Beduk Ajaib Ramadhan Tradisi Maros

Berita Maros : Kesenangan memukul beduk mengantarkan sebuah tradisi tahunan setiap ramadhan yang terkenal dengan "lomba beduk", di seputaran kab maros ini meramai peserta apresiasi memukul beduk dengan pelaksanaan lomba usai sholat tarwih, dan tempat kegiatan serupa ini tergelar dalam waktu malam ramadhan yang berbeda, sebut saja merk pelaksanannya (HPPMI Maros, The Dekker, Kommuni Lapangan Gollae, Pemuda Marampesu, Remaja Masjid Kassi Kebo', gabung (Karang Taruna Maros & warkop dg te'ne), Pemuda Masjid Betang, Masy Bantimurung, Kom Masjid Agung, remaja Maccopa, juga SMANSA Maros). Pelaksana dan waktu yang berbeda ini memungkinkan peserta menggelar aksinya ditiap arena lomba juga bahwa piala serta uang pembinaan mengisyaratkan gengsi untuk berusaha mencapainya. Ya lomba beduk yang awalnya telah dirintis oleh sekelompok anak muda/ organisasi HPPMI Maros sejak 2005 hingga kini 2013, telah menjadi Tradisi Religi di Maros Butta Salewangang ini_ Riuh malam lebaran dan kesempatan pukul beduk dengan keras hingga mengeluarkan bunyi, bagian dari pengalihan penat setelah siangnya lelah membuat dan masak buras, ketupat, rendang dll, namun ketukan  beduk ini jika dilakukan selain malam lebaran maka resonansi bunyi gendang besar berkulit ini, merupakan tanda waktu masuk sholat maghrib, tanda anak-anak segera pulang dari main, juga tanda sakral antara gelap dan terang yang secara turuntemurung pada masy bugis-makassar menegas istilah "N-rara i' setangnge" (bhs bugis terj : waktu setan sedang berkeliaran). Sebuah pentolan yang dihantamkan pada gendang besar yang terletak di beranda sudut masjid, adalah tradisi yang dilakukan oleh doja /pengurus masjid, kegiatan memukul gendang tanda waktu sholat mungkin tak terjadi di daerah lain sedang di kampung sini (kassi maros) masih merupa pengingat atau semacam panggilan bersiap-siap terlaksananya waktu sholat.

Malam lebaran dan ledak petasan, mercun juga konvoi beduk keliling dan bising pemotor yang rame atraksi standing, ya.. dan kami sedang disini saja pada anak-anak yang berkesempatan memukul beduk, anak-anak itu bergantian, tak ada hal yang sakral dari bunyi benda mirip drum berkulit / tambun itu, sedang anak-anakpun membunyikannya hanya sekedar puas bisa me-produksi bunyi "duk..tak.. du..du..duk" , lalu cekikikan mungkin juga sebagai gambaran puas telah "magganrang" atau memukul gendang atau beduk.

beduk ajaib gamacca nurul huda
busana muslim di beduk ajaib ramadhan maros
 Usai sholat tarwih dan malam menggelegar... takbir dan tahmid di kumandangkan sebagai pengawal kreasi tabuhan, segala jenis musik dipadukan dalam aransement, mulai dari kursi besi rusak, jirojidor dari Africa, sistim dirigent memakai obor api seolah dari zaman bahuela hingga penggunaan kantong kresek_ tepuk tangan dan ruangan ptb yang luas tiba2 me-sesak, demikian semarak dan berdesakan, terlebih bahwa : tiap2 peserta rupannya membawa serta rekan2 sekampungnya atau selokalisasi masjidnya, seolah pertaruhan kreatifitas menabuh beduk antar masjid atau antar kampung, tampak panitia mengganti pagar darurat dgn tali sebagai ganti pagar pengaman babmbu sebelumnya yang telah bobol.


(keterangan gambar : Bapak bupati kab Maros buka festival Gema Ramadhan,
di atas panggung terapung area wisata kuliner sering disebut ptb maros, dengan pelaksana HPPMI Kab Maros.Event tahunan HPPMI Maros  ini mengusung tema Remaja Cerdas dan Bertaqwa, 
Bahan Bakar Perubahan Bangsa)
 
peserta lomba tabuh beduk awal tahun pelaksanaan 2005, lebih dominan pesertannya adalah anak2 dan remaja selebihnya, yang dipercaya mewakili sebab livestyle memukul beduk dengan konstruktif produksi irama yang indah terdengar.....Oo Kreen,_cat sementara

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar