Suku Bugis dan perihal to Manurung

Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga dominan etnis Bugis tentu mengetahui asal usul keberadaan komunitasnya atau perihal to manurung tersebut, juga sebab masih tersebar banyak cerita demikian yang diketahui atas lacak jejak perihal ini.

Sebuah "Sureq Selleng I Lagaligo" mengungkap banyak hal  to Manurung dalam naskah tulisan tangan di atas daun aka' / lontar yang merupakan koleksi perpustakaan Rijksuniversiteit Leiden (telah tercetak), juga dalam manuskrip lontara attoriolong mengemukakan maksud yang sama, bahwa hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan, seperti halnya kerajaan luwu, gowa, wajo, Bone, pammana, soppeng Sinjai, Toraja, meyakini keberadaan "To Manurung"  sebagai cikal bakal sebagai tokoh-tokoh dalam kerajaan yang di beri kedudukan sakral dan penuh kharismatik yang datang beberapa abad kemudian, setelah gaibnya para raja. (*)

Perihal To Manurung sebagai pembabakan awal sejarah sebelum adanya  kerajaan2 Bugis-Makassar,  menandai munculnya tokoh manusia misteri di suatu tempat tertentu dan tidak diketahui asal usulnya, namun dipercaya mereka sebagai manusia titisan dewata yang turun dari langit_ namun dalam catatan kami tidak menemukan suatu uraian dari lontarak yang dgn nyata mesaksikan pemunculan to manurung dari langit. 

Penamaan salah satu nama suku di sulawesi selatan dalam hal ini Bugis terkait dengan perihal to manurung, cerita berikut ini : mereka dan tokoh2 tersebut Kata Bugis berasal dari kata to Ugik (Ogik), yang berarti orang Bugis. Penamaan “Ugik “merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan Negara cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan, tepatnya kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi, dari ujung namanya inilah kemudian dikenal dengan Bugis, sesuai dengan permintaannya agar rakyatnya kelak dapat diberi nama sesuai dengan akhir namanya, permintaan La Sattumpugi tersebut, teranggap sebagai pengobat terhadap kerinduannya diberi anak laki-laki oleh istrinya yang bernama We Tenriabeng, La Sattumpugi adalah ayah dari We’ Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu’, ayahanda dari Sawerigading. Sedang saudara kembar We Tenriabeng :Sawerigading, adalah suami dari We’ Cudai dan melahirkan beberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar. Sawerigading Opunna Ware’ (yang di pertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis.

Peradaban awal orang-orang Bugis banyak dipengaruhi oleh kehidupan tokoh-tokohnya yang hidup di masa itu, dan diceritakan dalam karya sastra terpanjang di dunia yang termuat didalam La Galigo atau Sure’ Galigo dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman Folio dan juga tulisan yang berkaitan dengan silsilah keluarga bangsawan, daerah kerajaan, catatan harian, dan catatan lain baik yang berhubungan dengan adat budaya dimasa itu, juga tentang tokoh-tokoh yang diceritakan dalam La Galigo, tidak sedikit pendapat terlontar bahwa, buku sastra La Galigo secara fisologis mengandung unsur-unsur hikayat orang purbakala di Sulawesi Selatan. Suku Bugis adalah suku terbesar yang ada di Sulawesi Selatan. Mereka yang berada di luar Sulawesi Selatan lebih banyak lagi. Mereka mendiami 15 dari 21 kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Soppeng, Wajo, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Sidenreng Rappang, Bulukumba, Sinjai, Pinrang, Barru, Enrekang, Parepare, Pangkajene Kepulauan, dan Maros. Dua kabupaten terakhir merupakan daerah-daerah peralihan, yang penduduknya berbahasa Bugis maupun Makassar.

Mereka dikenal sebagai suku bangsa pelaut dan tersebar hampir di seluruh Nusantara sampai ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei. Daerah tempat mereka berdagang bahkan sampai ke utara Australia. Demikian tersebarnya orang Bugis ini sehingga Mochtar Naim, antropolog, mengatakan, di mana ada tambatan perahu, di situ pasti ada orang Bugis. Mengapa hanya Bugis yang dikenal dan semuanya menjadi Bugis? Sarung bugis, kapal bugis, budaya bugis, bahkan sampai makanan: kue bugis[2]. Bahwa orang-orang Bugis adalah salah satu masyarakat Asia yang menjadi pemeluk teguh ajaran Islam, sudah ditegaskan oleh cukup banyak kepustakaan, begitu teguh mereka memeluknya sehingga Islam dijadikan bagian dari jati diri mereka, di tanah Bugis orang bahkan bisa membuka sejarah perang pembebasan budak dua setengah abad lebih sebelum perang pembebasan budak meletup jadi perang saudara di Amerika Serikat.

Namun, masyarakat Suku Bugis yang sangat dalam menyerap Islam itu dibanyak wilayah tetap mempertahankan berbagai bentuk peninggalan religio-kultural pra-Islam, sinyalemen dari keadaan ini merupakan emosi strata dalam trah bangsawan tradisional Bugis yang selama ratusan tahun menempati lapisan teratas tatanan masyarakat, menandaskan diri sebagai keturunan langsung dari dewa-dewa purba namun, trah ningrat penuh warna ini bukanlah despot dengan kekuasaan absolut: mereka memperoleh kekuasaan dengan semacam konsensus sosial yang ditandaskan oleh rakyat yang menawarkan kekuasaan itu kepada mereka.

Catatan berikut ini melengkapi perihal to manurung ini  kelak insyaAllah....> 5.Sebab merantau*Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan
___________
*) Batara Guru sebagai To Manurung pertama 
Roger Tol (1989, op.cit : 60)
B.F.Mathes, 1883a
B.Erkelens, 1897, op.cit : 81

{ 1 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Kisah sukses sarmila mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar