Kemarau dan Gadis Desa
















Kemarau dan serangkai aksara yang berserakan,
aku menyunting satu-satu
     huruf, angka,  ranting, daun,  buah mungkin bunga, parasit,  atau
      entah apa namanya, segala-gala merengek minta segera dipetik sebelum
      kering ketimbang  jatuh lalu terlupakan“,

Kemarau dan serangkaian waktu tanpa akhir, .juga  jerit mangga yang daunnya tinggal satu

Kemarau  sebuah judul yang rumit,  seperti  gersang  yang menceritakan banyak hal, tak terkecuali  gadis desa yang memanggul air dengan kaki  menjejak tanah kering,  debu juga panas,   di sepanjang batang waktu,

Kemarau begitu banyak debu menghapus jejak .
Hanya ini yang aku bisa,
      duduk merenung, melihat putik daun berguguran  menjejak tanah.
       mungkin ia bibit yang akan tumbuh di musim hujan kelak

Kemarau dan di sore ini,  
   " gadis desa yang memanggul air,  entah ...
                                     musim mana  yang lebih aku  sukai"
______
Sangbaco _ Pesisir Bontoa dan kemarau memerih mata"

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar