Puisi Senja

Rabu, Agustus 21, 2013

Puisi Senja untaian kata dalam detik-detik waktu akhir sebelum senja tenggelam, dan seseorang menunggunya, ia merafal doa-doa untuk kekasihnya, agar malam kelak keraguan itu bukan lagi getir atau kerapuhan, puisi yang sekaligus menerangkan senja dala girah warna-warni sepi, sungguh "Gila" hasrat juga rindu-nya adalah detik waktu sebelum senja berakhir. Bagaimana maksud seutuhnya puisi senja ?. Untuk lebih jelas, simak saja berikut ini. Namun maafkan keadaan teksnya yang (belum)/ tak benar-benar baik ini, dan dengannya kau boleh melupakan bahkan membuang puisi ini jika tak suka. 













Puisi Senja 

Dalam senja sekawanan burung pulang kembali ke sarang,
kepaknya menuliskan beberapa aksara, serangkai kalimat  tentang  rindu,
cinta, dan airmata.
dalam senja   puisi tak pernah berhenti. 

Senja hampir tenggelam dan
seseorang menunggumu, ia bawa serta
serangkai bunga-bunga.
dan saat senja tenggelam ia  melintaskan doa-doa.
semoga kau tak kegelapan.
------------
Malam menulis rindu, bukan untuk kau baca.
Karena rindu yang sesungguhnya telah kau tinggal di tepian senja.
------------
Kelisahnya pada senja yang hampir berakhir,
adalh alamat kesendirian yang hampir tertutup
yang kau tahu setelah itu, mati dan hidup tak beda baginya
--------
Detik Senja yang hampir tenggelam, bukanlah penantian yang salah.
Hanya kenanganlah yang membuatnya basah.
setelah senja kaupun mengaku kalah.
---------------------
Mahasiswa demonstran ia merebus sendiri semangatnya,  seperti ban terbakar di tengah jalan dan suara toa penuh jerit. Serombongan mahasiswa demonstran yang baru saja pulang dari gedung DPR, ia lelah lalu  mengadu  pada senja pada  langit yang memerah, ia lesu dan mendinginkan sejanak kesendiriannya. 

puisi senja tutup matamu
Kita memang ditakdirkan untuk jauh raga oleh jarak. Tapi Kita juga ditakdirkan untuk melihat Senja yang sama tanpa jarak.

sebab senja bias cahaya jingga  turun menjuntai perindu, yang ku tahu setelah itu, dari atap rumah-tumbuh bunga bunga cahaya, indahnya menerangkan malam"kaukah itu ?"

Senja yang lindap dari peta matamu, aku ingin mendekap kegilaan itu, aku ingin menghirup nafasmu yang hangat lalu menghembusnya kembali kelehermu, masih terasa santun bila waktu merestui hari berganti sebab kau senja yang datang juga pergi, Lihatlah ....setiap kali senja itu hampir tenggelam, sungguh  rupamu tertahan penuh khusyuk : apakah ini rindu atau larutan emulsi yang separuh gila ?.

Akhir kata: kurafalkan bahwa warna terindah adalah senja, terlebih tatkala senja mengajariku tentang kegilaan rindu : itu kisahQ.

Sangbaco. Maros 021019_
Demikianlah puisi senja, detik-detik senja akan berakhir ia wajah terapun dan hampir berantakan, Puisi yang menegakkan sepimu dan menghibur rindumu, dan telah dipublikasikan sangbaco.web.id.. Semoga puisi senja, dapat menghibur dan menginspirasi untuk menulis kembali puisi cinta, galau, puisi menyentuh hati atau puisi cerita kehidupan_"Maafkan untuk hari ini saja, dan esok jangan coba menanti senja, sebelum ia melempar dirinya sendiri ke pangkuanmu_ Sebab Puisi Senja

You Might Also Like

4 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images