BAHASA berarti MAKNA juga MITOS ?

ada yang bilang bahwa bahasa pertama berasal dari teriakan, (tibatiba ingat tarzan), sedang waktu kuliah dulu kudengar bahwa bahwa suku pertama gunakan bahasa adalah Africa ?, (ah lupa keterangan detailnya, maaf)_ berbincang tentang bahasa sekali itu bareng himabas : himpunan mahasiswa bahasa stkip maros, berikut komentarnya " Ketika sama berbeda dalam memberi pengertian atas "cabe rawit yang kita gigit dan kunyah lalu menelannya kemudian ", berlima kita melakukan hal yang sama, maka rasa yang coba kita apresiasi dengan beri pengertian tentu akan melahirkan definisi yang berbeda, satu sebab bahasa itu memungkinkan mitos ?,

O'oooo, tapi....lucunya ia  bahasa menjadi proses yang mewakili banyak hal sebagai simbol juga sebagai tanda/ ” penandaan” /atas pemberian makna yang terus-menerus, tiada henti. Maka selain bahasa masih kurang tepat secara umum mewakili setiap keadaan, gimana bro….? (sedang cakap2 di kantin sastra stkip maros)  

Lebih lagi jika penggunaan bahasa (ke) menjadi sastra, sebab dalam teks sastra jangan melihat kenyataan sebagai kenyataan tersebut ?(jika bisa kukatakan demikian) kenyataan yang kita lihat tidak diberi makna sebagai mana umumnya orang memberi makna, sebab sudut pandang yang berbeda. Kita mesti tega membayangkan kata -daun…, cinta.., misalnya, yang sebenarnya melampaui demarkasi politik, dan lingkungan social apapun: ia melebihi perjalanan makna yang riwayatnya ada disekujur sejarah manusia.

Mitos bahasa & premis
kata dia Bahasa bukanlah bahasa, sebelum kau mengenal habitatnya sebagai hutan liar, bahasa bisa saja cinta yang kita telan atau kawah yang kita muntahkan, karena rindunyapun adalah lejit panah yang hampir menancap - Kepadamu atau kepadaku__-maros 18 juli 2010. 
teringat bahasa kebahagiaan saat seseorang hamil, sedang 10 tahunan usai nikah baru bgini dan .... "sesuatu akan meledakkannya...meledakkan bahagiannya...."

komentar lain bilang : bahasa adalah masa kini juga masalalu yang kerap, tak mampu di identifikasi dengan baik,/Rolan Barthes- bahasa itu mitos.--sebuah dunia acak (chaos) yang mampus-mampusan dan kita mencoba mengikatnya  dalam sebuah keteraturan sementara. Karena memang yang terjadi dalam tingkat pengucapan hanya proses” penandaan” /pemberian makna yg terus-menerus, tiada henti....(kata dia nih puisi berikut sangat bahasa, katanya...., haha..ha...) 
Puisi " seberapa luka"
pucuk daun yang 
memucat diterpa sengat siang, 
diajaknya kita bersaksi, 
celaka-nya "kita dengan terpaksa melihat terik siang men- 
jilat jilati pucuk daun itu, hingga lunglai dan kerontang", seberapa luka ? 
________________
kaimuddin.Mbck.Yapim.Maros 2009. kelak disambung....

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar