Ke-Kekuatan Idealisme dan integritas dalam pandangan kearifan lokal (bahan sharing dgn HMI Maros)

jika pada kesadaran yang tuntas maka perlawanan pada egoisme membawamu pada  keasingan, (masih ini CATATAN BURAM, sebuah materi kelak di Sharing dgn teman2/ adik2 HMI sabtu > 3 april 2013, di taman wisata kuliner ptb maros > kemestian shearing sebab tanpa berbagi sungguh kita ...telah mati. Menelusup pada observasi dan penelitian sejarah ke-Bugis-an dan ke-Makassar-an dalam perbandingan antara pola/ konsep masyarakat lampau kita dan persandingan kini secara plural, banyak hal yang sungguh tidak kita mengerti akan perkembangan ke-kinian jika pewarisan kearifan lokal tidak berjalan sebagai pewarisan, medan dulu dan kini hanyalah sebuah keberbedaan yg sungguh tipis tapi kuantitas kualitas sama saja, kusebut sebagai pengulangan sejarah saja, dan dalam pertumbuhan awal disulawesi selatan sebagai kesukuan yang mengalami chaos, adalah kini dgn gejala yang mirip dengan masalalu yang disebut “sianre bale”, / keadaan ketika kekuatan jamak/plural tidak berpihak pada rakyat_kukira hal ini juga menjadi persebab yaitu melemahnya perjuangan atau mungkin tidak adanya pelestarian wacana-wacana sejarah semisal semangat dalam amanah yg diprogres kearifan lokal> pappaseng/pappasang

Motifasi “parapi’I nawa-nawa deE narapi’I nawa ……< (penjelasan tekstual dan kontekstual makna)
< semangat pikiran ini terharapkan mewaris demi perbaikan terus-menerus, dan keadaan luar biasa waktu itu sebab apa yang baik dari sebuah insfirasi maka pemerintah memihak, sekarang ? sebab kepentingan) < hal yang mungkin telah bergeser hingga dianggap sebagai hal yg wajar saja_

Menjadi ada itu :  terciptanya suatu suasana  yang patut DIPERTAHANKAN, atau bahkan DIBANGGAKAN, kearifan Bugis Makassar dalam perubahan lewat penanaman nilai idealis merubah keadaan sianre bale yang kami maksudkan tadi.

Pandangan bodohku mengalihkan perihal keadaan ini ke-masalampau, mengatakan  “Bugis Makassar jauh sebelumnya telah membangun imperiumnya di mata dunia, (secara garis besar tdk takluk jika tak di borongi/ dikeroyok ?),  termasuk persoalan sebab kehebatan dlm budaya tulis, yg diantara 1218 suku dan hanya lima diantaranya yg memiliki aksara tulis dan huruf lontara bagi suku bugis makassar < >,  dimana kekuatan ?, kekuatan yang sama yg hari ini di gunakan pula oleh jepang (saat hirosima dan nagasaki di bom ), era itu jepang bahkan tak me-prioritaskan keberadaan militer tapi mereka lebih menguatkan kekuatan budaya/ kearifan lokal , dan sebab latar belakang demikian kita melihat bahwa : hampir semua produksi buatan jepang merambah no 1 didunia dan kita adalah pemakai-konsumen terbanyak / pengguna. Termasuk film2 nya juga film bokep jepang, haha…

Indonesia terkhusus di maros knapa ya…?, (pernah ngusung ini sebagai pembelajaran, tapi tidak ada kepedulian pihak2 tertentu atau mungkin mereka memangkasnya sebab kepentingan lain….., mungkin lebih perspektif kepentingan materi  (sebelum lounching....)  

Teringat penerapan Semangat persatuan “seddi capiu ….dst (penjelasan tekstual dan kontekstual)  hidup berkelompok dan terorganisir, (mengalahkan kekuatan person/ sejauh ini kita ada karena lembaga/ berkelompok), hampir mirip di kelompok music > solo karier bisa saja tapi…

Lebih jelas lagi, persoalan di negara kita hari ini (persoalan klasik dan tetap pokok) terletak pada “krisis kepemimpinan”, Sudah jarang sekali ditemukan pemimpin yang memang benar-benar idealis. Hampir bisa dipastikan setiap orang-orang yang menduduki jabatan di parlemen tidak berangkat atas asumsinya pribadi “bahwa untuk memperjuangkan rakyat”. Tapi sudah terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan pihak lain. Dalam artian terciptanya suasana saling menguntungkan. (kukira keterlibatan teman2 di ranah politik tetap penting tapi tujuannya jelas > dan atas semangat ini saya mengingatkan bahwa : Allah itu basirah melihat, as sami’ mendengar > juga bahwa Allah kemudian ridha pada seseorang  yang harus lahir (tokoh)  dari pemuda….(dgn bahasa kotornya sebab idealis / U-kepentingan rakyat teman2 lain berteriak keluarkan si pulan…..kalo tdk…)

Atau mungkin kita membutuhkan karakter yg harus tumbuh dari seorang dgn > toleransi yg tinggi terhadap antar etnis dan antar umat beragama, mungkin seperti gusdur). Atau menunggu  sosok Tan Malaka yang terlupakan, ia seorang revolusioner yang namanya sangat gandrung di kancah perjuangan perebutan kemerdekaan saat itu.

Banyak dari kaum muda dan kaum tua yang melupakan bahkan menjadi
kebingungan tidak mengetahui sama sekali. apa yang harus diperjuangkan. Sampai akhirnya perjuangan itu hanya untuk memperjuangkan kepentingan individu.
>>>>>>> 
Tujuan perjuangan atau tujuan hidup samakah ?> jika hal ini penting tuk di bahas ,
maka latar belakang pertanyaan yg harus diajukan : antar hubungan kita dgn masy bahwa kita harus dikenal sebagai apaa- ato moki dikenal sebagai apa ?, Atau jangan2 untuk menjawab hal ini kita perlu merenung2 atau hal ini tak pernah terfikir ?, haha…caranya apa…ya (berfikir) coba : untuk hal ini, coba anggap kita mati lalu ……

tak henti chenel tivi memberitahu kebobrokan keadaan kita siang-malam,  kasus korupsi, pelecehan, penyiksaan, perampokan, penipuan,  skandal seks anggota dewan juga pemerintah kita yang di intervensi kekuatan luar, dll < dan lupa lagi..saking banyaknya_

*Adalah akibat dari kesadaran yang tidak tuntas > _
“lebih baik diasingkan dari pada menyerah terhadap kemunafikan”.

*Jika saja dianggap bahwa Idealisme itu adalah kemewahan terakhir kepunyaan kita satu-satunya …, menetapi, menekuri bahwa kita bukan apapun jika tanpa hal ini…?,

Aku lama berfikir mungkin Atau pelemahan ini sebab menggagap bahwa 17 Agustus adalah akhir dari perjuangan Indonesia, sungguh kita telah ciptakan gejala impotensi nasionalisme. Artinya banyak masyarakat yang berfikiran bahwa tidak ada lagi yang patut diperangi atau diperjuangkan sehingga ini menjadi degradasi terhadap semangat nasionalisme.

Kekuatan awal pergerakan HMI pernah menjadi cita2 yg patut dicatat sejarah maka saya mengenal tokoh pemikir /cendekiawan Nurcholis majid : yang bertarung dan polemic habis2an _ pasalnya adalah: ketika ia mengamati pandangan semangat persatuan ketika itu yg katanya > hanya pasti ada ketika berada dalam “kelompok partai islam” sedang yg lainnya diluar ini adalah “tdk memihak islam “,

Maka ungkapan Nurcholis majid  menjadi heboh di majalah mimbar : “islam yes partai islam no” kukira bahwa sebuah keseragam yg coba ditepisnya, perlawanan radikal atas kelompok yg berkembang,  lalu Cak Nur (sebutan panggilan) menawarkan tradisi baru bahwa dalam semangat demokrasi tidak harus bersatu dalam organisasi karena keyakinan, tetapi dalam konteks yang lebih luas, yaitu kebangsaan. Pemikirannya diaggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam < jika keterbukaan ini dianggap salah  

MAKA, Apakah sedemikian buruknya untuk disalahpahami? Pythagoras pernah disalahpahami, demikian pula Socrates, Yesus, Luther, Copernicus, Galileo, Newton, dan setiap spirit murni dan bijak yang berdaging. Untuk menjadi agung adalah untuk disalahpahami,” _

KITA LUPA BAHWA : Setiap pemikir besar terlahir karena lompatan berpikir jauh ke depan mengangkangi kelaziman pemikiran arus utama; menyimpang dari kelaziman pemahaman yang sering dianggap sebagai pengingkaran dan pengkhianatan terhadap keumuman. Meski sering disalah pahami,

: Jika dibolehkan membuat kaidah ,maka kukatakan bahwa : penyimpangan kreatif seperti itulah yang menjamin keberlangsungan sejarah umat manusia yang meniscayakan pembaruan dan perbaikan terus-menerus.

Idealisme paham atau keinginan yang sesuai / ideal atau dalam pakemnya.

Tawaran terberat saya kemungkinan terburuk:Jika sebab berkelompok lalu tidak berarti apapun ?
Mari menghistory, menelaah sejarah (hal yang masih kusebut pergolakan ter-wahh masa kehalifaan, yaitu periode wafatnya Rasulullah sehingga melahirkan moyang ahlul sunnah waljamaah) , masa ketika terjadi pergolakan segi-3 antara kelompok Ali ra, muawwiyah dan kelompok ahlu-al-syura/democrat. Dan orang /person yang tidak perpihak atau independent dari pergolakan tersebut, maka lahirlah sosok moyang perintisan pondasi islam dan pokok ilmu yang dipelopori oleh ibnu umar (peletak dasar hadits ……(ket) dan ibnu hasyim pada tafsir )

Menjadi pemuda Karena apapun itu maka terkait dengan : pengetahuan, arahan, dan kewajiban yang lahir dari proses pembelajaran _

tetapi hal ini diantarai / dijembatani oleh minat pribadi atau kemauan
Kemauan ? < penjelasan aktualisasi kaidah dan konsep quran), Maka Arah kemauan : pikiran atau cita-cita sbg satu-satunya hal yang benar2 patokan, yg dapat dicamkan dan dipahami; hal yg dianggap sempurna; juga termasuk atau fantasi untuk menunjukkan keindahan

Dan penerapan atas perjuangan kukira bukan pada hanya berlaku di ruang dan waktu tertentu. Misal saat di bangku kuliah. Selepas dari bangku kuliah, dan menjadi caleg lalu legislative, maka idealisme dan perjuanga yang diyakini sudah tidak berarti. Sebagaimana umum terjadi
_
Akhir kata : segala kebaikan, kebenaran datangnya dari Allah swt, dan kesalahan pasti dari saya pribadi, saya mohon maaf_ doa kafaratul majlis mengakhiri sharing 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar