Idiom Pinisi di Sunda Kelapa

Pelayaran Pinisi di Sunda kelapa tak setua dengan tarik tahun pelayaran Sawerigading mencari wecudai sebagaimana kisah dalam Lontara La Galigo, Tapi Pinisi hingga kini merupakan salah satu roda penggerak ekonomi di Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan ini dalam sebuah literasi Belanda sudah ada sejak abad ke-5 dan merupakan pelabuhan yang berada dibawah kepemilikan Kerajaan Tarumanegara, Sunda Kelapa yang ramai beroperasi sejak tahun 1527 itu, namun pada abad ke-12 berpindah tangan menjadi milik Kerajaan Sunda”. Ungkap Bang Yahya seorang Budayawan Betawi yang kami temui di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). 
 Begitu sampai di galangan kapal, kami disambut dengan deretan kapal-kapal kayu tradisional atau lebih dikenal dengan sebutan kapal Pinisi. Tak berbeda banyak dengan nuansa dahulu, Pelabuhan Sunda Kelapa berhasil berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting  yang ada di pulau Jawa, mengingat lokasinya yang cukup strategis.  Di ujung jalan terdapat  bundaran jalan yang di tengahnya berdiri patung pinisi dengan layar biru. 

Deretan kapal dengan moncong atau cadik panjang yang menjulur ke badan jalan membuat pelabuhan ini terasa khas,  ternyata pemilik dari kapal-kapal ini sebagian besar adalah orang Bugis, suku Bugis memang pelaut, dan mempunya keahlian untuk membuat kapal Pinisi dengan peralatan dan pengetahuan seadanya. Bertemu dengan tokoh tua pembuat phinisi Muslimin Daming, yang pernah memperjuangkan bahasa suku mereka dengan membuat acara revitalisasi bahasa Bugis di Sunda Kelapa, memberi kami informasi tentang pembuatan perahu yang sarat dengan ritual, dan dalam bahasa Bugis di maknakan “sara’-sara’ atau ampe deceng “, dengan maksud maksud bahwa : ritual tersebut merupakan syarat-syarat yang mengantarai baiknya harapan pada perahu yang akan dibuat”, dan ilmu membuat perahu ini mereka pelajari secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Perahu layar pinisi kayu tradisional yang cukup andal untuk berlayar di laut luas.


Pelabuhan denga  nilai sejarah, dan dialihfungsikan menjadi situs sejarah. Tedapat bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di sekitar wilayah pelabuhan,  kini tempat tersebut dijadikan Museum. seperti Museum Bahari, Museum Fatahillah, Museum Wayang dan lain sebagainya.
Berikut paseng (bahasa Bugis : pesan) egosentris yang  menegaskan kerelaan dan semangat mereka membuat pinisi,
Ri caddi caddiiku iji
Naku jannang ri Bantilang
Anjama lopi
Kasossorang manggeku

Pasangngi pinangkakannu
Pauang anak ri book
Nakatutui
Sossorang kapanritanna
(sejak kecil aku menetap di Bantilang, bekerja membuat perahu, sebagai warisan leluhurku, pesankan pada teman sebayamu, kabarkan pada generisamu, agar memelihara takdirnya sebagai ahli waris). Pappaseng dari Alimuddin Dg Mappi (almarhum)

”Pinisi dengan  keseimbangan yang cukup baik, sangat bersahabat dengan gelombang besar juga dengan ketahanan yang cukup lama, keberadaan ini  dalam kesaksian sejarah teranyar adalah ketika seorang calon presiden terpilih, Joko Widodo - Jusuf Kala menaiki sebuah kapal Pinisi di Sunda Kelapa, dan mengucapkan pidato yang begitu berkesan. Jokowi memiliki ide mengenai Indonesia sebagai poros maritim dunia. Mengoptimalkan fungsi laut sebagai sarana mobilisasi barang yang cepat dan tangguh, tanpa macet. Ungkapnya

"Dengan kerendahan hati, kami Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menyerukan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk kembali ke takdir sejarah sebagai bangsa yang bersatu, bangsa yang satu, bangsa Indonesia, Pulihkan kembali hubungan keluarga dengan keluarga, hubungan tetangga dengan tetangga, hubungan teman dengan teman yang sempat renggang," tambahnya dari atas satu kapal tradisional Pinisi di pelabuhan Sunda Kelapa.

Tome Pires seorang Portugis penjelajah menorehkan kesannya tentang tempat kapal bersauh bernama Kalapa di pesisir Java. Menurutnya, Kalapa adalah pelabuhan terbesar di Jawa selain Sunda (Banten). Dia besar dan strategis karena merupakan pelabuhan transit berbisnis rempah-rempah.
Pelabuhan itu kini bernama Sunda Kelapa. Pelabuhan yang menjadi muara perjuangan anak bangsa, menjadi wahana bagi yang membutuhkannya secara berkelanjutan. Terdapat dua bagian yaitu pelabuhan utama dan pelabuhan Kalibaru. Pelabuhan utama mampu menampung 70 perahu layar motor (PLM) sedang Pelabuhan Kalibaru menampung sekira 65 kapal antar pulau.
Di pelabuhan Sunda Kelapa Kini, tampak pula kapal besi berbagai ukuran yang sandar di Pelabuhan Sunda Kelapa. Bentuk kapal besi itu terlihat cukup kokoh dibandingkan dengan pinisi yang terbuat dari kayu. Akan tetapi, dari segi estetika, pinisi jauh lebih menawan daripada kapal besi.
Keberadaan kapal pinisi ini menguatkan pelabuhan tersebut menjadi  tujuan wisata, karena pelabuhan ini antik banget, sudah dikenal sejak abad 12! Bayangkan! Pelabuhan ini mengalami pasang surut, dengan pergolakan dan serangan mulai dari Portugis, Belanda, Demak, Mataram, tetapi tetap masih utuh. Bayangkan nilai kesaksian sejarah dari pelabuhan Sunda Kelapa ini!

Sampai kapankah pinisi akan menghiasi Pelabuhan Sunda Kelapa? Yang jelas, bangsa ini telah mencatat dalam sejarahnya, bahwa "pinisi merupakan salah satu perahu layar tradisional terbaik asal negeri in.
referensi : sundakelapaheritage.org / dan terimakasih buat Bang Yahya

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar