Anak -anak Mengaji di Bantaran Sungai Marusu

Di tepi sungai Marusu, tampaknya siluet mulai menepi mengantar keriangan anak-anak sepulang mengaji, lalu qur'an didekapannya terangkat meng-kibas-kibas ke awan , upss...jangan manarik perhatian mereka, dipeluknya warna-warni siluet yang tinggal titik-titik itu.

seperti tak henti sekumpulan anakanak pulang ngaji itu telanjang kaki berlari-lari di bantaran sungai, dan segimbal daun mangga dipanjat-nya sambil berayun,  "hiyyauuuiiii...."teriak bocah-bocah itu lantang, tampak giginya yang tanggal, memanggil berloncatan pada pohon yang daunya terjulur menyentuh air itu.

Anak-anak itu dan kesenangan mereka mandi di sungai, menghapus mendung yang mengantarai kehidupan mereka, ia telah cukup dengan segala yang diresapnya hari ini. 

Usai sorak sore, hanya pelepah patah dan biji mangga yang berserakan sebagai akhir pesta mereka.

Masih tentang celoteh sungai, ya sebuah revitalisasi lokal atas perlawanan hedonisme, juga tanpa kepedulian bahwa di luar dunia mereka merebak warna-warni kapitalis dan monarki. Bocah itu mengeja kehidupan alami, mereka  kau luput dari aktifitas kedalam sungai termasuk persetubuhan tiram yang terjadi terus-menerus, atau tetumbuhan ganggang air yang terus meruas, di pinggir sungai ini kau tak mungkin pulang, 

:dengan keceriaan anak-anak itu, mereka berkisah sangat alami juga tanpa struktural 
Perjalanan mega-mega sepanjang bantaran sungai, akhirnya adalah peta tempat rindu duduk istiarah, detik detik angin hampir kelelahan ketika kau hendak pulang tergesa-gesa," disini senyummu ...rindumu..., juga tempatmu melupakan diri sendiri".

di bantaran sungai Marusu, mengendap pedalaman yang tumbuh sendiri, aroma pesisir, bunyi ayam dan suara anak-anak mengaji di kolom rumah...sore melekat, melenggang jauh ke lubuk riwayat.
_________

Sang Baco_ :sedang mancing dan anak-anak menjauhkan ikan dari kail, "awas ki nah..." _

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar