Ketika Tak Bertanya Lagi "Siapakah Tuhan ?"
Jumat, September 20, 2019Hanya sekali ledak dan bumi ini tercipta. Hamparan Tanah daratan, pohon-pohon, gunung menjulang, petala langit dan semua berstatus bagian dari alam. Filosofi yunani membahasakan asal bumi tercipta ini karena "rasa cinta", maka semuanya tumbuh, di adakan oleh Tuhan pencipta dengan segala keteraturan. sekali saja ledak dan kita tak bertanya lagi "siapakah Tuhan ?". Memandang alam dengan segala kompleksitas yang memanjakan rasa-mu, juga terhadap pergantian musim yang senantiasa me-fariasikan warna bumi serta perubahan perasaanmu terhadapnya adalah asumsi melahirkan kekaguman sebagai hamba. Karena ini para pecinta melantunkan syair, ulasan , ungkapan juga puisi-puisi pemujaan terhadap ketakjuban terhadap kebesaran alam ini.
Puisi Religi
Sedang Bumi hanya sekali ledak.
doa-doa pecinta tengadah lalu lesat kelangit
kian dingin
Nganga dari bibir langit tumpah bola-bola es,
mendayu gema zikir-zikir, riuh menjelma ledak,
menjelma bunga-bunga cahaya di petala langit ...,
Pagi yang syahdu, dan bulan tiba-tiba bercincin,
sebegini khusyu maka "kata" tak lagi benar mewakili peristiwa,
mengerang antara khouf dan raja',
sebuah hulu ledak dan selalu nama itu gema disetiap jawaban.
"ya Allah yang ditangannya segala kehendak, aku tiada kuasa kendatipun terhadap diriku sendiri, niscayakanlah namaMu mengelus segalaku".
mendayu gema zikir-zikir, riuh menjelma ledak,
menjelma bunga-bunga cahaya di petala langit ...,
Pagi yang syahdu, dan bulan tiba-tiba bercincin,
sebegini khusyu maka "kata" tak lagi benar mewakili peristiwa,
mengerang antara khouf dan raja',
sebuah hulu ledak dan selalu nama itu gema disetiap jawaban.
"ya Allah yang ditangannya segala kehendak, aku tiada kuasa kendatipun terhadap diriku sendiri, niscayakanlah namaMu mengelus segalaku".
Roh yang hidup bersama jasad sejak pertama kali, meng-ikrar pada pemilik-Nya, mengiang tentang jalan pulang yang mesti dihadapi namun di hadapan roh pula adalah ledak penuh kesemuan, akankah jalan pulang masih dengan petunjuk pelita terang menuju keharibaan sang pencipta. Sedang roh menekur pada jasad dalam bawaannya yang pelupa, takut, lemah dan di gambarkan sebagai pohon yang bersandar. Implementasi ruh yang terus bertanya "dimana..siapakah Tuhan ?".
Ledak
Menajam pada ruh yang mengantar berita atau
ruh yang membiarkan diri rebah sendiri,
sebab ruh tak sesuatupun luput dari ledak
lihatlah....
kesementaraan menarik waktu juga perasaanmu,
memberatimu dengan beragam tanya yang jawabannya, selalu
namanya......dialah "Allah"
Dialah Allah yang melihat jelas wajah-wajah juga napasmu yang berat, atau
meledakkanmu dengan cahaya dan kemudian pecah bak warna-warni
dan kau tak bertanya lagi, siapakah tuhan...?
_________
kaimuddin mbck "Malam gigil ramadan"_September|20|2019
Catatan Kisaran Religi atas dosa, kesadaran dan tobat hingga tak bertanya lagi "Siapakah Tuhan ?".
0 comments