Narasi Marusu / Maros "Dulu dan Kini"

Dibacakan HUT Makassar Gemilang ke 348(Tinjauan Sosiokultural, pendidikan , destinasi dan Budaya )_Kabupaten Maros, dikenal sebagai "Butta Salewangang" , sebuah gambaran masyarakat yang mencintai kedamaian , dan me-syukuri kesejahteraan, serta hidup tenang lahir dan batin,
Kabupaten Maros pada awalnya merupakan wilayah kerajaan yang dipengaruhi oleh dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan, yakni Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa, sungguh sebuah nuansa strategis dengan nilai yang cukup potensial. Dan sebab ke-urbanan tersebut maka Kabupaten Maros  dihuni oleh dua suku, yakni Suku Bugis dan Suku Makassar.


Kerajaan dengan tarikh tahun 1471 perspektif lontara attoriolong yeng bernama Marusu . kala itu hidup berdampingan dengan damai bersama  kerajaan kerajaan tetangga ,seperti Gowa, Bone, luwu dll,  hal yang dipahami pula sebagaimana  nilai pappaseng, yaitu “Seddi capiu rekko masseddi makkirapangi lebbi pi rekko tau tenripauni”, sebuah nilai kesatu paduan seperti lidi yang yang berkumpul untuk sebuah arti, lebih lagi jika manusia yang berkumpul maka,  tak terkatakan lagi keluarbiasaannya”.

Berbicara Kesatupaduan tentang nilai pendidikan hari ini,  dalam terobosan aplikasi  e-Panrita, terimakasih pada Pemprov Sulsel, sebuah  kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan di Sulsel, dan Indonesia pada umumnya, “e-Panrita, hal yang dapat mendekatkan hubungan antara empat pihak, yaitu orang tua, guru, siswa, dan regulator pendidikan”. Terimakasih pada  Kadisdik Sulsel Irman Yasin Limpo. Meski hal ini masih perlu dikaji tuntas tentang keselarasan antara kondusif nuansa pembelajaran dan tipografi perangkat tersebut. Beliau menambahkan bahwa, “ dengan ini, maka para siswa, guru, dan regulator dapat melakukan berbagai aktivitas, misalnya telekonfrens, e-learning, kuis serta polling untuk meningkatkan motivasi guru”, sistem data,  komunikasi dengan seluruh jaringan sekolah di 24 kabupaten-kota, termasuk pelaksanaan UNBK.  bisa berjalan dengan lancar tanpa sekat. e-.Panrita…., ceptlah sampai ke-Marusu.
Sebuah perihal terobosan dengan sinyalemen pappaseng yang tertitah “parapi I nawa-nawa deE narapi nawa-nawa”, keinginan pada temuan-temuan baru yang memberikan maslahat untuk orang banyak.

Kabupaten Maros, menyimpan dan menciptakan sejumlah ragam potensi wisata. Potensi itu tak hanya wisata pantai, air terjun, permandian air panas Mallawa, tapi juga wisata  kuliner semisal PTB. Namun, yang tak kalah menarik dan menakjubkan, bahwa di daerah ini juga dunia mengakui keberadaan  kawasan bukit atau gugusan karst terluas di dunia selain karst di Cina Selatan dan Vietnam. Demikianlah alam semesta mengungkapkan dirinya di negeri Sulawesi Selatan.
Ke-Makassar, sempatkanlah mampir di Taman Nasional Bantimurung yang terletak di Kabupaten Maros, sebagaimana alam mengungkapkan dirinya, dengan menyuguhkan  pemandangan alam pegunungan yang indah dengan kesejukan udara disekitarnya, dan dengan waktu yang sangat awal reflektif mereka berkata “aga ro merrung”, “oh,,,benti puang…”,  rupanya air yang mengalir deras, yang jatuh  dari ketinggian,  membentuk   sungai yang  diapit oleh kokohnya tebing-tebing terjal, ekspresi alam yang sungguh menyegarkan, dan terus berlangsung hingga kini.

Hal unik lainnya yang bisa kita jumpai di Taman Nasional Bantimurung ini adalah keanekaragaman kupu-kupu yang bertebaran disekitar area ini, menyebabkan Alfred Russel Wallace (1857) menjuluki Bantimurung ini sebagai “The Kingdom of Butterfly”. Pada akhirnya dibangun pulalah tempat penangkaran  yang diusung dalam konsep Taman Kupu-Kupu,  selain berfungsi untuk kepentingan spesifikasi  jenis kupu-kupu, Taman Kupu-Kupu ini juga merupakan wahana pendidikan dan konservasi bagi masyarakat umum.
Memasuki kawasan wisata ini, menegas sambutan  patung kupu-kupu raksasa di depan pintu gerbangnya , lalu perjalanan menuju ke-Museum Kupu-Kupu maupun ke Air Terjunnya hanya  ditempuh dengan berjalan kaki, tapi jangan kuatir karena jarak untuk menuju kesana relatif dekat.
Kupu-kupu yang ada di sekitar area itu sebenarnya berasal dari sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Kassi Kebo. Danau ini dikelilingi oleh tebing-tebing terjal dan dihiasi hamparan pasir putih di tepiannya. Danau inilah yang menjadi habitat utama dari ratusan warna warni kupu-kupu yang ada di Bantimurung ini.
---------------
Di belakang patung kupu, kokoh tegak patung kera raksasa,  patung kera ini erat kaitannya dengan cerita rakyat masyarakat Butta salewangang Maros yaitu “Toakala”Malam menjelang tidur, masyarakat budaya melantunkan pau-pau ri kadong tentang Toakala dan Bissu Daeng yang merupakan mitos paling terkenal di bumi Salewangang ini. Demikian pula beberapa penyair mengadakan pendekatan sajak dalam bahasa Bugis maupun Makassar sebagai perwajahan Maros.
Disekitaran Bantimurung kera yang jumlahnya sangat banyak dan sesekali tampak kera putih raksasa seakan me-sakralkan kembali area Bantimurung tentang foklor mereka dengan idiom “Toakala”.  Pemandangan ini seolah-olah membuka mata kita  kepada kebenaran yang dirasakan sebagai pengalaman langsung dan  berwujud dari foklor toakala.
Toakala adalah sebuah parikadong atau cerita rakyat Bugis Makassar yang dahulu sangat populer di Kabupaten Maros. Kisah Toakala yang menceritakan tentang sebuah kerajaan Toale, ya… sebuah kerajaan yang  saat ini menjadi lokasi permandian dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
-----------
3 kilo Sebelum Taman Nasional Bantimurung, mari sejenak beralih ke ikhtisar budaya zaman batu, “Leang-Leang”,  Prasejarah Leang-leang menawarkan wisata sejarah budaya peradaban manusia purba. Tapak kehidupan manusia jaman prasejarah dapat ditelusuri di lokasi wisata ini. Lukisan telapak tangan manusia dan babi rusa yang terpampang di dinding-dinding gua serta beragam artefak menjadi bukti kehadiran manusia prasejarah di daerah ini.

Di taman ini terdapat ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.
Dua arkeolog berkebangsaan Belanda  yang pertama menemukan lukisan-lukisan dinding di Gua Pettae dan Petta Kere pada tahun 1950.
Lukisan prasejarah tersebut menceritakan kehidupan sosial, seperti aktivitas harian dan sistem kepercayaan yang dianut saat itu. Sementara gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap tangan milik salah seorang anggota suku usai ritual potong jari. Ritual ini dilakukan budaya sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya.

Leang Leang terletak dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di daerah Maros Pangkep. Gugusan tebing batu dengan bentuk yang unik serta gunung-gunung  yang kokoh menjulang menampilkan panorama khas landscape karst. Selain menambah pengetahuan tentang peradaban manusia purba, berbagai aktivitas pun dapat di lakukan di sini, Pegunungan  yang sudah berumur ribuan tahun ini diakui sebagai kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou di China. Meliputi area seluas 43.750 hektar, 286 goa dengan lebih dari 30 goa prasejarah. Wilayah yang sangat luas jika i ini berupa tempat bermain atau hiburan. Ow….panorama alam objek wisata ini pun sungguh menawan.
Di atas hamparan rumput yang hijau atau di tepian sungai yang mengalir jernih di pinggiran tebing, pengunjung pun bisa bersantai menikmati asrinya suasana. Lokasi ini pun cocok untuk kegiatan outbound. Demi menambah kenyamanan pengunjung, di area ini telah dilengkapi dengan rumah adat, baruga, shelter, toilet serta jalur tracking
-------------
Beralih ke masyarakat adat Rammang-Rammang, ketika dahulu mereka cendrung memakai pakaian  hitam-hitam,  tampaklah Indahnya jelajah panorama pebukitan karst dengan warna batuan dominan hitam diantara aliran sungai dan hamparan persawahan tersebut, sungguh menakjubkan.
Dalam sebuah episode, Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Bapak Syahrul Yasin Limpo  membuka festival di kawasan pengunungan karst (kapur) Rammang Rammang di Kabupaten Maros, Sulsel. Ungkapnya.
"Festival full moon di Rammang-Rammang ini diharapkan dapat menyedot perhatian wisatawan lokal dan mancanegara, sehingga objek wisata ini menjadi tempat wisata baru yang menasional," Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel pun usai  menggelar festival Full Moon Rammang Ramang pada 8-9 Agustus 2015. (pada  bapak gubernurku, terimaksih)
Seperti yang diketahui bahwa Gugusan Pegunungan Kapur (karst) Maros-Pangkep adalah gugusan pegunungan kapur yang terluas dan terbesar kedua di dunia setelah pegunungan kapur yang ada di Cina. Bahkan ada pula literatur yang mengatakan bahwa pegunungan kapur yang terluas dan terbesar pertama di dunia untuk saat ini adalah Karst Maros-Pangkep, hal ini dikarenakan pegunungan kapur Cina yang sudah banyak berkurang akibat ekploitasi dan aktivitas pertambangan.

Lokasi Leang-Leang ini berada tak jauh dari Kawasan Wisata Bantimurung, hanya berjarak ± 9 km. Jika ditempuh dari Maros, maka ± 3 km sebelum Kompleks Wisata Bantimurung, perjalanan berbelok ke arah utara sejauh ± 6 km dari jalan poros Maros-Bone.
Beralih ke area hutan batu, mengemaslah nama "Rammang-Rammang",  Bahasa Makassar, yang berarti  "awan" atau "kabut". Mungkin karena di tempat ini, sebab awan atau kabut yang selalu turun rendah, terutama di pagi hari atau ketika hujan.
Tempat yang menarik di kawasan ini adalah taman hutan batu kapur, telaga Bidadari, gua Bulu' Barakka’, gua Telapak Tangan, gua Pasaung, sungai Pute dan kampung Berua.
Hutan batu Kapur yang  bertebar seluas 45 000 hektar (45à km²) dan merupakan kawasan karst terbesar ketiga di dunia, setelah Tsingy di Madagaskar dan Shilin di Tiongkok. Untuk tidak penasaran Kampung ini bisa diakses menggunakan kendaraan roda 4 atau melalui jalur Sungai Pute dengan menumpangi perahu sampan ataupun perahu katinting.
Berada di perkampungan ini rasanya seperti berada di sepotong kecil dari bagian dunia yang hilang. Tidak ada jaringan listrik di kampung ini, energi listrik diperoleh dari panel surya bantuan pemerintah, dan hanya digunakan seperlunya ketika pagi sampai sore hari. Sebagian besar digunakan untuk mengisi baterai ponsel atau sekedar menyalakan beberapa peralatan elektronik sederhana seperti televisi atau radio. Sebuah kampung yang asri dan damai, ditemani oleh hembusan angin yang sejuk dan ternak sapi peliharaan yang sedang mencari makan milik penduduk setempat, semakin menambah indah suasana di Kampung Berua. Ditambah lagi dengan penduduk yang ramah dan bersahaja membuat kita tak ingin cepat untuk beranjak pergi dari kampung ini.
--------------
“Ragam keunggulan yang dimiliki membuat kami optimis,  Karst Maros-Pangkep disetujui jadi kawasan geopark nasional. Apalagi, kita sudah tiga kali melaksanakan seminar yang dihadiri satgas pusat,” tutur ahli Geologi, bulan lalu  Sabtu 2017).
Dengan tiga hal penilaian penting, yakni keanekaragaman hayati, ekonomi-budaya, dan geologi. Ketiganya akan dimuat dalam dokumen dessier. “Kita muat puluhan keanekaragaman hayati yang dimiliki, seperti spesies kupu-kupu, tanaman endemik, dan tarsius (monyet kecil),” sebutnya.
Saribbattangku…., selessurekku…., Dukunglah Karst panjang Maros-Pangkep berhasil menjadi kawasan geopark nasional.
Bagaimana dengan Maros kini, Kaidah mengatakan, bahwa “Maros di era kekinian , tak ada yang terlalu menonjol, tapi hamper semua ada”, mengenang bahwa Bupati Maros HM Hatta Rahman pernah menerima penghargaan Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN) tahun 2010 dari presiden, di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta.
 Demikian pula Pemerintah Provinsi Lampung,  dalam aspek peternakan dan perkebunan, mengadopsi berbagai program pembangunan di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, khususnya terkait pengembangan berbagai komoditas unggulan seperti peternakan sapi, padi, kelapa dan coklat.
"Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri dan rombongan saat ini berada di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, untuk mengadopsi berbagai program unggulan di sana," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Bayana, di Bandarlampung, Selasa.
Ia menyebutkan, Kabupaten Maros dipilih sebagai lokus karena memiliki berbagai keunggulan dan mampu mengoptimalkan potensi Hutan Taman Nasional.
Secara umum, wilayah Kabupaten Maros memiliki peranan yang sangat besar terhadap pembangunan regional dan nasional melalui peranannya dalam berbagai aspek, yakni :

1. Pusat pelayanan transportasi udara internasional, yakni Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Bandar udara ini terletak di Kecamatan Mandai yang merupakan wilayah perbatasan dengan Kota Makassar. Pertumbuhan pelayanan bandar udara Hasanuddin yang begitu pesatnya, sehingga dilakukan pengembangan bandar udara baru dengan luas lahan pengembangan 554,6 Ha. Bandar udara Hasanuddin merupakan wilayah pintu gerbang Sulawesi Selatan dan KTI yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Maros adalah gerbang utama pembangunan regional dan nasional.

2. Pusat Penelitian Pertanian, yakni dengan adanya pengembangan Balai Penelitian Tanaman Sereal dan Tanaman Pangan yang berlokasi di Kecamatan Turikale. Balai penelitian ini melakukan serangkaian penelitian untuk menghasilkan inovasi teknologi pertanian sekaligus mendiseminasikan secara terarah guna mendukung upaya peningkatan produksi pertanian sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan.

3. Pusat Penelitian Kelautan dan Perikanan, yakni dengan adanya kawasan riset tentang potensi kelautan dan perikanan. Hal iniu sangat mendasar karena wilayah Kabupaten Maros sebagai daerah pesisir dengan kontribusi pada sektor perikanan di Sulawesi Selatan cukup besar, terutama dalam memenuhi kebutuhan wilayah Kota Makassar sebagai ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Disamping itu, kegiatan perikanan yang diusahakan dan dikembangkan oleh masyarakat Kabupaten Maros adalah perikanan budidaya air payau yang mencapai luas tambak 9.461,53 Ha.

4. Militer, yaitu wilayah Kabupaten Maros merupakan wilayah yang dijadikan sebagai Pusat Pelatihan dan Pendidikan TNI-AD, yaitu dengan adanya kawasan pelatihan dan pendidikan Kostrad TNI-AD. Lokasi kegiatan ini berlokasi pada dua kecamatan, yakni Sambueja Kecamatan Bantimurung dan Kariango Kecamatan Tanralili. Disamping itu, Kecamatan Mandai juga di jadikan sebagai pangkalan udara TNI Angkatan Udara yang berlokasi di Bandar Udara Sultan Hasanuddin.

5. Penghujung bulan 7 lalu, kompetisi Kegiatan yang melibatkan seluruh Pemerintah Kota, Kabupaten, dan Provinsi di Indonesia ini menawarkan berbagai potensi unggulan daerah-daerah di Indonesia guna menarik investasi hadir dan mendorong pertumbuhan perekonomian daerah.  Pemkab Maros meraih juara 1 kategori umum, dalam ajang Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) tersebut,
Maros sampai saat ini. Selain nama Maros,  Marusu dan/atau Buttasalewangan. Ketiga nama tersebut melekat dan menjadikan hal tersebut sebagai lambang kebanggaan tersendiri dalam mengisi pembangunan daerah.

Akhir dari narasi ini, kami kutip dari  Alfred Russell Wallace (sang Naturalis  berkebangsaan inggris, meneliti species kupu-kupu Bantimurung) “kita mendapat penegasan betapa geologi dan ekologi Sulawesi selatan ini berbeda dari geologi dan ekologi kawasan barat Nusantara yang menjadi bagian Asia, sekaligus juga berbeda dari geologi dan ekosistem kawasan timur Nusantara yang menjadi bagian Australia. kita pun bisa menyimpulkan bahwa Sulawesi memang istimewa bukan hanya secara geo-ekologis tetapi juga secara sosio-histori”_
Kepada Allah SWT, Masyarakat Maros Mencintai dan berterima kasih atas semesta dan  berkah yang demikian berharga ini,”__wassalam
_____________
_Kaimuddin Mbck

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar