Ibu (Almrhum : Sitti Amrah Dg Caya)

Padahal alam semesta selalu berbincang tentang " ibu", ia mata air cinta, ia kehidupan itu sendiri...kehidupan alam ini, dan di langit mengesan, "jangan pernah kehilangannya" sebab keberkahan dari sehelai jiwanya adalah restu dari langit.

ia ibu yang menggendongmu, dan merapalkan doa untukmu, (pula) dan hanya dengan itu tuhan meringankan murkanya padamu. "

Ia ibu yang menengahi perbuatan burukku dari laknat Allah,  ia ibu yang dengan kesadaran mengenalkanmu melintasi alam ini, ia ibu dengan penuh harap dan ribuan cinta untuk menyemai hidupmu

lupakah kau dengan tatapan  ibu yang meng-gurat keindahan bahasa yang tak terucap, yang juga memetikkan cahaya bulan jika kau sepi, atau sendu mata itu memang bulan, TIDAK.., ibu lebih dari ribuan bulan bahkan  membungkus segala bulan,

ketika kau jauh dan zaman mengintaimu, Ia Ibu....masih sebuah hati yang menampung luka, menjagamu.....agar kau tak merasa sendirian.
_____
Dengannya, "apakah kau lupa cita-cita kecilmu dulu “membelikan ibu kompor , kasur , mengajaknya ketempat yang di sukainya ?“ , ia tersenyum, kini.

: dengan kamus praktis sebagai pedoman, kukatakan “hendak membelikan.. apa saja yang ia mau, tapi celakannya sedikitpun ia tak tersenyum_

maafkan aku ibu...aku belum memenuhi sedikitpun mimpimu.
_________
Puisi "mimpikan ibu"
                      *Kenangan terakhir pada ibu ketika aku lara di batu nisannya.
Malam ini remang, mata itu.........lekat memandangku, sejenak..., tubuhnya kedekatku berbaring jelas garisgaris lelah di wajahnya. tanganku bergerak, mengusap bekas luka di punggungnya. aku menyuapnya nasi, tak ditelan, tapi.......mulutnya terus menganga ".........ibu, takut kematian nak", katanya
: Aku tetap disini, walau tak mengerti, "bukankah, ibu telah lama mati....?
 __________
 kaimuddin mbck,Maros,19.05.08

*sebab Ibu adalah keindahan tak terucap dan kasihnya menyapamu pertama kali.
*ia ibu yang dibincangkan  alam semest_

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar