Puisi Senja

Kumpulan Puisi senja: sebelum jera kesendirian, maka kepak sayapnya tak lekang sebelum semangat  dipetiknya terlebih dahulu, maka ketika bahasa rinduannya tiba, baginya tak pelabuhanpun yang kabut bahkan mimpi pun dilintasnya....., serupa angin ia mengeos antar bukit tanpa arah juga tanpa lelah
 : pada sekokoh rindu disayapnya aku belajar mengenal rinduku sendiri : rindu yang senja
_____
dalam senja langit memerah, puisi tak berhenti disini
seperti serombongan mahasiswa baru saja pulang demo, mungkin rindu itu seperti teriakan mereka tadi dengan bakar ban dan pengeras suara yang tanpa peduli...
senja sebentar lagi berakhir, dan rindu tak pernah menutup mata. 
senja menutup mata

_________
bermula dari senja
malam yang hilang mem-
bawa serta rangkai bunga-bunga.
burung-burung yang terbang menepi
melihat malam
" melintaskan doa-doa"
_________

senja adalah jarak rindu
 ______
mungkin sebab senja tadi

tak mengerti ketika
dari pucuk-pucuk langit
 turun menjuntai malam.
yang ku tahu setelah itu
 dari atap rumah-rumah tumbuh bunga bunga cahaya
menutup pekat malam
__________
kaimuddin mbck
_______

sebelum kau jauh dalam puisi Senja
Setiap kali kubaca kembali larik-larik kata ini, tak terasa cairan 
bening membasahi pelupuk mata. Sebentuk kecengengan kah atau mungkin se-buah empati? Ah...lagi-lagi cinta mampu melakukannya.

Puisi Senja di Pelabuah kecil : karya chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut. Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.


Berkali-kali ku baca larik demi larik, bait demi bait puisi di atas hingga akhirnya muncul sebuah bingkai lukisan imajinasi di kepalaku. Sebuah pemandangan pelabuhan dengan gudang-gudang dan rumah-rumah tua. Perahu-perahu tertambat dalam diam tiada bergerak. Gerimis turun di senja yang temaram, ditingkahi suara kepak elang di kejauhan. Seorang lelaki berjalan sendiri menyusuri semenanjung, memeluk sepi. Sebuah suasana murung dan sedih yang sangat menghunjam, padahal puisi ini tak menyebut secara eksplisit kata-kata tersebut. Tetapi suasana itu sangat terasa manakala kita mampu meresapi makna dari kata-kata yang terjalin. Sungguh sebuah puisi yang luar biasa, dan hanya orang-orang dengan bakat luar biasa yang mampu menciptanya. 

Kritikus sastra H.B. Yassin mengistilahkan sebagai bentuk 'kerawanan hati', sebuah kesedihan mendalam yang tak terucapkan. Puisi siapakah ini? Untuk apa dan siapa puisi ini dialamatkan?Puisi ini ditulis oleh pujangga besar Indonesia, Chairil Anwar dalam sebuah jalinan antar kata yang berkolaborasi mesra membentuk metafora yang sangat indah dan menyentuh. Seperti menggelontor dari lubuk hati yang paling dalam. Sedang jatuh cintakah dia? Siapakah perempuan yang memikat hatinya? Tampaknya memang begitu, dan perempuan yang dipuja sebagai apresiasi sang pujangga  dalam puisi senja itu bernama Sri Ayati. Wanita ini lahir di Tegal 19 Desember 1919. 
obyek lukisan untuk senja

Sejak berumur 8 tahun ayahnya membawanya pindah ke Jakarta yang membuatnya lebih sering merasa sebagai orang Betawi daripada Jawa. Ia pernah menjadi penyiar radio Jakarta Hoso Kyokam pada masa pendudukan Jepang—tempat yang sekarang menjadi gedung RRI Pusat. Konon dari sinilah perempuan "Senja dalam puisi" yang menguasai beberapa bahasa asing ini bertemu dengan Chairil Anwar, sosok pemuda berperawakan kecil berkulit putih dengan mata selalu memerah (mungkin karena kurang tidur) dan rambut acak-acakan. Satu hal yang menjadi ciri khasnya adalah tangannya yang selalu membawa beberapa buku ke mana pun ia pergi, mencerminkan pribadi yang selalu haus akan ilmu. Mereka berdua bergaul dan berteman secara wajar, tak terlihat adanya sebuah ikatan emosi yang khusus. Namun siapa sangka ternyata sang pujangga memendam bara asmara terhadap perempuan yang di masa mudanya begitu cantik ini. Seorang maestro seni lukis, Basuki Abdullah pun pernah mengabadikan wajahnya dalam bentuk goresan sketsa. 

Hal ini cukup menjadi bukti tentang kecantikannya di masa lalu, meski yang bersangkutan sendiri menyangkalnya. Sebuah sisi yang menunjukkan kerendahan hatinya, barangkali. Sri Ayati, sketsa karya Basuki Abdullah. Suatu hari seorang sahabat dekat Sri Ayati bernama Mimiek yang merupakan anak angkat dari Sutan Syahrir (mantan perdana menteri RI) datang ke rumahnya sambil menunjukkan selembar kertas berisikan sajak. "Ini sajak Chairil Anwar khusus buat kamu," katanya. Dan sejak itulah Sri Ayati tahu ternyata Chairil Anwar menyintainya. Sebuah cinta  dalam "puisi senja" selalu di simbolkan untuknya, ia yang tak pernah terungkapkan sebelumnya, sampai akhirnya mereka menemukan pasangan hidupnya masing-masing, Sri Ayati dengan dr. R.H. Soeparsono dan menikah pada tahun 1944 sementara Chairil Anwar dengan Hapsah pada tahun 1946, tahun yang sama saat ia mencipta puisi berjudul Senja di Pelabuhan Kecil itu. Komunikasi mereka segera terputus setelah Sri Ayati harus hidup berpindah dari kota-ke kota mengikuti tugas suaminya. Bahkan ketika Chairil Anwar meninggal pada tanggal 28 April 1949 dalam usia yang belum genap 27 tahun, Sri Ayati pun tak mengetahuinya. Sri Ayati menghabiskan banyak masa tuanya di Magelang dan kadang-kadang diboyong anaknya ke Jakarta untuk mengobati sakit kanker payudara dan glaukomanya.
senja di tengah danau tempe
Ia meninggal di Jakarta pada 30 Desember 2009 akhir tahun lalu. Sungguh mengasikkan mencermati latar belakang lahirnya sebuah puisi milik pujangga besar yang tentu tak pernah diajarkan di sekolahku dulu. Bagaikan perahu cinta yang urung berlabuh di pelabuhan jiwa, puisi ini mengisyaratkan cinta yang tenggelam dalam bisu. Sedikit demi sedikit mulai bisa kurasakan energi yang terkandung dalam tiap kata-katanya. Rasa pilu, sedih, sepi telah berhasil diungkapkan dengan begitu indah dengan kekuatan yang abadi melampaui batas hidup si pencipta dan orang yang terkait di dalamnya. Sebagai seorang yg memiliki hati aku bisa merasakan kesedihan Chairil Anwar saat menyintai namun mustahil untuk bisa memilikinya. Dan sekarang setiap kali kubaca kembali larik-larik kata ini, tak terasa cairan bening membasahi pelupuk mata. Sebentuk kecengengan kah atau mungkin sebuah empati? Ah...lagi-lagi cinta yang mampu melakukannya. Berbagai Sumberkiriman dari Imma Andaya.

Puisi senja--------puisi senja--------puisi senja

{ 4 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Pelajarpro.com mengatakan...

Puisi Senja Menyiratkan Makna akan Ke-Rinduan orang yang sangat d cinta

I Like This

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

makasih gagah...

Dg. Tinggi Poetra Pangkep mengatakan...

saya suka bang.......

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar