OI Gugat Pradaban Dunia (HUT V )

Dialog awal menguat tentang konteks karakteristik memandang kearifan masyarakat budaya dimulai dengan kritik atas Teori Penetrasi social, yang lebih berdasar terbentuknya hubungan yang hanya sekedar prinsip untung rugi, juga ke-tidaksepahaman dengan pandangan bahwa Kab Maros tepat dilihat sebagai masyarakat industry, perihal yang sesunguhnya terbantahkan ketika terjelaskan cakupan nilai-nilai keteladanan dan banyaknya penanda jejak peradaban tua di Kabupaten ini, muatan bahasan aspek  hubungan social dan alam, merupakan nuansa dari sesuatu hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal.
“Kearifan Budaya Bagian Dari Aset Pradaban Dunia”, demikianlah tema acara dalam “Temu bincang dengan para penggiat alam se Kab Maros, yang diprogres oleh Ormas OI di miladnya yang ke-V. Kearifan lokal dalam beberapa dasawarsa terakhir mendapat perhatian oleh anak-anak muda Maros, maupun para literasi cendekia, bahkan hingga LAPAS. Bahwa kesadaran ini muncul terutama karena semakin disadari keterdesakan eksistensi sistem kelembagaan masyarakat lokal, yang merupakan konsekuensi logis tanggapi laju kemajuan masyarakat industry. Dalam dialog kearifan budaya yang membentuk pradaban, Ormas OI menghadirkan 3 pemateri : Irfan Ab (anggota dewan provinsi komisi E) , Iwan Dento tokoh aktifis pemelihara wisata Rammang-Rammang, serta Kaimuddin Mbck (Budayawan Maros). 

Malam yang menguat tentang percakapan dengan semesta adalah pekerjaan yang sudah dan sedang berlangsung hingga kini. Mencari hubungan kebermaknaan di antara relasi yang tercipta sendiri melalui konfirmasi dan afirmasi terhadap alam semesta demi menunjang kehidupan, merupakan perihal terbentuknya pradaban tinggi, lebih ketika bersanding dengan sebuah masyarakat yang memiliki aksara tulis sebagaimana Bugis Makassar dengan lontara-nya, Kaimuddin Mbck menambahkan bahwa kualitas budaya lampau atas keberadaan aksara-tulis (Huruf Lontara) Me-petakan   sistem kebiasaan ke-pengetahuan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, menjadi jembatan acuan. Lalu melalui pelisanan, maka alam semesta berkisah mewujudkan dirinya sebagai asset pradaban dunia. Ia menambahkan bahwa dari tempat bersejarah ini kita menemukan Fosil padi yang banyak, fleks atau tombak mata tiga tertua, dan alat tenun tertua yang bahannya masih menggunakan kulit kayu dan akar pohon tertentu, sebuah periode yang sangat jauh sebelum dunia kemudian menggunakan tenun berbahan sutera.

Tidak hanya itu, A. Muh Irfan AB. Menambahkan, “Bahwa kebudayaan semestinya dipakai untuk mendorong partisipasi luas masyarakat. Dia mencontohkan Rammang-Rammang yang kini dikenal dunia dan masih dikelolah oleh masyarakat local atau penggiat budaya mereka seperti Iwan Dento, diceritakannya pula pengalamannya di LAPAS membangun literasi”, tak berselang lama setelah itu dan dengan oto menggerakkan Pustaka Bergerak di daerahnya, Maros di Sulawesi selatan. Lanjut ia mengatakan tentang  penguatan atas kebijakan dalam pembahasan kawasan kars Maros -Pangkep DPR Provinsi. Disela materinya ia berseloroh bahwa jika terjadi pergantian pemimpin di Kabupaten Maros, dan kebiasaan merubah waktu HUT Maros terjadi lagi, ia mengasumsikan mungkin sebaiknya jika penetapan HUT tsb,  terkait dengan tarikh tahun situs-situs sejarah di leang2 ini, tidak dengan Usia Maros yang sebegini muda dengan merujuk dekrit tahun diakuinya Kab. Maros sebagai kabupaten resmi oleh pemerintah pusat.

Rembulan malam dengan cahaya yang menangkup seluruh atap di rumah  tempat diskusi tersebut, tampak Iwan Dento, dalam paparan awal metabelkan kawasan kars di kab maros yang butuh perhatian dan mengakhirinya dengan pesan pada peserta penggiat alam se-kab Maros, bahwa setelah sepuluh tahun menjadi pendaki , selanjutnya saya mengakhirinya dengan beralih menjadi pencinta, pemelihara alam, adalah hal yang menggelikan menurutnya ketika sebelumnya ia asyik berselfi di top Bulusaraung sementara bongkahan gunung lain diangkut dalam kotak bongkahan dengan mobil truck setiap detik melalui pangkep - Maros. Ia menambahkan bahwa, kau akan berhenti disebut pendaki jika gunung-gunung tersebut tergerus perlahan-lahan lalu habis, dan tanpa gunung,  kau tak lagi disebut “pendaki” maka aku kini di Rammang-Rammang memilih menjadi pemelihara alam.
Malam dialog dalam diskusi  alam, pradaban dan budaya, peserta tampak antusias meski sebelumnya mereka sedang  menunggu santap malam, ketua ormas OI Maros Ismail Nurdin, menutup acara tersebut dengan pemotongan kue Ultah untuk di bagi kepeserta sebagai santapan awal. Malam lamat-lamat bergerak sedang peserta penggiat alam mengerang di benak mereka,  mengental pertanyaan tentang alam, sebagai “sesuatu”, seperti teks lagu “seasuatu itu mau dibawa kemana, hubungan kita….”______

Sang Baco (Kaimuddin Mbck) "Taman Purbakala Leang-Leang Maros" / HUT Ormas OI Maros, Dialog : Kearifan Budaya Bagian Dari Pradaban Dunia_

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar