Pappaseng Dalam Makna Kontekstual

Pappaseng dalam makna simbolik ini, merupakan kesimpulan dari penjelajahan pengetahuan, atau hasil akumulasi keyakinan terhadap sesuatu yang disakral kan, karena tingkat kontemplasinya, maka penanda kebudayaan ini dijelaskan dengan metode hermeneutik. Secara etimologis, kata kontekstual se-idiom dengan ‘hermeneutik’ atau ‘hermeneutika’ berasal dari bahasa Inggris hermeneutics. Kata hermeneutics sendiri berasal dari bahasa Yunani hermeneuo yang berarti ‘mengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata’ atau hermeneuein yang berarti ‘menafsirkan’ dan hermeneia yang berarti ‘penafsiran’. Kata hermeneuo juga bermakna ‘menerjemahkan’ atau ‘bertindak sebagai penafsir’. Dari beberapa makna ini dapat disimpulkan bahwa hermeneutik atau kontekstual adalah ‘usaha untuk beralih dari sesuatu yang relatif gelap kepada sesuatu yang lebih terang’ atau dapat terjadi serupa :proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti seperti berikut ini, ( ulasan kontektual telah kami bahas sebelumnya di > Pembelajaran Bahasa Hermeneutik / kontekstual)

 * Ellele bulu tellele abiasang, abiasange abiasang topa palelei
 
Artinya: sekiranya gunung (mungkin) dapat digerakkan tapi kebiasaan tetap tak bergeming, nantilah kebiasaan berubah setelah kebiasaan pula yang merubahnya.
 

Gunung sebagai sesuatu simbol yang susah digerakkan, bahkan mustahil bergerak, memberi indikasi bahwa kebiasaan negatip atau buruk (misalnya :menyepelekan hukum pangngadakkang dan melupakan pesan leluhur) dan terjadi secara kolektif dalam masyarakat, merupakam tanda terpuruknya suatu kampung atau negeri, sebab menjadi kesepakataan bahwa demikian sulitnya membentuk atau menanam nilai-nilai luhur, setelah generasi tak terkontaminasi lagi dengan hukum adat sebagai resolusi pembentukan masyarakat, penerapan selanjutnya abiasange abiasang topa palelei lebih kepada inovasi ke-penambahan nilai yang baik untuk di indahkan pada sebuah komunitas kerakyatan. Sebab kebiasaan yang buruk menggantinya tentu dengan sebelumnya menanam kebiasaan yang baik.

*Parapi i nawa-nawa, de e narapi i’ nawa-nawa
Ber angan-anganlah hingga tak terjangkau angan-angan. (disampaikan Panrita/ agamawan).

Menurut sumber “ Para pi’ nawa-nama adalah sebuah keinginan dari penutur agar masyarakat senantiasa menggunakan tenaga pikiran dalam menciptakan atau menemukan hal-hal baru (inovasi), atau sebagai manusia perlu memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di Semesta, dan itulah hukum tarik-menarik. Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan demi kemaslahatan orang banyak. Tendensi dalam pappseng ini sebagai bentuk pelahiran tokoh (to macca), pada generasi berikutnya. Keinginan pada kelahiran tokoh ini adalah simpul kuat yang terkait dengan salah satu butir dalam pangngadakkang yaitu rapang (suri teladan).”
kalimat deklaratif dari pappaseng ini dengan kosa kata de e narapi nawa-nawa adalah sinyalemen untuk mendeskripsikan reso (semangat tinggi), berfungsi sebagai alat pendidikan bagi generasi muda manusia Bugis.

"Tejjali tettappere, bannamase-mase".
Ungkapan tersebut tertanam dalam perasaan seorang tuan rumah ketika datangan tamu. Maksudnya adalah "kami tidak mempunyai apa-apa untuk kami suguhkan kepada tuan. Kami tidak mempunyai permadani atau sofa yang empuk untuk tuan duduki. Yang kami miliki adalah kasih sayang atau perasaan senasib sepenanggungan. Sebuah tendensi atau perilaku dalam memuliakan tamu.

Temmasiri kajompie, tannia ttaro rampingeng, naia makkalu.
Terjemahan :Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat. Sebuah ulasan dan ungkapan untuk mewujudkan kehidupan yang baik.
Dengan tendensi, seseorang dituntut bekerja keras dan dengan strategi, demi tidak mengambil yang bukan haknya dan juga termasuk tak menyandarkan harapan kepada orang lain. Kepekaan perasaan masyarakat Bugis Makassar dalam tannia ttaro rampingeng, naia makkalu member efek
negative sekaitan dengan persoalan siri yang melembaga dalam diri masyarakat Bugis Makassar.

"Pemmali pilai bolae narekko de'pa napura bissai penne’ angnganrengnge"
Artinya : dilarang meninggalkan rumah (untuk perjalanan jauh) sebelum piring yang digunakan untuk makan, dicuci terlebih dahulu.
Pappaseng dalam pantangan, diungkapkan sumber , ini merupakan perbuatan pelengkap dari perhatian seorang istri dengan cara mencuci piring suaminya, dan perbuatan mencuci piring ini teranggap sebagai penolak bala. Demikian fariatif makna-makna yang terdapat dalam bahasa tutur Bugis-Makassar sehingga kata "bissai penne" dalam ungkapan pemmali ini tidak hanya berarti "cuci piring" , sebab dalam sinyalemen pengunaan kata bissai penne ini, juga berarti memperlakukan wanita/istri dengan merawatnya , setelah berhubungan badan.

Aja' mumaelo' ribetta makkalla ricappa alletennge.
Terjemahan : Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian. Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pemenang. Namun demikian, tidak ada keberuntungan besar tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan besar tanpa resiko yang besar.

Taro-taroi alemu siri', narekkode’ siri'mu inrekko siri' .
Terjemahan: Perlengkapilahdirimu dengan siri', Kalau tidak ada siri'-mu, pinjamlah siri'.) Bagi manusia Bugis, menegakkan hukum terhadap suatu pelanggaran merupakan kewajiban. Dalam konsep Siri' (malu, harga diri) terungkap bahwa manusia Bugis yang berbuat semaunya dan tidak lagi mempedulikan aturan-aturan adat (etika panngadereng atau peradaban) dianggap sebagai manusia yang tidak mempunyai harga diri. Siri' atau harga diri merupakan landasan bagi "pemimpin" untuk senantiasa menegakkan hukum tanpa pilih kasih. Pemimpin yang tidak mampu menegakkan hukum dianggap pemimpin lembek atau banci. Seseorang yang tidak mempunyai Siri' diumpamakan sebagai bangkai yang berjalan. Dalam ungkapan Bugis disebutkan: Siri' emmi tu riaseng tau (Hanya karena Siri'-lah kita dinamakan manusia). Itulah sebabnya mengapa para orang tua Bugis-Makassar, menjadikan Siri' sebagai hal yang amat penting dalam nasihat-nasihat dan pappaseng.

Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngi maniannge, ri pariase'I riase'e, ripariawai riawae. 
Terjemahan : Ditempatkan di Barat yang di Barat, ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah.
Ungkapan diatas memberi gambaran, bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya atau menempatkan seseorang pada sebuah jabatan sesuai dengan disiplin ilmunya. Uraian timbangan pendapat ini menurut sumber, erat kaitannya dengan matan sebuah hadits : “ bahwa tunggulah kehancuran jika tidak menyerahkan urusan kepada ahlinya”. Ia tidak menyerakahi hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Juga dengan timbangan kesadaran bahwa orang lain mempunyai hak-hak yang patut dihormati, juga merupakan perbuatan pantas dalam menempatkan sesuatu atau dalam uraian bahasa Bugis taroi ri onronna,

patudangi ritudangenna biasa juga disimpulkan dalam kata mappasikoa
Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Sebagai penguat tindak lanjut dalam pappaseng ini oleh sumber Andi Danial.Ass, mengatakan “Cecceng ponna, cannga tenngana, sapu ripale cappa'na, yang bermakna Serakah awalnya, menang sendiri pertengahannya, kehilangan sama sekali akhirnya.)

Dua kuala sappo, unganna panasae, belo kanukue
Terjemahan : Dua kujadikan pagar, bunga nangka, hiasan kuku. (Dalam bahasa Bugis, bunga nangka disebut lempu yang berasosiasi dengan kata jujur, sedangkan hiasan kuku dalam bahasa Bugis disebut pacci yang kalau ditulis dalam aksara Lontara' dapat dibaca paccing yang berarti suci atau bersih. Bagi manusia Bugis, segala macam perbuatan harus dimulai dengan niat suci karena tanpa niat suci (baik), tindakan manusia tidak mendapatkan ridha dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Seseorang yang mempunyai bawaan hati yang baik selau tepat dalam mensikapi kehidupan ini sebgai cobaan. Kedua, manusia sanggup untuk mengejar apa yang memang direncanakannya, tanpa dibelokkan ke kiri dan ke kanan).
Lounching buku "pappaseng kearifan lokal"
Atutuiwi anngolona atimmu; aja' muamminasaianngi ri ja'e padammu rupa tau nasaba' mattentui iko matti' nareweki ja'na, apa' riturungenngi ritu gau' madecennge, riati maja'e, nade'sa nariturungeng ati madecennge ri gau' maja'e, naiya tau maja' laleng atie lettu' rimonri ja'na.

Terjemahan : Jagalah arah hatimu; jangan menghajatkan yang buruk kepada sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima akibatnya, karena perbuatan baik bisa terpengaruh oleh perbuatan buruk. Orang yang beritikad buruk akibatnya akan dirasakan pula oleh keturunannya.
Kutipan di atas menitikberatkan pentingnya seorang individu untuk memelihara arah hatinya, agar selalu berhati bersih kepada sesama manusia dalam menuntun individunya demi memetik buah kebaikan. Jika menginginkan orang berbuat baik kepadanya, ia harus terlebih dahulu berniat dan berbuat baik kepada orang tersebut, tidak membiarkan dirinya digerakkan oleh nafsu, emosi perasaan, kecondongan-kecondongan, melainkan diatur oleh suatu pedoman (toddo), yang memungkinkannya untuk menegakkan harkat dan martabat sesuai dengan kodratnya.

Pandangan kearifan lokal Pappaseng : menguatkan nilai-nilai ideal yang diskursuskan dan terharapkan menjadi keteladan pewarisan bahkan terharapkan menanggapi gejolak perubahan dan pengimbangan dari perilaku kedurjanaan kultur asing yang negatif, sebab keduanya tampil bersamaan terpampang dalam realitas waktu kehidupan, terharapkan nilai-nilai ideal lebih dominan mempengaruhi generasi kita, maka perlawanan radikal terhadap perubahan perilaku bakal terjadi dalam keberadaan individu dan masyarakat dalam perjuangan tersebut, mungkin lewat preposisi kurikulum pembelajaran di sekolah). kukira tantangan hari adalah menguatnya pappaseng dalam nilai kognitif,psikomotor dan afektif pada pembelajaran anak-anak kita.

*naia riasengge’ to warani maperengnge’, nare’kko moloi roppo-roppo ri laommu, rewe’ko paimeng sappa laleng molai…”.

Artinya :
Yang disebut orang berani ialah yang kuat dan unggul bertahan, jikalau engkau menghadapi rintangan berat yang engkau tak dapat lalui atau atasi, kembalilah memikirkan jalan atau cara untuk mengatasinya.

Ketika pesan leluhur Bugis makassar mengeras dan mengkristal di hati masyarakat pendukungnya maka tanggapan atas perubahan pun tak terelakkan, "....alebbiranenna rupa tauE rekko makkulumpulu'I tenri paunai" (Bahasa Bugis, terjemahannya : apapun keadaan jika kita tetap bersatu (maka kita saling memperlihatkan contoh yang baik sebab fitrah)

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar