Dendang TOENGI BAMBO sebuah Aksentualisasi

Mengenang ibu di hari Maulid, dan telah tak ada ibu yang membuatkan telur Maulid, "ya Allah bahagiakanlah ia disisiMu_ ia ibu dan tak sekatapun lebih indah sebagaimana kata "ibu", ia ibu yang penuh kasih mempertaruhkan doa untuk kebahagiaan anaknya, ia ibu yang berusaha menahan tangismu agar tak tumpah, ia ibu yang mengenalkanmu segala cinta juga bahasa pertama di dunia, ia ibu yang menanamkan di benakmu surga sebagai tempat terindah dan ia ibu yang mendendangkamu napas kebahagiaan dalam hidupmu, di dendangkannya toengi bambo melelapkan tidurmu dan menjagamu dari keterjagaan, kuhapal benar bait-bait lagu yang dinyanyikan ibu, sebab bukan hanya lagu tersebut berakhir untukku tapi juga kepada seluruh adikku, oranglain pun tak terkecuali sekira pula sedang berada di rumah kami dan berada di ayunan, irama dan syair lagu ibu terdengar penuh kasih "toengi bambo de', toengi tanreng rapponna mallido-lido....dst"_

pandangan yang tak banyak berbeda ketika ibu demikian sangat di patuhi disakralkan keberadaannya, pahaman ini pula erat kaitannya dengan anjuran amal shalih dalam Islam dalam kategori mendudukkan Ibu sebagai sesuatu yang sakral, implentasinnya dapat di temukan di berapa hadist : "Surga terletak di bawah telapak kaki ibu", juga perintah langsung dari Rasul Nabiullah "dahulukan... hargai ibu, ibu, lalu ibu, lalu bapakmu ", kemudian  Perihal Ibu (Emma terjemahan Bugis : Ibu/ mama) adalah indikasi "keterpenuhan perwakilan doa anak, atas Tuhan ketika Ibu mendoakannya", seolah bahwa doa ibu tak ada jarak sampainya pada Tuhan_ Dalam banyak cerita sejarah terdapa insiden bahwa "Banyaknya bencana juga kutukan atas bangsa-bangsa terdahulu dari langit di sebabkan berdosa kepada ibu", mengapa demikian ?, pendekatan yang dapat digunakan sesuai implementasi status ibu atas Tuhan bahwa "sekira saja tidak ada tuhan di bumi ini maka ibumulah tuhan yang sesungguhnya", maka ibu pula yang mengenalkan bahasa pertama di dunia pada setiap orang, dan kami suku bugis makassar sungguh banyak menerima doa serta harapan ibu lewat sikap kearifan lokal tersebut dalam dendang / lagu menidurkan anak seperti berikut ini (implementasi pappaseng yang diangkat mnjadi puisi usai penerjemahan)


Bisikan ''toengi bambo''

begitu deras mengalir di sarafku, 
sebuah pesan aMmakku menengadah ke langit, 
entah ia pilu atau sedang terjaga,  masih ia selalu merebut air mataku.
Ommale pammopporanga kodong...., (oh ibu ampuni aku) 
 sejauh ini aku belum menyenyakkan tidurmu
keterangan gambar : ia ibu yang me-tapikanmu beras dengan penuh kasih
______________________
Keterangan kata :
*Toengi bambo (Bahasa Makassar ,terjemahnya> ayunan mendayu-dayu)__*ammakku /Ommale (Bahasa Makassar , Terjemahnya > Ibuku)__
*pammopporanga kodong (Bahasa Makassar)

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar