Pelacur ptb Wisata kuliner maros

Senja baru saja membias genit lalu redup ditelan bumi seolah mewakili gambaran hidup ini secara plural bahwa "sesuatu yang hidup ini "ada dan indah lalu tua terus legam dan mati pada akhirmya..", dengan segala kesimpulan sederhana, ku di-sudut pelataran panjang ini diantara gerobak meja buah dan menu baru saja digelar, sebuah nuansa akrab yang seolah baru saja tersihir jika mengingat usia PTB yang masih dini ini atau belum selusinan taon. Pada pemilik kafe jalan trotoar ptb ku-bincangkan tentang banyaknya pemesan jus yang sering milih tempat yang sedang kududuk-i ini, sebuah sudut dan remang yang jika dalam film mandarin merupakan tempat yang sangat disukai untuk memantau, dalam pengertian konyol disebut "riben" artinya : "aku melihatmu sedang kau tak melihatku".haha...ha...

Malam dan pertemuan selalu menandai peristiwa hidup, hal yang ku-sebut berbagi "dialektika hidup", serupa temuku dengan pengamen di ptb kuliner "ia nge-iwan fals OI" dalam hiburannya padaku, maka warni percakapan adalah musik dan mengais reski seribu dua ribu,  demikian pula dengan serekanan teman yang hobby batu permata, ya seorang sejak tadi menggosok batunya dengan abu  intan di atas meja dan sesekali menyalakan senter lalu sorot batu gosokan tersebut, pariatif dialog pun menuai tentang batu permata miliknya mungkin juga milik orang lain yang hendak di jualnya, pada segala profesi masih pola komunikasi terbangun cepat dengan cara seperti itu atau menyusur masuk ke habitat profesi mereka. Dialog demi dialog sedang sore dan senja hampir berakhir di ptb /wisata kuliner pantai tak berombak maros. Penuh kejut tampak 3 motor membawa goncengan lalu singgah sejenak dengan perasaan aman, uh malam tak mengindahkan aku untuk terlihat di tatapnya, rupanya salah seorang dari  goncengan tersebut adalah bencong atau waria seolah pemimpin, jarak antaraku dengan mereka demikian dekat namun samar. (terdengar  waria membicarakan perseteruan kelompokya dengan serekanan pelacur PTB ( terucap "petebe") yang dalam jumlah mereka kini sekisaran 30 orang , kata waria tadi "mereka mulai mendominasi area ini, terlebih lagi bahwa pelacur-pelacur itu di germoi oleh tante yang nekat bekerja bareng bersama anaknya, uh dasar pelacur kampung.., sedang BKD kita telah dipagari, dak bebasmi lekong....".

bencong versus pelacur ptb maros
Kata terakhir "pelacur kampung" rupanya bukan istilah, tapi sesungguhnya mereka pelacur-pelacur di PTB itu benar2 orang kampung_ (surveyku > sebab jika ia warga kota maka melacurnya di kota maksudku di makassar : dapat demikian  sebab nilai gengsi dan materi), sedang orang kampung yang melacur tadi di wisata malam ini kutandai bahwa mereka : bukan pelacur dengan kemauan tinggi  untuk maju, juga belum dengan kepercayaan diri plus tendensi kecakapan, dan lebih kurang lagi belum mahir bersilat lidah, aku kepikiran jika kau serius ingin jadi pelacur profesional dan berkelas mungkin aku dapat membantumu penuhi kriteria yang sebelumnya jadi sebab kekuranganmu, haha..ha..., setelah ini (me-trening-U ) mungkin dewi keberuntungan pun kan berpihak dan menyerta-mu. dan bukan lagi melacur sebab indomi sebungkus atau sebab rokok sebatang.  hal yang kusebut sebagai "hidup hanyalah sebongkahan batu dan perihal waktu hanyalah sekedipan mata saja dan tanpa tedeng aling-aling, haha..ha.._teringat wanita yang sebelumnya di menerima hasil visum yang dikeluarkan RS ke-Polri, karena tertangkapnya banyak pelaku dan hanya seorang wanita (hal yg bukan masalah bagi pelacur tadi) hasil visum-pun mengurai sebab ( usut masalah) karena kedua ortu dari perempuan yang me-lacur tadi keberatan <  uh kejadian lampau yang heboh....saat  ptb masih kawasan remang :kurang penerang sekitaran,  kini keadaan semakin baik terang..terlebih bahwa taman di arah jalan utama dipenuhi lampau hias dan pasangan mudi-muda dan pemabuk dah meninggalkan area itu pelan2atau mungkin cari t4 yang lebih sepiii....

jika bukan karena komersial juga bukan lantaran  indomi sebungkus dan rokok sebatangan mungkin 
sebab   candu seks dengan latar kehidupan sebelumnya adalah broken home atau dalam istilah mereka "biarma bgini lari salai dan takkala hancurma...."

Ada kesan bahwa jika penggerebekan aktif untuk pengunjung wisata kuliner ptb akan 
melemahkan keadaan yg telah ramai tersebut sehingga satpolpp kurang di berdayakan dalam perihal ini, tampaknya yg suka tenggak minuman keras tak lagi di taman ptb sebab dah terang, mereka berpindah di area samping dekat samsat, haha..ha..., mo seperti jogja kalee ya...? 

sedang dalam bincang kotor bersama kupu2 malam, ya  tersebutlah jumlah mereka kurang lebih hingga 30 orang dan diantara nya ada yang telah kerja di bar sebab bosan di maros, mungkin karena alasan melacur dan tetap kren gaul, dan peralihan kekota sebab nilai strata ekonomi,  mungkin sebab yg lacuri orka, keberlanjutan ini persoalan ekonomi meligitimasi mereka yg disebut kerja/ dicarikan kans oleh seniornya /yang dituakan. Dan sisi lain diantara sedikit dari mereka (semisal tumbuh secara wajar) akan perihal gengsi hal yang mengindahkan  mereka untuk menerima tawaran action U kepentingan pemotreta_ ulas teman yang tak mau disebutkan identitasnya

Kukira aura genit PTB Malam pelan-pelan akan me-populerkan pelacur kampung tersebut, maksudku lebih me-nasional jika penanganan SATPOLPP tak mendaya guna juga intensitas Budaya dan Pariwisata  juga DISPORI TAK memberdayakan mereka kearah lebih baik dalam kepedulian dan pengembanagan kreatifitas pemuda/i maros ini, mungkin dalam kegiatan positif malam di petebe atau semisal kegiatan kreatifitas yang baik atau apalah namanya.....?, dan bukan tentang kesibukan kelamin lagi, wow.
foto : seksi dan cantik dan bukan pelacur kampung di ptb maros
Masih di sini , di wisata kuliner petebe maros, kepopuleran harga pelacur maros petebe akhirnya terdengar hingga ke Jakarta, tentang tarif sebungkus indomi dan sebatang rokok marlboro putih tadi, sebuah perusahaan penyedia jasa wanita bagi kalangan pejabat tertarik untuk menjadikannya asset berharga bagi perusahaaannya. yah link dengan sebuah cara yang tak terduga akhirnya merangsang pe-rekrutan oleh perusahaan , dan pandanku kedepan akan hal ini bahwa pelacur kampung tersebut jika terekrut, di sana mereka akan dilatih, didandani untuk dijadikan pelacur kelas atas yang beroperasi di hotel bintang lima Jakarta, wow kreen.....

Di sepanjang segi empat pantai kolam raksasa atau pantai tak berombak ini, terdapat banyak sekali cafe dan warung, mulai dari cafe terbuka seputaran kolam hingga layanan game on-line disekitaran ruko pinggir area ini, hingga cafe-cafe ruko juga cafe dg tene dengan full band tayang tiap malam minggu. Setiap sore, pantai tanpa ombak ini pasti akan ramai pengunjung, dan Malam minggu area ini menjadi lautan manusia. Sangat ramai, semua orang dari yang muda sampai yang tua, yang pacaran ataupun yang sudah keluarga, semuanya ada di sini. Mereka menghabiskan sepanjang malam bersantai bersama teman-teman ataupun keluarga mereka. sedang pelacur tak terkecuali...meremang pada malam penuh cengang.....(besok lanjut lagi

{ 6 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Palukka Jangang mengatakan...

Dak mengerka dengan tulisanta, aga anjo wae nukana?!

Radinal Aidin mengatakan...

Ha ha Masa PTB Banyak Begitunya

Lumpurbotto Bwechekipass RandhyPutrapangkep

Doddy Prayudi mengatakan...

hahahaha baru ku tau klo banyakna begituna pale PTB

Datang-Datangki pale di blogku kk sekalian Like kdong :D

http://d-oddy.blogspot.com/

Anonim mengatakan...

Saya tidak mengerti dengan tulisan ini.

irfan mengatakan...

Demikian saya

Andi irwan (iwantene) mengatakan...

Benarkah....???!!

Posting Komentar