-warna perbedaan.

Yang bisa dipetik dari kisah itu adalah: pengukuhan nasib manusia: terserak-serak, tanpa bahasa yang universal, tanpa makna yang dapat diterima jelas kapan saja dan di mana saja. Tapi dari nasib itu bisa datang sebuah kearifan. Seraya mengutip seorang teolog Protestan, Reinhold Niebuhr, Goenawan bilang: ”Tiap peradaban dan tiap kebudayaan adalah sebuah Menara Babel”.

Kisah Babel menjadi refleksi dalam sejarah manusia yang paling purba tentang betapa mustahilnya menyatukan umat manusia ke dalam satu puak yang sama dan seragam. Mereka mesti menyadari bahwa mereka diciptakan secara beda. Tapi dalam sejarah umat manusia, rupanya tak mudah untuk menghargai perebedaan. Sejarah juga mencatat betapa banyak orang yang terluka karena perbedaan suku, atau karna beda keyakinan.

Bila kita pemikiran abad ke-20 lalu yang lihat lagi, maka sangat mudah kita berjumpa dengan pemikir yang menekankan tentang Tuhan yang tidak ada, atau tidak harus ada, karena menurut para pemikir, pengertian kita tentang ada terlalu terbatas untuk ditetapkan pada Tuhan. Saya kira pandangan inilah yang mengilhami munculnya teologi negatif.

Sementara itu, ada pula yang bergerak lebih jauh dengan menegaskan bahwa Tuhan tiada, atau kalau pun ada, ”Tuhan telah mati” (Nietzsche) dan Copjec menyesalkan itu kata Goenawan. Dulu al-Hallaj menyerukan ”Akulah Kebenaran” (ana l’ Haqq), karena keberadaan Tuhan bukan sejenis dengan realitas seperti yang biasa kita alami. Bukan ”Tuhan konsep”, kata Marion. ”Tuhan tidak mati”, kata Goenawan, ”tapi Ia mati sebagai berhala. Ia tak boleh menengok kembali”.

Pascal—ahli matematika terkemuka yang religius itu—dalam kata-katanya Donald B. Calne (2004) yang mengutip Pascal’s Penses (1962), menjatuhkan pilihan pada Tuhan Katolik. Padahal sebelumnya ia sempat mengatakan: ”Tuhan ada atau tidak ada, tak ada pilihan tengah bagi manusia. Sebab nalar manusia tak berdaya memandunya untuk memilih. Seperti permainan melempar sekeping koin dari matauang yang sama dengan akibat yang tak terpermanai tengah berlangsung; di mana satu sisi mesti menang. Sebagai manusia kita harus bertaruh. Tak ada pilihan lain. Tidak bertaruh bahwa Tuhan ada, berarti bertaruh bahwa Tuhan tidak ada. Mana yang akan kita pilih?”

Lain Pascal lain pula Iwan Simatupang yang dengan intim masuk ke pertanyaan ontologi: ”Sejauh mati berarti tak ada, tiada, yang sendiri berarti ada; yaitu adanya tiada itu….bahwa kita tak tahu pasti apakah tidur dan mimpi kita bukan merupakan keadaan bangun kita yang sesungguhnya, dan apakah yang hingga kini kita anggap sebagai keadaan bangun itu bukan keadaan kita yang sedang tidur dan bermimpi sesungguhnya”, tulisnya dalam Ziarah.

Albert Camus, si jenius yang kata-katanya sering membuai-menghayutkan lantaran menulis dengan sangat bagus itu, justru mencibir para filsuf lama yang berwatak idealis dan berkutat di awang-awang dan tetap saja menyibukkan diri dengan masalah tentang Tuhan dan Ada, seraya menutup mata terhadap bahaya-bahaya nyata disekitarnya dan menganggap sepi hipotesis yang mengatakan bahwa ciptaan merupakan hasil dari suatu kebetulan.

Persoalan yang serupa telah dinarasikan juga oleh Heidegger, terutama mengenai uraian tentang waktu dan ada. Heidegger yang lebih dahulu bicara ”kuasa/pengetahuan”, kata Goenawan suatu kali, tidak bicara tentang Ada sebagai semacam Tuhan yang impersonal, sebagaimana dituduhkan Levinas, atau mengarahkan telunjukknya pada Ada dalam arti Tuhan, Ada Transenden. Tetapi Ada dalam pengertian manusia, ada dalam dirinya sendiri, karena menurut Heidegger, Tuhan, jika Ia ada, akan menjadi ada di antara ada-ada yang lain.

Ada dan Mengada adalah dua hal yang beda. Tuhan lebih cocok disebut Ada ketimbang Mengada karena Ada tidak dapat didefinisikan. Ada semata-mata fenomen yang menunggu untuk disingkap melalui keberadaan kita di dunia dan pengalaman yang menstrukturnya. Sementara ”Mengada” dapat dipahami, dapat dilihat dengan indra karena wujudnya yang konkret.

Sekalipun Ada tak dapat didefinisikan, rahasia yang masih perlu disingkap, namun Ada menyapa manusia melalui bahasa, dan melalui bahasa pula manusia menyingkap ”sang Ada”. Pengalaman manusia dengan bahasa sangat unik, sehingga Heidegger memetaforkan bahasa sebagai ”rumah Ada” yang jika kita ingin tahu isi di dalamnya, maka mesti membukanya.

Kaum Heideggerian seperti Brunner, Bultmann, Tillich, Van Buren, Robinson, Bloch, memang telah menarik lebih jauh pandangan Ada eksistensial dari Heidegger ke dalam wilayah ketuhanan. Heidegger tidak sendirian ketika mengkritik anggapan terhadap Tuhan menurut filsafat dan menyarankan untuk segera ditinggalkan, bahkan jauh sebelum Heidegger dan Camus, Budha telah melakukannya. Dan Budha muncul setelah suatu gerakan filosofis yang berlangsung ratusan tahun, kata Nietzsche, konsep Tuhan telah hilang. Namun mengapa kini Tuhan malah ramai didiskusikan kembali?

Dalam situasi dunia yang dikejutkan oleh kehadiran gerakan postmodernisme yang disebut Bambang Sugiharto dalam buku Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat sebagai “mendekatnya filsafat ke puisi, metafora, dan simbol”, ternyata membawa berkah bagi para penulis puisi. ”Sebagai seorang penulis puisi, saya pribadi serasa mendapatkan pembelaan di sini”, kata Goenawan dalam pengantar buku Bambang tersebut. ”Dan kami sedang menunggu apakah Franz Magnis Suseno, sebagai guru filsafat, akan menulis risalah yang bukan dengan cara berpikir filosofis yang logis argumentatif melainkan dengan cara metaforis dan main-main”, tulis Goenawan.

Romo Franz Magnis Suseno memang menulis risalah yang diterbitkan sebagai buku bertajuk Menalar Tuhan (Kanisius, 2006), yang agaknya tak bakal memuaskan dahaga puitik dan estetik Goenawan. Sebab, kendati masih menyinggung pemahaman Tuhan secara analogi atau silogisme, metafora dan simbol, buku ini masih asyik membincangkan penalaran tentang Tuhan yang dirayakan Habermas—yang akhir-akhir ini cukup sering dikritik Goenawan.

Uraian filosofisnya yang logis dan argumentatif justru sangat menonjol. Mungkin karena itu Goenawan harus menulis buku sendiri dengan pendekatan puisi atau khas pandangan puisi, yang baru-baru ini diterbitkan dengan lema agak impresif tapi murung: Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai (Jakarta: KataKita, 2007).

Tentu saja buku itu menarik, dan begitulah seharusnya kita menafsirkan Tuhan. Di dalamnya ada sesuatu yang tak hanya khas, tapi juga penting: kritiknya sering tak berterus-terang, dan lebih dekat pada pasemon metafisik, namun bukan metafisika dalam arti filsafat. Mungkin bisa disebut metafisika labirin. Itulah sebuah pasemon yang cenderung bisu, skeptis, lembut dan diam. Bukan bahana yang keras kepala, atau riak gelombang yang meradang-menerjang.

Karena Goenawan sendiri adalah seorang penyair lirik, yang memilih pengucapan kehening-beningan dengan alusi-alusi yang nyaris tergelincir kepada parodi, tak heran jika pandangannya tentang agama pun terasa sangat puitis. Mungkin layak disebut agama puisi. Kalau pun ada bahasa filsafat di dalamnya, atau psikologi, antropologi, tak lain adalah puisi lirik.

Kendati begitu, dalam esai-esainya tak jarang menggema suara yang menggugat dan menggugah khas Goenawan. Dan pandangan saya tentang Tuhan selama ini seakan ditunjukkannya dengan jelas sebagai genre tanpa genre dan Tuhan ”bukan esa” dalam artian matematis. Lewat Marion, Goenawan akhir-akhir ini begitu fasih mendekonstruksi pandangan orang tentang Tuhan sebagai konsep yang satu. Dengan agak murung tapi kritis, Goenawan menampik apa yang disebut “berhala konsep”: di mana konsep tentang Tuhan seakan menggantikan Tuhan itu sendiri. Betapa besar nganga di antara keduanya, tapi betapa tipis jaraknya ketika masuk ke dalam benak kita, atau menjadi tenun hening jiwa, tatkala mengadahkan tangan memohon ampun pada Tuhan yang entah.

Apa boleh buat, kebanyakan kita memang tidak beriman dengan rasa syukur. Tidak menuntut konsep. Seperti puisi Kitab Suci. Karena dalam puisi, bahasa bisa jadi memang sebuah berhala—atau bahala—karena itu sering terasa nikmat sekaligus khidmat. ”Bahasa, juga bahasa yang dipilih Tuhan, dibentuk oleh bolong dan keinginan”, tulis Goenawan. Karena itu, ”gambaran verbal tentang Tuhan, juga kutipan Sabda-Nya, mau tak mau berangkat dari dunia kata-kata yang terikat, meskipun bergerak untuk menyambut yang tak terpermanai”, tulisanya dalam Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai tatal 14.

Goenawan punya alasan tersendiri mengapa Tuhan belum selesai dibincangkan. Sebab, menurutnya, kita hidup di masa ”ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberikan kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan”.

Saya kira Goenawan betul. Setiap orang sebaiknya dengan bebas membicarakan Tuhannya. Seperti harapan Bung Karno—yang saya kira pernah dikutip Goenawan—yang dilontarkan pada 1 Juni 1945: ”Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan secara leluasa”.

Dalam esai “Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini”, Goenawan mengharapkan kedewasaan sikap umat beragama dengan menggugat pandangan prohibisionisme melalui detotalisasi paham religius demi terwujudnya demokratisasi agama. Kendati belum terlampau kuat, esai ini sudah menunjukkan posisi Goenawan sebagai penyair pasemon, skeptis, tajam dan jernih dalam mengemukakan argumen.

Tak seberapa lama saya berjumpa dengan esai bertajuk “Kemungkinan-kemungkinan Kesusastraan”. Dalam esai ini saya membayangkan tokoh saya yang satu ini menjelma sebagai sosok yang memerankan “kadi pembela” yang gigih terhadap cerpen Langit Makin Mendung Kipanjikusmin dari dakwaan hakim pengadilan dan penguasa politik waktu itu. Pada esai ini saya menemukan gagasan Goenawan yang lebih kritis dan sesekali menohok kepercayaan yang selama ini telah saya yakini.

Semangat melakukan detotalisasi—bahkan juga dekonstruksi—melalui puisi dan bahasa yang avonturir sudah terasa sejak dalam esai ini. Goenawan juga menampik argumen para kritikus sastra yang menolak cerpen tersebut, yang sebagian besar para pemuka Islam seperti Hamka dan Ajib Rosidi, karena menurutnya: Kipanjikusmin dalam cerpen Langit Makin Mendung tidaklah menghina Tuhan. Kipanjikusmin “tidak menghadapi Tuhan sebagai bentukNya, sebab Ia tak bisa dibentuk dengan batasan apa pun. Pribadi yang tunggal dan utuh selalu terlepas dari segala difinisi”.

Argumen-argumen polemis yang serupa muncul dalam esai stilis berjudul “Tuhan dan Dunia Ketiga” yang agaknya dekat sekali dengan kepercayaan pada model the God of small things. Lalu esai bertitimangsa “Ekstream” (esai yang anehnya masih memandang agama yang moderat sebagai corak keberagamaan masa depan), serta esai “Sabda” (ziarah ke Karbala dengan menghayati ketragisan keluarga kalif kempat kita sebagai sabda dan peristiwa, praxis atau pengalaman).

Ketika si anak muda dalam esai Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang masih menaruh minat dan perhatian pada sebuah sintesa pemikiran, agaknya sejak itu pula ia mulai menyadari kalau sintesa kebudayaan ternyata mengandung ilusi juga. Tatkala ia berharap banyak pada kata yang ada definisinya, dikemudian hari ia menyadari betapa rapuh pandangan kata yang ada definisinya itu.

Diskusi yang semarak tentang postmodernisme sejak 1990-an di negeri ini, tampaknya kian menguatkan pandangan Goenawan tentang puisi dan Kitab Suci. Saat ini bukan lagi zaman dialektika, juga bukan ”trialektika” yang heroistik itu, kata Goenawan. Nama dan definisi tak penting-penting amat. Bahkan makna pun sudah aus. Dialektika sudah mati.

Dengan sifatnya yang ironis, kritiknya yang kadang tidak langsung tapi kena, sindirannya yang cerdik, justru membuat esai-esainya terasa berbobot. Apa yang mulai disentuhnya menuntut kita berpikir sekaligus terbuai oleh bahasanya yang menggaya, kendati tak bisa membuat kita tertawa. Ya, Goenawan bukan Mahbub Djunaidi yang tangguh dalam menghadirkan kolom-kolom dengan selera humor yang segar.

Barang kali tak berlebihan bila setelah Pramoedya Ananta Toer dipromosikan sebagai kandidat penerima Nobel Sastra, Goenawan Mohamad adalah orang Indonesia yang kedua yang harus mendapat promosi juga. Jika Pram kini telah tiada dan Nobel Sastra itu tidak pernah jatuh padanya, Goenawan masih terus menulis dengan kualitas yang masih terjaga dan terus menggapai puncak-puncak literer dengan kepiawaian menghadirkan bahasa pengucapan yang indah. Usianya hampir 70 tahun tapi belum ada tanda-tanda untuk berhenti berkarya.

Saya kira kesimpulan Nirwan Ahmad Arsuka dalam pengantar Kata, Waktu (2001) masih belum bergeser: di Indonesia hanya ada dua pengarang terdepan, setidaknya dari segi karya yang telah dihasilkan, yang menulis dengan kualitas yang relatif terjaga dan nyaris tanpa interupsi: Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Kita bisa juga memaklumi jika di Indonesia, kata Nirwan, ada dua jenis esai: esai pada umumnya, dan esai catatan pinggir.

Esai-esai Goenawan di majalah Tempo yang ide-idenya banyak ditakik dari pemikiran mancanegara lewat berbagai jurnal dan situs terkemuka itu, kini telah terbit sebagai buku yang telah memasuki jilid ketujuh. Catatan Pinggir bagaikan ”ensiklopedia berbagai disiplin” dengan daya jelajah yang tiada bandingnya.

Jika ada seorang penulis yang tidak pernah membaca Catatan Pinggir, sungguh tidak gaul dan rugi. Sebab, bila mengikuti pemikiran Goenawan yang dekat dengan bahasa sufi ketimbang teologi itu, kita akan segera bertemu gagasan yang segar dan hidup tentang beragam tema pemikiran, yang dari hari ke hari makin mantap dan mempesona.

Dalam esai “Pembebasan, Agama Ageming Aji…”, Goenawan masih melihat agama sebagai yang dipercaya bisa memberi harkat namun harus dilihat dari pas tidaknya baju zirah yang kita pakai sehingga kita bisa menghargai perbedaan dalam memilih tata keimanan. Lalu ada esai panjang yang terbit di Ulumul Quran berjudul “Mencoba Berbicara tentang Iman”—esai yang membuat saya berdecak kagum lantaran uraiannya begitu stilis dan tafsirnya begitu liris yang kini bisa dibaca dalam buku Setelah Revolusi tak ada lagi. Esai ini sudah menyinggung soal “praksis eksotopi” yang kelak dibahas secara lebih kokoh dalam buku Eksotopi: Tentang Kerkuasaan, Tubuh, dan Identitas. Di sini Goenawan memandang iman sebagai proses pencarian terus-menerus yang tak selesai. Di sini Goenawan bukan pengikut Nietzsche sehingga ia tidak menganggap “iman sebagai penjara”.

Demikian pula ketika Goenawan memberikan kata pengantar buku Nurcholish Madjid (Cak Nur): Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Ketika masuk ke dalam bahasan tentang Ke-Maha-Esa-an Tuhan dalam surat al-Ikhlas yang dijadikan sandaran Cak Nur, Goenawan mewanti-wanti agar pendapatnya tidak disalahpahami oleh pikiran yang sempit, terutama ketika mengatakan: “Kata esa dalam ‘Yang Maha Esa’ berarti juga yang singular, unik, tak bisa dipersamakan, yang secara mutlak tak ada yang menyamai dan secara mutlak pula tidak bisa diacu oleh kategori apa pun karena setiap kategori mendasarkan dirinya pada kesamaan”.

Dengan pemahaman itu, kata Cak Nur dalam ceramah di TIM, maka kita senantiasa harus berusaha membebaskan diri dari belenggu palsu itu, dengan menyatakan ”La ilaha…, tidak ada suatu tuhan apapun, kemudian kita harus tetap pada jalan pencarian Kebenaran yang tulus, dengan mengucap ”illa l-Lah, kecuali Allah; yaitu Tuhan yang sebenarnya, yang lepas dari representasi, visualisasi dan gambaran kita sendiri, yang tak mungkin diketahui manusia namun dapat dan mesti senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nyauntuk memperoleh perkenan atau ridla-Nya.

Cak Nur cukup sering disinggung Goenawan, terutama ketika menulis Tentang Atheisme dan Tuhan yang tak harus ada di Kompas (6/10/2007). Bagi Goenawan, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata. Kata Tuhan, kata Goenawan, hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

”Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya”, tulis Goenawan. ”Signatum (“petanda”) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain. Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: ’Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha’. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa ’Buddha’ atau ’Tuhan’ yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang ’Buddha’ dan Sang ’Tuhan’ yang tak terwakili oleh kata itu”.

Bagi Goenawan, agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: ’Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah penanda, dan tak bisa dicampuradukkan dengan petanda yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, maka “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain. Dan ini jelas satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.

Seperti Goenawan, Cak Nur tak henti-hentinya mengatakan, seraya mengutip Ibn Arabi, bahwa kaum sufi menegaskan kemustahilan mengetahui Tuhan, karena Tuhan memang tidak dapat diasosiasikan dengan apa pun juga. Oleh sebab itu, kata Cak Nur, ”barangsiapa merasa mengetahui Tuhan, maka sesungguhnya justru bertanda bahwa ia tidak tahu apa-apa”.

Dengan kata lain, ”setiap usaha memvisualisasikan Tuhan akan berakhir dengan berhala dan penyembahannya”, tulis Cak Nur dalam Kehidupan Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang. Selanjtunya Cak Nur mengaitkan merosotnya kepercayaan dengan hilangnya makna hidup dengan mengutip satu pendapat Bertrand Russel:

Dan yang berfungsi sebagai berhala itu tidak hanya yang berwujud patung atau representasi mitologis tentang Tuhan, melainkan juga termasuk pikiran kita sendiri dan pendapat kita yang kita mutlakkan menjadi seperti Tuhan (padahal yang mutlak hanyalah Tuhan saja). Dan setiap paham keagamaan yang mencoba memvisualisasikan Tuhan, cepat atau lambat tentu akan ditinggalkan umat manusia yang semakin maju ini, dan akan mencoba menjadi tidak lebih dari sistem mitologis dan dongeng palsu belaka.dan efek merosotnya kepercayaan (yang toh palsu) itu akan mempunyai dampak hilangnya makna hidup pada orang atau umat bersangkutan. Mengenai orang yang kehilangan makna hidup ini, Russel mengatakan: ’Anda tidak akan pernah tahu rasa putus asa yang mendalam, yang diderita leh orang-orang yang hidupnya tanpa tujuan dan kehilangan makna’ ”.

Saya kira Goenawan juga banyak sepaham dengan tafsiran Cak Nur tentang memvisualisasikan Tuhan yang akan berakhir dengan berhala, tak hanya berhala dalam arti patung, tapi juga ”berhala konsep”. Goenawan mungkin tidak atau belum mengatakan bahwa Tuhan yang dibayangkan sebagai satu adalah Tuhan yang menipu atau mengganggu. Malah tafsirnya atas Tuhan yang maha esa sebagai yang singular dan unik itu, dan yang dipeluk teguh mayoritas muslim itu, justru mengingatkan pandangan “teologi negatif”, di mana Ibn Arabi bisa kita sebut salah satun penganut teologi negatif. Dalam teologi negatif, katan Goenawan, mustahil menemukan padanan Tuhan yang tepat, baik terhadap manusia maupun alam semesta, sebab setiap ikhtiar membuat analogi antara Tuhan dan diri kita akan sesat.

Dalam teologi negatif, bahkan secara imajinatif sekalipun, tidak ada yang menyerupai-Nya. Karena itulah, dalam pandangan ini, pemberhalaan ditampik karena akan dianggap suatu pemahaman tentang Tuhan, yang kemudian pemahaman itu akan dianggap sudah merupakan representasi Tuhan yang final.

Pemikiran Nietzsche dan Derrida rupanya mampu mengundang Goenawan untuk ikut berbincang tentang teologi negatif. Teologi negatif, seperti pernah dikatakan Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya tentang Derrida, menegaskan bahwa kita sama sekali tidak dapat berbicara tentang Tuhan karena kemustahilan-Nya untuk diketahui. Pengetahuan yang kita susun tentang Tuhan merupakan reduksi terselubung terhadap kebenaran-Nya yang tak terbatas. Teologi negatif mengajarkan satu hal, bahwa setiap klaim atas kebenaran selalu dimulai dengan ”negativitas”. Dalam gagasan differance Derrida, ketidak mungkinan untuk mengklaim atas kebenaran diradikalkan hingga tahap yang benar-benar tak mungkin untuk kita bayangkan.

Goenawan menaruh minat kuat pada pandangan teologi negatif tentang Tuhan. Ada banyak pertanyaan yang mengarah kepada diskusi ihwal ketidakmungkinan untuk mengetahui tentang Tuhan, bahkan untuk sekadar membayangkan-Nya pun tidak mungkin.

Buku-buku Goenawan yang bicara tentang Tuhan, selain esai-esai pendek dalam buku seri Catatan Pinggir, terdapat dalam buku Setelah Revolusi tak ada lagi dan Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai. Buku yang terakhir sangat unik dan cantik. Goenawan menampilkan bentuk lain dari Catatan Pinggir, walau sebenarnya tak jauh beda. Bahkan sebagian besar esai di dalamnya pernah muncul dalam Catatan Pinggir.

Goenawan menyebut Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai sebagai ”percikan” atau ”tatal”. Di dalamnya memuat 99 tatal, yang masing-masing bisa berdiri sendiri, tapi beberapa masih bisa dikatakan memiliki keterkaitan. Goenawan menulis: ”kata seperti ’percikan’ atau ’tatal’ bisa dipakai di sini, sebab ini bukanlah suatu risalah yang utuh.… Ke-99 ’percikan’ ini terkadang bisa dibaca sebagai bagian yang saling mendukung atau saling membantah, terkadang bisa dibaca sebagai tulisan yang berdiri sendiri-sendiri.”

Agama yang dipeluk Goenawan adalah agama puisi yang memberikan pergulatan yang paling sunyi sekaligus paling pribadi. Agama puisi adalah agamanya Tagore yang tidak menempatkan nilai religius sebagai tata-normatif dengan sejumlah perangkat ritual yang sudah disiapkan untuk dikerjakan. Agama puisi lebih dekat dengan agama penghayatan dengan pencarian yang belum sudah, dan mungkin tidak akan pernah sudah.

Dalam esai Goenawan yang terbit di Bentara/Kompas: Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada, seakan menegaskan kembali mengapa kita masih mengangap penting untuk membicarakan Tuhan dengan rasa syukur dan rendahhati, sekalipun jelas-jelas kita tak mungkin untuk mengetahui Tuhan. Mungkin karena Tuhan sebagai hal yang mungkin tidak, tapi sekaligus yang mungkin ya. Atau, seperti kata Goenawan mengingatkan, sekalipun kita hidup dalam arus sekularisasi yang selalu curiga pada agama, yang namanya Tuhan tak hentinya diseru, hampir tanpa jeda dalam tiap kurun, sementara ”agama” sendiri tidak mati, sebagaimana ramalan kaum sekuler, malah menunjukkan wajah yang serba meruwah dalam setiap ruang kehidupan, dari yang paling intim personal sampai pada urusan publik”.

Dalam Sacred and Secular (2004) karya Pippa Norris dan Ronald Inglehart, yang diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Zaim Rofiqi menjadi Sekularisasi Ditinjau Kembali (2009), melakukan survei terhadap 80 masyarakat di dunia dengan kesimpulan bahwa dunia tidak pernah tersekulerkan sepenuhnya. Kedua pengarang ini secara spesifik melihat hubungan antara apa yang mereka sebut existential security, atau rasa aman eksistensial, dengan sekularisasi.

Dengan begitu, kata Ihsan Ali Fauzi Panggabean, wilayah riset tentang sekularisasi diperlebar, tapi faktor penjelas sekularisasi tersebut dipersempit. Data-data kedua tokoh itu menunjukkan kalau kelompok masyarakat dunia yang hidup sehari-hari anggotanya dipengaruhi oleh ancaman kemiskinan, penyakit, dan kematian dini tetap religius sebagaimana mereka religius seabad yang lalu. Namun, mereka juga mengalami ledakan penduduk yang cepat. Sebaliknya, di masyarakat-masyarakat yang kaya, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa sekularisasi sudah berlangsung setidaknya sejak pertengahan abad ke-20 (mungkin lebih awal), tapi pada saat yang sama, tingkat pertumbuhan penduduk di sana stagnan.

Jika dikombinasikan, catat Norris dan Inglehart, kecenderungan-kecenderungan di atas menunjukkan dua hal penting. Pertama, masyarakat-masyarakat yang kaya menjadi makin sekular, tetapi dunia secara keseluruhan makin religius. Ini akibat pertumbuhan penduduk yang jomplang, di mana yang miskin bertambah banyak dan religius.

Agama ternyata tidak punah walau pun manusia sudah memasuki abad industri. Keyakinan agama akan lenyap dan digantikan kearifan konvensional dalam ilmu pengetahuan, ternyata tidak terbukti. Agama bahkan tidak kehilangan sisi pentingnya. Kant, Comte, Marx, Weber, Durkheim, Berger, ternyata salah. Masyarakat ternyata masih bersandar kuat pada iman. Berger memang telah merevisi pendapatnya di tahun 1997, dan dengan jujur mengakui kalau ramalannya itu salah.

Soedjatmoko pernah mengutip pernyataan filsuf Prancis, Andrea Malraux, yang meramalkan bahwa abad ke-21 akan menjadi abad keagamaan. Agama dengan pesat tengah mengambil kembali tempat yang didudukinya pada abad-abad yang telah lampau, pada waktu mana ia diakui sebagai kekuatan pemberi motivasi yang besar bagi sejarah umat manusia.

“Di banyak bagian dunia saat ini, dapat diamati semakin besarnya intensitas keagamaan”, tulis Soedjatmoko dalam esai Antara Transendensi dan Sejarah. Oleh karena itu, suatu pertanyaan diajukan Koko yang dianggap amat mendesak, yaitu bagaimana, dalam periode yang ditandai oleh semakin kuatnya intensitas keagamaan, agama-agama dapat memperbaiki keretakan. Bagaimana agama dapat melakukan hal itu tanpa memasukkan dogmatism, sikap fanatic dan tidak toleran ke dalam system social yang telah terkoyak-koyak oleh konflik?

Di sinilah pentingnya pluralisme yang bukan sekedar menerima perbedaan. Dalam sebuah esai pada tahun 1980, From Secularity to World Religions, Berger, yang dikutip Goenawan Mohamad, menunjukkan dinamika lain di masa kin, yaitu pluralisme. “Kepastian subyektif” dalam beragama tak ditopang lagi oleh satu kesatuan sosial yang padu sebagai penyangga. Dunia kini warna-warni, di mana yang ada bukan sepasukan “jahiliah” yang utuh menghadapi sepasukan “mukminin” yang tunggal. Keretakan, atau beda, di mana-mana sudah tampak.

Perdebatan soal sekularisasi berkembang lebih jauh dan tak lagi berkutat ke dalam persoalan pemisahan agama dan negara. Sekularisasi yang berlangsung berabad-abad itu, kata Goenawan dalam esai Pasca-Sekuler, akhirnya justru melahirkan zaman ”pasca-sekuler” yang mengakui kompleksitas manusia, enigma hidup dan mati, dan keanekaragaman tafsir. Modernitas pernah tak hendak mengakui itu, dan tampillah sisinya yang brutal dan takabur. Pada saat inilah agama justru dapat jadi bahasa alternatif, memberikan kearifan dari posisi yang tergetar oleh bayang-bayang yang sakral—getar yang hilang ketika agama sibuk dalam kalkulasi kekuasaan dan bentrok.

Goenawan bukan satu-satunya yang bicara zaman pasca-sekuler. Tahun 2006 Hedgehog Review mengeluarkan edisi bagus dengan tema After Secularization. Sayang, isinya tak menunjukkan bahwa kita sudah berada di wilayah sesudah-sekularisasi.

Melangkah lebih jauh, Goenawan juga masih asyik bicara ihwal lama tentang paham ketuhanan. Apa yang disebut theisme dan atheisme dalam tilikan Goenawan ternyata banyak membuat orang salah sangka. Terutama ketika mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan pasti, seperti satu dalam filsafat matematis yang dianut kaum modernis.

Para pengikut atheisme bahkan lebih parah lagi. Dengan meminjam gagasan Marion dan Heidegger serta estetika dalam lukisan Matisse, Goenawan membongkar anggapan tentang Tuhan kaum atheis seraya menegaskan persoalan Tuhan bukan seperti pengalaman yang dapat diringkas dan diringkus jadi konsep: seperti ”berhala konsep”, kata Marion.

Tapi dari situ Goenawan jadi sangat kritis terhadap Marion, terutama ketika mencontohkan Gottheid yang hendak digayuh Eckhart itu, yang akhirnya tak bebas dari sejarah dan bahasa, bahkan merosot jadi berhala juga. Goenawan lalu menjadi sangat khas postmodernis tatkala menjunjung semangat ”dari tafsir ke tafsir” yang tak selesai dari Derrida. Lalu dengan gigih menempatkan filsafat sebagai yang telah mendekat ke arah puisi, metafora, simbol, yang menuntut pencarian terus-menerus tentang bahasa dan gramatika. Atau ”hidup dengan keterbatasan karena bahasa”.

Mengapa bahasa? Kalau boleh meminjam pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam esainya yang berjudul Masalah Tuhan Dalam Kesusastraan (1953), walau pun bukan pada konteksnya, karena bahasa, kata dan istilah bergeser-geser pengertiannya—juga pengertian tentang Tuhan—sepanjang waktu dan keadaan untuk mendapatkan kematangannya sendiri.

Dengan bahasa, seperti bahasa, maka dunia terikat oleh ruang dan waktu. Bahasa berubah disebabkan oleh waktu dan ruang yang berubah. Maka pandangan manusia pun berubah. Kini segalanya menjadi relatif, bahkan nihilis. Sebagaimana bahasa tak mungkin menjangkau Tuhan, atau Tuhan tak punya makna yang hadir, maka bisa terjadi Gempa Kata tulis Sutardji Calzoum Bachri: kata atau bahasa mengalami gempa, retak bertumbangan, runtuh, simbol dan metafora bisa porak poranda.

Kendati tidak bicara dalam konteks yang sama, karena ia sendiri bicara tentang posisi kata dan bahasa dalam puisi, Tardji sadar akan posisi kata dan makna yang bukan segala-galanya. Sementara Goenawan saya yakin tak menempatkan pada mulanya adalah kata kamusan. Apa yang disebut kata atau bahasa, bisa jadi dalah sebuah titian kecil menuju keragaman pemaknaan, bukan dengan jalan prosa, tapi lewat puisi yang tak terikat oleh ruang dan waktu.

Dan ini sejalan dengan apa yang pernah digagas Amin al-Khuli dan Nasr Hamid Abu Zayd dalam Metode Tafsir Sastra, walau tak begitu menggugah. Amin al-Khuli mengusulkan untuk menafsirkan Quran dengan puisi. Mengapa puisi? Karena puisi bisa sedikit menjamin kita untuk tak terjebak pada akidah tunggal. Puisi akan menjanjikan pada pembaca untuk senantiasa melakukan penafsiran dan tidak melakukan tindak gegabah di dalam membuat klaim; menjaga si penerjemah untuk tak menjadi orang alim hanya secara taklid semata.

Tapi mungkinkah saya percaya pada Islam tanpa taklid? Di sini saya mesti masuk sejenak ke dalam takwil, atau tafsir metaforis. Saya teringat pada sisi lain al-Ghazali yang pernah memperlihatkan gagasan yang sangat berani dalam mengemukakan eksistensi Tuhan dan mempertanyakan pandangan-pandangan lama tentang Yang Maha Dasar itu. Dalam karyanya, Miskat al-Anwar, atau terjemahan Indonesia: Miskat Cahaya-Cahaya. Al-Ghazali memang masih memandang eksistensi Tuhan sebagai cahaya-cahaya kebenaran, dan melalui pantulan cahaya-cahaya itu katanya, keberadaan Tuhan tak dapat disanggah. Ini jelas pandangan analogis sekaligus metaforis, walau sangat beda dengan Nietzsche yang mengatakan: “Akulah Sang Bayang-Bayang Keabadian” dalam Demikianlah Sabda Zarahustra yang terkenal itu.

Sebuah takwil adalah sebuah pilihan yang sadar berdasarkan keterbatasan bahasa dan kepentingan masing-masing orang yang menggunakan tafsir. Karena tafsir hakikatnya terbatas, maka bahasa agama pun terbatas dan masing-masing pribadi bisa jadi akan punya penafsiran dan bahasanya sendiri dalam mengungangkapkan indahnya pertemuan dengan Tuhan.

Dan setiap mufasir, seperti diakui Goenawan sendiri, tak sepenuhnya bisa melepaskan diri dari pelbagai unsur dalam dirinya dan bahkan masyarakatnya. Konteks sosio-budaya dan jenis pengetahuan seseorang akan ikut menentukan. Inilah yang pernah dikupas dengan sangat menarik oleh Amin al-Khuli dalam esai tentang tafsir yang hampir tidak mungkin dapat menghindar dari watak, sifat, pengetahuan, atau warna si penafsir. Tujuan seorang penafsir tak pernah tunggal dan seragam. Keberagaman muncul seiring dengan keragaman pengetahuan manusia. Maka, apa yang disebut dengan memparafrasekan, selalu meniscayakan penyepuhan di sana dan pewarnaan di sini, entah dengan warna putih, merah, kuning, abu-abu dan…

Jika dalam menakwilkan Quran terdapat warna teologis, warna fikih, warna sosiologis, warna antropologis, warna filsafat, dan warna si penafsir sendiri, maka seorang penyair mau tak mau akan membawa-bawa warna puisi dalam tafsirnya terhadap Kitab Suci. Sebab dalam Quran sendiri, Tuhan membahas secara khusus tentang kisah-kisah atau cerita yang menyinggung puisi dan penyair. Kalau penyair tida diperbolehkan menafsirkan Kitab Suci, apakah bukannya justru menentang kehendak Tuhan sendiri?

Shahnon Ahmad pernah menelusuri ayat per ayat dalam Quran dan menemukan sebanyak 227 kali isyarat tentang puisi atau penyair disinggung Tuhan. Hal ini tak berlebihan, mengingat Kalam ini turun ke dunia tepat setelah masyarakat Arab mengenal cita rasa sastra. Ketika Kitab Suci ini dilisankan Tuhan kepada Muhammad melalui perantara Jibril, dan disampaikan Muhammad kepada sahabat dan masyarakat Arab, maka saat itu telah muncul orang-orang Arab yang sastrawan atau pujangga.

Fazlur Rahman memang menolak jika Quran untuk didekati dengan puisi, dengan alasan yang menurut saya kurang meyakinkan. Rahman khawatir jika pendekatan puisi diterapkan untuk membaca Quran, karena susunan ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah akan tereduksi. Seorang mufasir yang menggunakan metode puisi dalam membaca Kitab Suci memang tidak harus mengotak-atik soal Makiyah dan Madaniyah lagi, sudah terlalu banyak buku-buku tafsir yang membahasnya. Lebih baik menyelam kedalaman kemaknaan dan stilistika.

Dalam Quran memang terdapat beragam muatan puisi dan prosa. Kisah nabi Adam dan Hawa, kisah nabi Musa, Isa, Yusuf, Sulaiman, Daud, dan cerita kaum Ad dan Thamud, cerita Ashabul Kahfi, Ashabul Fil, Isra’-Mi’raj, Ibrahim dan keluarganya, merupakan kisah-kisah dalam bentuk puisi sebagai kisah-kisah.

Bila dibandingkan sebagai kitab hukum, kitab ekonomi, kitab politik atau peradaban, Quran sangat pantas menyandang titel sebagai kitab sastra sepanjang masa. Mengungkap semesta metafora ayat-ayat mutasyabihat dalam Quran bisa menyuguhkan kemelimpah-ruahan makna yang selama ini masih tersembunyi. Soal benar dan tidakbenar, soal tepat atau tidaktepat, biarlah Tuhan yang menentukannya kelak, kita sebagai manusia hanya bisa melakukan kemungkinan salah dan kemungkinan benar.

Tetapi, yang penting diingat juga, setajam apa pun tafsir puisi atas Injil atau Taurat misalnya, ia lebih sebagai upaya menggugah jiwa dan bukan untuk mengeluarkan hukum. Hasil tafsirnya lebih menganjurkan kepada ikhtiar dan ijtihad, bukan untuk mengambil keputusan yang padu dan bulat. Memberikan inspirasi terhadap pikiran dan jiwa, bukan untuk mengeluarkan hukum syariat. Tafsir puisi atas kitab suci lebih sebagai gambaran puitis daripada peristiwa historis.

Dengan mengakui ini, maka apa yang penting dalam zaman ini adalah kerendahan hati serta mau berdialog. Setiap tafsir akan dituntut kesetaraan yang sadar-diri, bukan meraup nilai berlebih-lebihan atau terlampau taat asas. Soal iman dan taukhid bukan sesuatu yang dirumuskan sekali sesudah itu dianggap selesai sekali untuk selamanya. Pemaknaan kata Tuhan sendiri menuntut kita untuk mencarinya tanpa henti kecuali sudah mati.

Para penganut theisme yang mempercayai “Tuhan yang Maha Esa” atau Tuhan yang satu itu, dan yang juga dianut sebagaian besar para teolog yang percaya pada teori revalasi (teori wahyu) atau teori monotheisme, bukan tanpa kritik. Sebagaimana ditunjukkan dengan kritis oleh Goenawan dalam telisik mengenai 99 tatal atau percikan penghayatan tentang Tuhan dan hal-hal yang mungkin tak selesai. Pernyataan bahwa ”Tuhan satu” adalah taukhid yang tak berhubungan dengan Tuhan, karena dalam kalimat itu menyatakan Tuhan dengan makna yang hadir. Lagi pula pakai bilangan satu lagi, yang dalam matematika jelas satu itu logis dan pasti. Padahal tafsir tentang Tuhan, kata Goenawan, bukan untuk menghadirkan Tuhan konsep, Tuhan sebagai satu yang logis.

Ketika Tuhan mengatakan dalam Quran: ”Ke arah manapun kau berpaling, ada wajah Tuhan”, itulah pesan Tuhan yang dalam tatal ke-60 buku Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai ditafsirkan Goenawan sebagai ”Tuhan yang berbeda, bukan sebagai sama, bukan sebagai satu, karena satu itu palsu, seperti sapu lidi, meskipun padat dan pejal, ia bukan satu, tapi berbeda”. Seperti pesan dalam buku Tao Ching yang dikutip Goenawan dalam tatal 61, Tuhan ”tak bernama, itulah Bunda semua hal-ikhwal”. Dengan mengatakan ”Allah itu esa”—yang padanannya adalah eka atau satu—maka menurut al-Hallaj, kita telah menambahkan sesuatu pada taukhid. Memandang Tuhan dengan cara itu justru menganggap Tuhan hanyalah ketergantungan belaka. Padahal bagaimana pun, ketergantungan bukanlah sifat Tuhan. EsensiNya bisa jadi singular, sementara kata adalah sifat esensi, bukan esensi itu sendiri.

Apa yang dikatakan al-Hallaj puluhan abad lampau itu, bisa kita telusuri dalam pemaknaan taukhid yang dikemukakan Nietzsche dalam Anti-Krist. Nietzsche menohok konsep taukhid dalam kepercayaan Kristen dan beberapa pemikiran para filsuf (termasuk Kant). Bagi Nietzsche, satu Tuhan yang bisa menyembuhkan sakit dan dapat menjadi pelindung umat, kalau pun ia benar-benar eksis, tetap layak diabaikan.

Pandangan bahwa Tuhan satu tak lain adalah bentuk dari ”silogisme pendeta”, kata Nietzsche, atau ”silogisme Rasul”—kalau boleh meminjam istilah Hassan Hanafi dalam buku Dari Akidah ke Revolusi ketika ia menyinggung buku Aqiyisat al-Rasul (Kias-kias yang dilakukan para Rasul).

Mengganggap Tuhan sebagai satu, secara konseptual dapat terjerumus ke dalam syirik. Nietzsche mengkritik paham taukhid bilangan dengan meyebutnya sebagai ”takdir Tuhan”, ”Tuhan sebagai satpam yang berjaga di pintu rumah”, serta ”Tuhan sebagai kalender dan pelayan domestik”, kata Nietzsche.

Konsep tentang Tuhan ”melingkupi kata ’kami’ sebagai pengganti subyek-subyek”, kata al-Hallaj kemudian, bukan kata ”saya” yang tunggal: ibarat anak busur, Tuhan melintasi subyek-subyek, menerjang dan menjungkirbalikkannya. Menyatakan suatu bilangan satu meniscayakan adanya kondisi yang terbatas. Subyek nyata dari taukhid justru bergerak dalam pusparagam subyek-subyek karena Tuhan berada tidak dalam subyek, bukan pula dalam makna obyek yang jelas, bukan pula dalam hal pengganti keduanya. Puncak dari keadaan pronominal (tak bernama atau tak berbilang) taukhid tidaklah menyertakan sang subyek-subyek. Tuhan tak pantas dikaitkan dengan nama dan Tuhan tak pantas dikaitkan dengan bilangan.

Goenawan, walau tidak eksplisit, tak hendak mengatakan bahwa Tuhan adalah nol, walau satu sudah disebutnya menipu. Dan ini sangat dekat dengan sebuah ”taukhid hibrid” yang menolak penunggalan, kesatuan, serta tak menuntut sebagai sosok yang hadir secara kasat mata. Tidak ada yang solid, juga iman, juga Tuhan. Namun, Goenawan juga mengingatkan kita: Tuhan bukan pernyataan taukhid.

Dan sejak dahulu para pemikir diam ketika Tuhan adalah Tuhan. Nietzsche, kita tahu, ia memilih jalan ”menegasikan” Tuhan, karena kita dapat mengetahui lebih banyak tentang apa yang bukan Tuhan ketimbang tentang apa adalah Ia. Maka pilihan yang paling bijak dari semua kebijaksanaan adalah mengatakan “Tuhan telah mati”. Dan pasca-kematian itu, Ia akan hidup dan lebih hidup dari hidup itu sendiri. Maka Nietzsche pun menghampiri Tuhan yang menari.

Karena saya sudah menyinggung soal ”Tuhan yang hidup” segala, maka izinkan saya menurunkan pemetaan Octavio Paz—penyair dan esais yang jejaknya sering terbaca samar-samar dalam sejumlah esai dan sajak Goenawan Mohamad—ikut mengenai atheisme di Amerika Latin dalam esai From Alternating Curren yang diterbitkan dalam buku analekta Latin-American Literature Today (1977). Gagasan Paz tentang atheisme dipuji Mangunwijaya sebagai esai sangat bagus tentang atheisme dari seorang penyair dan esais. Paz mengatakan: atheisme bersifat mondial dan memiliki cabang. Ada atheisme yang percaya pada Tuhan yang hidup. Tetapi bagi Paz, atheisme ini menganggap seolah-olah Tuhan tidak pernah ada. Pada atheisme jenis ini Paz mengatakan: inilah atheisme tulen dan kebanyakan orang Amerika Latin yang Katolik, justru berada dalam golongan ini.

Sementara golongan lain, adalah atheisme semu. Disebut semu karena atheisme jenis ini percaya akan Tuhan yang tidak pernah mati, sebab Ia tak pernah ada. Namun sangat disayangkan bahwa golongan pemuja atheisme ini justru meyakini sejenis ”Tuhan-tuhan baru”: nalar atau rasio, gagasan tentang kemajuan, dan sejarah yang tamat. Golongan ini pun masih terbagi dua; yaitu yang ditunjukkan dalam tokoh yang gila namun jenius dalam karya Nietzsche, dan mereka yang menjadikan atheisme sebagai laku-iman. Kedua cabang ini sama-sama mengekspresikan Tuhan secara religius, sabar, tawakal, dan rendah hati, namun guyah.

***

Dalam konteks bilangan, Goenawan lebih tertarik bicara tentang dunia pasca-Pencerahan, sebab dunia yang kita diami di hari ini ”bak sebuah bazar, di mana bukan satu, melainkan berbagai eksperimen iman, aneka agama, dan masing-masing tampak bagaikan ’satu intan dua cahaya’”. Karena kita hidup abad ke-21, di mana ”manusia tak akan lagi melahirkan sebuah bintang” sejak Zarahustra lahir dari sang pencinta Tuhan yang menari, maka yang penting bukanlah hasil, melainkan proses. Bukan yang pasti, tapi janji.

Kini segalanya menjelma sebuah proses. Dan Kebenaran pun sebagai proses. Iman sebagai proses. Tuhan sebagai proses. Kemudian ”sejarah sebagai proses”. Goenawan menggugat sejarah dengan cara bertanya, sebuah pertanyaan yang disukai oleh kaum postmodernisme katanya dalam Tokoh (1/2/199), adalah: ”di mana ada subyek yang kukuh dan solid, ketika tubuh dan jiwa ternyata tidak bisa menentukan dirinya sendiri?”

Karena itu, sejarah bagi Goenawan mirip seperti sebuah pasemon dalam ”metafisika labirin”—sebuah genre sastra fantasi yang menggantikan metafisika lama yang dianut Thomas Aquinas dan Ibn Rushd. Dalam telisik tentang Jorge Luis Borges—tokoh yang juga memukau Goenawan jauh sebelum karya Labirin Impian (1999) diterjemahkan Hasif Amini—Goenawan mengatakan: apa yang dinamakan filsafat dan hasil pemikiran umumnya, mungkin saja sebagai ”suatu cabang dari sastra fantasi”. Dan ”seperti para ahli metafisika labirin, yang penting adalah berlomba-lomba mengejar kedahsyatan”, juga ”seperti sebuah gairah dalam permainan yang tak selesai”.

Labirin adalah lorong terkenal dalam kisah-kisah leluhur, yang kon ditemukan oleh Daedalus atas perintah raja Minos. Mirip seperti kisah dalam Jalan Setapak Bercecabang dan kisah tentang seorang pengarang bernama Ts’ui dalam prosa Borges, labirin penuh misteri yang tak terjamah, hanya sebuah jejak yang rahasia.

Tahun 1988 Goenawan juga menyebut sebuah dongeng dari Borges tentang misteri angka 2-0 dari suatu pertandingan bola yang mengasyikkan dan menyuguhkan suspens diam-diam yang tak terduga. Sampai-sampai Goenawan bilang: dalam dongeng Borges tentang kota Babilion itu, ”tak ada hukum dan tak ada rumus yang berlaku umum” seperti ketika kita memasuki ”lorong panjang yang gelap” yang tak berujung. Namun di sinilah paradoksnya, seperti kata Borges: apa yang kita alami adalah sebuah khaos yang ”sekali-sekali berbaur masuk kosmos”. Sebuah tafsir yang tak berakhir dengan ”labirin berujung tunggal” (mencuri istilah Nirwan Ahmad Arsuka secara terbalik). Melainkan pasemon metafisik labirin yang menawarkan sebuah kelana dalam proses yang tidak mengenal ketamatan.

Dengan kata lain, sebuah sikap yang—mengutip kata-kata Goenawan sendiri—“suatu kecenderungan untuk selalu menyangsikan kepercayaan” karena yang namanya ”kepercayaan” selama ini senantiasa dianggap selesai. Menyangsikan, bukan menolak. Karena Goenawan masih mengusulkan bentuk ’kepercayaan di luar segala hal-ikhwal. Ragu memungkinkan orang untuk mencari. Keyakinan yang hidup bukan sebuah patokan yang telah disiapkan, melainkan sebuah kelana dalam proses.

Jika Borges dan Goenawan terpesona oleh misteri angka 2 : 0, Ayu Utami justru melakukan pencarian lewat 1:0 dengan menempatkan nol sebagai bilangan Fu: bilangan mistik. Namun antara Ayu dan Goenawan sama saja; sama-sama ber-laku-kritis terhadap monotheisme yang dipeluk teguh kaum sejarawan agama.

Dalam setiap pencarian, bisa saja saya mengalami ketidakpastian dan terus-terusan dirundung keraguan. Bahkan mungkin keraguan yang paling murung. Goenawan menyorot sejumlah pandangan filsafat yang mengarah pada apa yang disebut oleh Unamano dan Michel A. Weinstein dalam pengantar buku Agama dan Akal Pikiran: Naluri Rasa Takut dan Keadaan Jiwa Manusia Francisco Jose Moreno sebagai agonic doubt (keraguan yang menyengsarakan) daripada hanya sekadar mengarah kepada keragu-raguan metode Cartesian.

Dengan kesangsian, keraguan, Goenawan telah meletakkan sikap puitis ke dalam filsafat dan menunjukkan bahwa ”filsafat pada akhirnya adalah puisi”. Inilah suatu ikhtiar Goenawan untuk terus mencari dan menemu tafsir dalam kebimbangan. Sebuah skeptik yang berbau-prosa Nietzschean. ”Kegairahan pikiran, kebebasannya melalui kekuatan dan kekuatan superior, dibuktikan dengan skeptisisme”. Dan ”keyakinan adalah penjara”, tulis Nietzsche dalam Anti-Krist.

Karena itu, ketika bicara soal iman pun, Goenawan sering membubuhkan laku-kritik dengan menekankan sebuah proses pencarian yang ”mengurung” kebenaran. Artinya, kebenaran bukanlah sesuatu yang sudah pasti dan tertutup dan langsung bisa disimpulkan. Kebenaran ibarat lautan luas tak bertepi yang setiap orang dan setiap masa bebas memberi tafsir.

Tuhan sendiri tak harus ada pasti, karena pemahaman kita tentang Tuhan bersifat kemungkinan. Dan tiap-tiap pembacaan sudah tentu meniscayakan keragaman sekaligus keterbatasan, ibarat sebuah ”riak gelombang tafsir yang tak pernah selesai”, untuk memakai istilah GM sendiri dalam esai Labirin.

***

Goenawan menganut tafsir pluralis. Gaya epigramnya yang khas dalam mengkritik pendapat orang lain yang dianggap berlainan atau berseberangan dengan pahamnya, kadang memang mengajak kita untuk mengambil kesimpulan: Goenawan ternyata tak lapang dada juga, dan cenderung bersikap tidakadil juga. Ikhtiar dan kerendahhatian serta kewaspadaan dalam menerima aneka warna pelangi dunia, termasuk dengan pelangi bernama ”fundamentalis”, terasa tidak mau kompromi. Ketika merasa ada ”berbenturan” paham dengan kaum fundamentalis, atau juga revivalis, atau yang skripturalis, terserah, Goenawan cenderung ketus dan terkesan masih main pukul rata.

Sikap pluralis dan iman dalam proses kadang masih menjebak Goenawan untuk mengambil kesimpulan yang mendesakkan ijtihadnya sendiri kepada kaum yang beda atau berselisih pandangan. Dalam catatan pinggir bertajuk Ahmadinejad (21/5/2006) misalnya, Goenawan mengatakan: ”Ada satu ciri kaum fundamentalis, dari agama apa pun: mereka memusuhi hidup. Hidup adalah sejenis hukuman, karena fana dan diubah waktu. Bagi mereka, waktu yang berubah adalah jalan kemerosotan…Setiap kalimat dalam Kitab Suci harus dipatok sebagai sesuatu yang mandek”.

Tapi, benarkah semua kaum fundamentalis memusuhi hidup? Apakah memusuhi hidup adalah satu ciri yang melekat pada fundamentalis dari semua agama? Apakah yang memusuhi hidup identik dengan kaum fundamentalis?

Goenawan sepertinya ingin membenturkan kembali gagasan fundamental dengan gagasan liberal. Seakan-akan pandangan liberal tak bisa retak. Padahal yang liberal tak selalu menjanjikan misi kesejukan, kedamaian, kasih dan sayang. Liberalisme melahirkan pluralisme tidak selalu menjanjikan sorga perdamaian dan bebas dari waham. Seperti sering ditegaskan Karen Amstrong—kendati beberapa pandangannya terlampau memuji-ria dan berlebihan—orang yang berada pada posisi liberal masih sering mengedepankan prasangka, mengdepankan intoleransi, konflik, permusuhan, seperti dalam pandangan sejarah Eropa atau di Barat abad ke-20.

Di atas semua itu, pandangan puitis Goenawan terhadap masalah ketuhanan tetap pandangan yang memiliki pijakan dan argumen yang sah. Tak seorang penyair pun yang begitu getol dan nyaris tak pernah berhenti melakukan tafsir terhadap Kitab Suci, agama dan Tuhan. Membaca esai-esai Goenawan yang liris sekaligus kritis, selalu ada risiko untuk terjebak pada kesimpulan deduktif dan induktif model penulisan skripsi di perguruan tinggi. Upaya untuk menyadari ini, tak gambang. Bahkan untuk sekedar bersemboyan dan, dan, dan pun ternyata tak mudah. Sebab, seperti kata Goenawan: pada setiap masa tampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan; mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki.

Di mata Goenawan, ak ada pikiran yang bisa bertahan dari hantaman waktu. Bisa saja orang meramalkan bahwa waktu akan mati, namun kenyataannya waktu justru langgeng. “Para penyair mengira bahwa waktu akan jadi beku di dalam ruang”, tulis Goenawan, terutama “ketika ia dibaca sebagai unit matematis”. Namun “kini orang makin tahu, waktu justru efektif dilecut modernitas”. Tetapi, bukan waktu semacam ini yang terasa membebaskan hidup, membuat hidup jadi lapang. Melainkan arus waktu yang tak selesai.

Maka, tiap-tiap pendapat dan gagasan akan terus diuji dalam tiap-tiap zaman. Karena itu ia tak percaya dengan puisi ruang dan ”kedalaman” karena kata itu cuma ilusi geometris. Sementara waktu memberikan pengalaman kreatif yang tak didapatkan dalam ruang.

Dengan mengambil judul Kata, Waktu, bukan Citra dan Kata atau Suara dan Makna, maka hal-ikhwal yang menjadi perhatian Goenawan tak pernah selesai dan relatif. Hari ini ia mengatakan sesuatu yang menjanjikan, besok bisa jadi ia pertanyakan, digugat, dan besoknya lagi bisa jadi akan dicampakkan. Tak ada waktu-diam, melainkan waktu-berjalan. Namun jangan salah: dalam sajak-sajak Goenawan, yang dominan justru tentang seutas waktu yang membisu.

Pandangan semacam itu ta harus dianggap sebagai kelemahan, sebab apa yang disebut dengan mempertahankan puisi dan pemikiran, atau dalam arti khusus: suara lain dan pengertian, yang konsisten, yang kukuh dan tidak retak, sekarang sudah usang karena dunia kini tengah merayakan serba-inkonsisten dan serba-paradoks. Sudah jadi ciri penulis mutakhir adalah hidup dalam paradoks tak berkesudahan.

Bahkan, sajak-sajak Goenawan sendiri tak dapat dianggap dan dikurung dalam kata ”konsisten” karena wataknya ambiguitas, sulawan, dan karena itu ia merayakan hidup dengan ironi—terutama ironi dalam perspektif puisi lirik dan tafsiran Octavio Paz dalam buku The Other Voice. Tapi, saya kira, Goenawan tidak sedang merayakan ironi sebagai si kembar siam.

Sajak Waktu yang Membisu

”Melalui pengalaman, saya tahu bahwa penyair-penyair yang buruk adalah penyair yang menulis prosa yang buruk”, tulis Goenawan dalam pengantar buku Hartojo Andangdjaja, Dari Sunyi ke Bunyi (1991). Demikian pula prosais yang buruk adalah penyair yang menulis puisi yang buruk.

Itulah salah satu acuan Goenawan dalam menilai puisi, yang juga bisa berlaku untuk puisi-puisinya sendiri. Tak banyak penyair yang baik yang sekaligus menulis prosa yang mempesona. Dari yang sedikit itu kita bisa menyebut Sutardji Calzoum Bachri. Buku cerpennya, Hujan Menulis Ayam, atau buku esainya, Isyarat, tak diragukan lagi sebagai buku yang sangat menggugah dan membuat kita iri, sebagaimana juga buku puisi O Amuk Kapak yang fenomenal itu.

Goenawan termasuk penyair yang mantap karena menulis esai yang puitis dan menawan. Membaca filosofi kepenyairan Goenawan bisa kita lacak jauh ke belakang sejak Polemik Kebudayaan tahun 1930-an sampai dengan polemik Lekra dan Manifes Kebudayaan tahun 1960-an. Kedua polemik ini sering disinggung Goenawan dalam beberapa esai dan wawancaranya, tentu karena beberapa alasan. Kita tahu, kedua polemik itu begitu bersejarah bagi kebudayaan—juga sastra—Indonesia.

Jika polemik 1930-an ditandai dengan mencuatnya semangat untuk meninggalkan kebudayaan lama dan membangun kebudayaan baru, sebagaimana diwakili oleh Takdir Alisjahbana, maka Goenawan jelas berseberangan dengan proyek renaisance yang menggebu-gebu itu. Dan jika polemik 1960-an diwakili oleh semangat Pramoedya Ananta Toer untuk melibatkan sastra ke dalam kancah pergolakan politik sebagai panglima, dengan menjunjung realisme sosialis, maka Pram adalah lawan Goenawan.

Takdir dan Pram adalah musuh wayang, musuh bagi kelambanan, tapi Goenawan justru berusaha untuk menyandingkan kebudayaan wayang yang lamban dengan kebudayaan barat yang lincah, yang jika disimak dalam sajak-sajaknya, tampak berimbang. Tokoh-tokoh pewayangan bertebaran dalam sajak-sajak Goenawan, sementara novel-novel Takdir dan Pram adalah manusia-manusia pembaru yang menjunjungtinggi waktu linear dan gagasan tentang kemajuan.

Mengapa wayang? Tentu saja karena wayang di mata penyair lirik seperti Goenawan mirip sebuah angka nol yang menantang untuk diisi. Bentuk wayang sangat terbuka untuk diberi tafsir, dan Goenawan berhasil memberi nyawa sehingga wayang bisa bersenyawa dengan Romeo atau Ave Maria. Kadang-kadang, dalam menafsirkan—atau mentransformasi, atau apalah istilahnya—berbagai mitologi Jawa, Goenawan tampak takjub dan bersemangat, tidak sebagaimana Pram. Tokoh-tokoh seperti Pariksit, Asmaradana, Anjasmara, Gatoloco, Sinta, Sukra, Kunthi, begitu hidup dalam tafsiran Goenawan, sehidup tokoh-tokoh Yunani Kuno, Arab, Persia dan Barat.

Dalam beragam mitologi Jawa yang sudah berusia ratusan tahun itu, banyak hal yang bisa ditimba dan digali untuk dihadirkan kembali sebagai yang ”tak selesai sampai di sini”. Bagaimana tokoh-tokoh pewayangan memandang seks, memandang kekuasaan, memandang hal-ikhwal yang bertalian dengan hidup dan kehidupan, mungkin hanya bisa lahir dari pena pribadi Goenawan Mohamad.

Jika menyimak sajak-sajaknya yang bertebaran istilah-istilah yang berasal dari kisah pewayangan, penyair ini tampaknya mirip laku eksperimental Putu Wijaya di lapangan prosa yang masih mengusung persoalan-persoalan dunia wayang. Cuma bedanya, Putu tak bisa serius, sementara Goenawan kadang sangat serius.

Dibandingkan dengan Sutardji, Goenawan tampaknya lebih menonjol sebagai penyair dan pemikir yang berusaha membuat sintesa, walau kemudian—terutama sejak demam postmodernisme ikut menyeret dirinya—sintesa itu tampaknya mulai ia pertanyakan. Goenawan tak lagi tertarik bicara soal sintesa atau titik temu atau jalan tengah. Ia tak percaya tentang keharusan melakukan sintesa kebudayaan. Karena itu, ia lebih sering bicara soal hibrida atau sastra hibrid, ketimbang menyibukkan diri mencari titik-temu kebudayaan.

Sebagai seorang penyair yang muncul pada awal 1960-an, Goenawan meengidentifikasi dirinya sebagai si Malin Kundang. Padahal jika kita lihat sajak-sajak dan esai-esainya, jelas bahwa Goenawan tak mendurhaka pada tradisi dan kebudayaan ibunya. Tak ada alasan untuk menyebut penyair ini sebagai Malin Kundang yang tercerabut dari mahia dan terus-menerus merasa bersalah. Malin Kundang yang ekstream justru terlihat pada sosok Takdir dan Pram karena kedua pengarang ini sudah tak lagi menyibukkan diri dengan kebudayaan ibu.

Bahwa bahasa yang digunakan Goenawan dalam menulis bukan bahasa Jawa sudah cukup untuk mengatakan dirinya sebagai Malin Kundang, saya kira sulit dipertanggungjawabkan. Sebab banyak sekali idiom-idiom Jawa yang masuk ke dalam bahasa Indonesia dalam puisi dan esai Goenawan, yang tampaknya disengaja. Jika alasannya bahwa sajak-sajak Goenawan tak bisa dipahami rakyat di desa, itu tak berarti orang kota pun bisa memahaminya.

Dalam banyak hal Goenawan memilih ungkapan bahasa Jawa ketimbang bahasa Indonesia. Untuk memahami puisi dan apa yang dilakukan puisi, Goenawan menyebut istilah sumeleh. Ketika istilah ”the Others” yang dibawa paham postmodernisme merebak di sini, Goenawan menerjemahkan kata itu dengan liyan—yang lagi-lagi bahasa Jawa. Nada dasar yang muncul dari istilah-istilah Jawa itu tampak terasa membanggakan, dan bertolak belakang dari kutukan Pram terhadap feodalisme Jawa.

Banyak contoh bisa dihadirkan untuk menguatkan anggapan semacam itu. Tapi hal itu sudah cukup untuk mempertanyakan: Malin Kundang-kah Goenawan? Tercerabutkah ia dari akarnya?

Tentu saja jawabannya bisa ya, tapi bisa juga tidak. Bahkan ketika jawabannya ya pun, mesti dilihat skala dan intensitas kemalinkundangannya dan ketercerabutannya. Bisa jadi Goenawan berlebihan dalam mengidentifikasi diri sebagai Malin Kundang atau durhaka pada budaya Jawa.

Bagaimana pun, Goenawan seorang penyair sekaligus pemikir yang sejak awal sudah enggan masuk ke dalam cara berpikir totalitas. Puisi bukan sesuatu yang abadi, tapi ”yang seakan-akan menjanjikan hidup abadi”, atau ”yang kelak retak” seperti poci.

Tidak banyak penyair yang menghasilkan buku puisi seperti Goenawan yang berhasil menghadirkan buku Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001. Selain Goenawan, ada Sitor Situmorang yang telah menerbitkan buku himpunan puisi Bunga di Atas Batu yang sangat unik dan cantik. Dan mungkin bukan sebuah kebetulan jika corak sajak-sajak Goenawan dekat dengan corak sajak-sajak Sitor. Keduanya tertarik menulis puisi dengan bahasa prosa. Keduanya jatuh cinta pada elemen-elemen kebisuan dan keheningan. Hanya saja, Sitor pernah terpikat oleh puisi-puisi politik yang terlibat, sementara Goenawan tetap berusaha untuk mengambil jarak.

Dilihat dari kata-kata yang digunakan, tak heran jika kemembisuan dalam sajak Goenawan dan Sitor muncul dari penghayatan yang sama-sama diperhitungan. Seperti para dewa yang bosan hidup di pedalaman mencari kedalaman, Goenawan dan Sitor hendak membangun mahligai di hutan yang sunyi, seperti Budha meninggalkan istana dan memilih semadhi ke hutan Urwela yang tanpa kehadiran manusia.

Emha Ainun Nadjib menggolongkan sajak Goenawan sebagai sajak bisu. Saya setuju, tapi tidak dalam arti cemooh atau karena saya lebih tertarik pada bahana. Kebisuan atau kemembisuan adalah elemen yang tidak sembarang dalam puisi, dan tidak selalu berarti lawan dari sajak sosial.

Saya ingin mengutip Octavio Paz yang melihat dua unsur kemembisuan: satu, kebisuan sebelum kata, ialah keinginan untuk mengucapkan dalam kata. Dua, kebisuan setelah kata, adalah pengetahuan bahwa satu-satunya hal yang bernilai untuk diucapkan tidaklah dapat dikatakan.

Kebisuan tidak selalu bermakna negatif, demikian pula teriakan tidak selau jelek. Dalam sajak, kedua elemen itu tercatat dan dapat tempat. Bayangkan betapa keringnya sebuah sajak yang hanya berisi teriakan-teriakan, dan betapa bekunya sajak jika cuma menampilkan kegaguan.

Sajak-sajak bisu Goenawan justru adalah cirinya, yang tanpa itu apalah arti sajaknya. Saya ingin mengutip sejumlah larik dalam sajak-sajak Goenawan yang dianggap gagu, namun cantik dan hemat kata:

Ada sepasang bukit, meruncing merah

dari tanah padang-padang yang tengadah

tanah padang-padang tekukur

di mana tangan-hatimu terulur. Pula

ada menggasing kincir yang sunyi

ketika senja mengerdip, dan di ujung benua

mencecah pelangi :

Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini

ketika bangkit bumi,

sajak bisu abadi,

dalam kristal kata

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar