Lonteku, Ini Surat dengan pesan keramat

Ketika kita adalah " lonte"  sebab waktu juga jarak : bukan milik kita, di remang malam dan gejolak zaman, kita selalu selalu sembunyi di semak-semak.

lonteku  "seperti pledoi,  kita   rapuh terhadap waktu,  kaupun ragu kan genggaman keyakinanan  di jarimu ,kita tak terdidik selalu arus tak mengarah ke pantai, mungkin benar bahwa  hidup  " tak memilih jalan kiri atau kanan" 

Lonteku ...kita bangsat !!
Mengesan rindu yang menghasut hari kita yang  warna-warni, sebuah sumpek dan kejahilan,  sebab kau tak  menuliskan apapun di halaman depan suratmu. juga tak menitip doa-doa pada tempat kita pulang kelak. 

catatan rindumu  padaku,  lekaslah kau kirim agar angin tak keburu mati atau mencecerkan-nya, sehingga kau tak hanya tak tahu kemana sampainya melainkan juga tak menyesal karena tak sempat mengirimkannya, 

"lonteku..kau tak perlu malu dengan trotoar yang menandai "mesum kita", atau ?!,  kau merasa salah ketika tak seseoranpun berpihak padamu, aku peduli dan menuliskan catatan-catatan bangsat di bawah ini, sebab mengenalmu....sebab mengingatmu, seperti tahun lebaran ini  2010.

*....kita jauh dan tersembunyi, dan ...kartu lebaran ini hanya benda-benda, tapi ungkapan di dalamnya memberi fakta bahwa dunia betapa menghendaki ucapan yang luhur. ( sisa kebaikan yang setitik ini mengindahkanmu bahwa Idul Adha...juga untukmu)

Kau sekarang kaya, maka kuminta tanpa malu-malu untuk, "bagi bagilah hewan kurbanmu ", kau merasa lucu ya ?

kau tak perlu kegirangan mengataiku "sungguh aku tak menjadi Uztad, aku hanya mengingatmu sedang Tuhan kita sedikit dekat hari ini.
_________________________________________

mengenang catatan kekurang-ajaran kita dulu : *cuaca beku musim ini, adalah keterpaksaan yang membaringkan tubuh, ku menangkapnya sebagai ke-telanjang-an begitu dingin dan memeluk, dalam kisaran ini aku melupakan hampa, selubung, terkungkung, juga melupakan ke asingan, melupakan trotoar jalan, termasuk melupakan "kita (pernah) larut di jalan hitam" .

*** lonteku aku telah beristri kini...dan anakku ku beri NAMA, SERUPA DENGAN NAMAMU. orang memanggilnya "inggit"

Mengulang memoar itu..., teringat ketika KAU nikmati benar kue coklat pemberianku, setelahnya kau memberiku senyum sebagai isarat belum membelikanmu yang lebih dari coklat itu

*Tentu kau telah rajin bangun pagi sekarang...yang tersisa dari masalalu itu : menyadarkan bahwa waktu tidak pernah tergesa-gesa dan tidak benar-benar penuh menegaskan kita sebagai 2 org bajingan yang saling setia. Ah...masa itu say..kita benar-benar bangsat...!

*bertahun yang akut, sesekali disini...ketika malam tak menjanjikan apaapa, aku menuliskan saja namamu pada kaca yang ber-embun itu, betapapun ku  menolak bayangan...mu, yang terbekas kemudian hanyalah  matamu yang mungkin masih menyemburkan api, aku tak akan menciummu..., aku  se-nekat dulu itu.

*petang yang tenggelam, tersenyum sajalah atau berharap kita saling menarik ke permukaan, haloo...berapa anakmu sekarang ?, adakah diantara mereka wajah yang mengingatkanmu tentang aku ...?, hihi...semoga saja...(kuberseloroh)

*ingatlah..sederhana sebab berusaha memenuhi segala impian salah satu cara menjad gila, kita benci lampu jalan yang berkelapkelip itu, 
jika rindu itu datang "runtuhkan  saja  ke sungai atau tuliskan sunyi dikertas dan biarkan hujan menghapusnya". Sungai itu kini telah memiliki selusinan lampu dan riaknya masih selalu mengantar pada pantai yang tepat,  kau masih ingat  rumah2 pasir itu, dengan namamu yang kutulis di sampingnya ...( pantai base-g itu : baca "besji")

Aku kisruh jika mengingat itu ?, ku memapahmu keatas rupon dan memaksamu mengintai dari situ,  niscaya banyak hal yang dapat kita tangkap, termasuk melihat buah mangga pak lurah yang jatuh, aku hanya ingat bahwa di tempat itu,"aku kemudian benar-benar menjelaskanmu bahwa dari situ...sungguh kau harus mengenal.. melihat isi bumi yang benar-benar botak dan licin ini keadaan yg kuanggap mewakili laku kita. "menangislah di pundakku dan teh telah  kuhidangkan untukmu" uh ...cerita lama....


hai bangsat.... kau masih diatas pohon kan.., aku sudah melupakan pohon itu kecuali nama-mu yang aku tulis disitu.

Sekali itu kita terjatuh dari langit menetes bersama butir embun, tanpa ditanya… kita siap dalam iringan memoar itu, aku tak berubah.... tetap banyak bicara dan kuat makan, perutku sekarang gendut, hehe..he..he..

Lonteku ...alam mimpi jauh lebih indah dari kenyataan,  luka kemarin itu jangan kau baca sebagai "sepi", 
Mungkin sebuah berita kau tunggu, sedang ku hanya punya secarik kertas kumal bertuliskan: jaga dirimu, sayang, hidup begitu menggetarkan....
________
Catatan 2011
memoar itu, ku menuliskannya sebagai "kenangan"
 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar