Kota tua dan Makam Islam Tertua di Indonesia : Barus

Penelitian situs Makam Islam tertua menurut M.C Ricklefs temu  di daerah Jawa Timur tepatnya di Trawulan "tampak batu nisan ciri Muslim dengan tarikh khusus huruf saka India tahun 1290 s, dengan khusus  ciri kuburan Muslim di kalangan anggota kerajaan Majapahit yang Hindu Budha_Namun ungkapan sejarawan secara umum menegaskan pula bahwa kota tua Barus (kini) di kecamatan-Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Indonesia.  terletak di pinggir Pantai Barat Sumatera, merupakan kota awal masuknya agama Islam di Nusantara yang dalam syiar tersebut telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab sekitar abad ke-7 Masehi. kota Barus adalah Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 M, dan disebut juga dengan nama lain, yaitu Fansur.

Kota tua Barus ini dikenal sebagai daerah  berkembangnya Islam dalam laporan catatan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara. Kota tertua di Indonesia ini menjadi salah satu tujuan wisata bagi para peneliti arkeologi islam, baik dari dalam negeri dan dari luar negeri, khususnya di Lobu Tua dimana peneliti Prancis dan Indonesia melakukan eksplorasi arkeologi.

Saat ini kita dapat melihat peninggalan sejarah Islam di Barus, yaitu dengan adanya makam Papan Tenggi dan makam Mahligai. Kota tertua di Nusantara bernama Barus, penanda nama ini telah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya. Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi. “di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus”.

Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu. pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

________________

Referensi :
*M.C Ricklefs, "Sejarah Indonesia Modern 1200-2008", penerbit Serambi, Jakarta.

*Peta Kuno oleh Claudius Ptolomeus. (salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir).

*Tim peneliti Arkeolog (Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO :Perancis) dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN : di Lobu Tua-Barus)

*Nuchbatuddar buku, karya Addimasqi

*T. W. Arnold (Sejarahwan) “The Preaching of Islam” (1968)

*F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Referensi Person

(Pakar eksplorasi dan Pelestarian Kebudayaan Barus) oleh
      : Prof.Dr.Hasan Muarrif Ambari (Arkeologi Islam), Prof Dr Ludwick Kalus, Prof Dr C Guillot dan Dr Daniel Perret (arkeolog Perancis), Prof Dr Datok Nik Hassan Shuaimi (pakar sejarah Universitas Kebangsaan Malaysia), Prof Dr Azyumardi Azra (pakar sejarah Univ. Islam Negeri Syarif Hidayatullah), Prof Dr M Dachnel Kamars MA (pakar administrasi pendidikan Universitas Negeri Padang), Dr M Nur MS (pakar sejarah Universitas Andalas).

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar