Tidak Sepenuhnya Benar, Keadaan Dapat di Wakil-kan Oleh Bahasa, Tapi ?

Suatu hari dalam telaah "peran bahasa". Gugatan awal di suarakan seperti berikut ini
= Jika bukan bahasa,  lalu apa yang harus digunakan sampaikan perihal atau keadaan ?.atau kita sepakat bahwa diam juga merupakan bahasa.

Kepribadian juga prilaku yang dicetak atau diproduksi memungkinkan bahasa terlibat dalam membentuknya, benarkah ini ?

: sebab bahasa  memiliki pengaruh pada pola perilaku manusia,  semisal terbentuknya kebiasaan melalui bahasa yang digunakan dan kemudian kebiasaan tersebut membentuk pesona mungkin lewat gaya komunikasi atau kecakapan lain hingga kesugesti.

Bahkan secara berlebihan  dikatakan oleh Foucoult, ”atas bahasa, siapa yang mampu memberi nama, dialah yang menguasai, dan jika di dunia hewan berlaku hukum makan dan dimakan,  maka didunia manusia berlaku hukum membahasakan atau dibahasakan”?.


Peristiwa juga rasa yang di bahasakan, hanyalah perwakilan dari keadaan yang secara esensial bukan kebenaran sesungguhnya, hai ini di sebut hanyalah  “pembenaran pembenaran“.

  " ia bahasa  tak memungkinkannya menjadi kebenarana massal atau
 kolektif, juga karena jumlah entri dalam idiom kata dalam bahasa Indonesia,
 sangat sedikit sehingga terus menerus menyerap kata dasar demi pengembanganya atau
 dapat juga di katakan bahwa, idiom bahasa kita tidak mamadai lagi untuk 
mengakomodasi simbol-simbol mutakhir yang sifatnya kekinian, termasuk untuk 
melakukan persenyawaan dengan bahasa-bahasa visual", ya..sebuah kejut bukan ?

Perdebatan yang panjang akan bahasa,  yang mewakilkan metafora menuai kesimpulan 
"tapi...selemah apapun peran bahasa mewakili setiap keadaan, tetap nyata bahwa  segala sesuatu masih, lebih tepat di wakilkan oleh bahasa", bahkan dapat saja terjadi bahwa setiap keadaan dapat di sugestikan dengan kecakapan menggunakan  bahasa.
_______
Kaimuddin Mbck_Dialog kampus Himpunan Mahasiswa Bahasa _29 Nov 2012


{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar