Kemarau dan sejarah mirip, yang bikin beda sebab "diksi".

ciuman kemarau, sebab kemarau benar-benar memberi tanda, menggerakkan segala ruang juga sel, meskipun demikian ia tidak boleh dianggap sebagai bagian dari sejarah, sebab dalam adagium sejarah (suatu masa saja) ,"orang sangat percaya bahwa sejarah adalah biografi orang-orang besar", maka kemarau dapat diterima sebagai sejarah jika presentase keterkenalan adalah prioritas yang kemudian teranggap sebagai sejarah, bukankah... pelaku bom juga terkenal, pelaku mutilasi org juga terkenal, teroris juga terkenal, malah di republik kita ada banyak yang pas-pasan saja tapi kita kemudian menokohkannya...haha..ha...
atau sejarah benar-benar sedang mampir ya..di bumi pertiwi kita ?, > ya... sistim yg sedang nge-trendi di bumi kita ini kan demokratisasi ke pemimpin karismatik, sebuah upaya yang terus rutin kukira, yang kemudian menjadi tokoh sejarah bisa, oh...bisa saja sebab administrasi bisa juga sebab hal terencana yang lahir lewat kecerdasan, aih...
Sekarang bukan lagi tentang kemarau atau sejarah....yang penting tokoh tidak menjadi berhala sebab pengertian sejarah dalam perspektifnya sungguh hanyalah mitos. <mungkin ada yg telah  berpendapat demikian /jika tdk biar aku saja------
tapi  diksi baru apa ya …tuk menanggapi musim ini ? aku masih setia mencari sayang....
pada Trotoaar.... muka yang tersengat panas, tak mampu mengais dingin pada ac kendaraan yang lewat atau pada sela daun-daun pinggir jalan. pohon di pinggir jalan sini seolah juga rindu pada garis-garis cuaca yang di harapnya berubah tiba-tiba,
masih mencari diksi "kemarau ", dan mobil tronton menggoyang jembatan begitu keras, pun tak membekaskan kata sedikitpun, tak tahu dimana senyum itu yang kuharap menjadi diksi sore ini, atau diksi kemarauku pada ranting-ranting kering yang entah kapan patahnya….atau kepul asap yang belum pekat untuk menenun awan, 
Sore ini senyummu tergambar kukira ini diksi tuk kemarau , tapi senyummu bilang "Aku tak pernah bisa mencintai musim ini secara biasa,  sampai jejalanan ini lindap jadi rerumpun", ih kukira ini diksinya........sebab hujan dan jembatan penyeberangan tiba-tiba tumbuh rumput liar dan sangat pariatif : haha..ha..sebelum rumput tadi...hujan deras sayang.....

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar