Kematian itu Hening juga Dingin

Malam-malam redup mengantar bulan purnama turun ke dasar kolam, begitu hening, dan luruh
ketika itulah
    bisikan halus menyelam ke dasar kemanusiaan,
menafsir penciptaan kehidupan yang  tanpa batas, demikian pula
akhir yang tanpa cahaya dan tertutup rapat,
kehidupan dan kematian seolah jalan berkelindang, yang
                                                     mencari-cari dimana berakhir ?


Sejenak menyisih dari luka rutinitas dunia, luka yang  tak mampu meraba apapun terlebih membaca tanda,  ketika itulah dari lauhul mahfuzh Kematian dikirim kepada mereka,


Puisi "detak Luka yang memohon"

Malam di penghabisan jalan
meraba nyut-nyut nista yang tertinggal
Langitlangit cemar berbuncah, ku rebah penuh gurat luka

aku di antara tekur safsaf jamaah berbanjar

Menyelami diri sendiri di peta kurun jauh, pada maaf  yaumil-mahsyar
uh…, kujahit lukaluka batini di serambi Mu yang Maha….,

Tapi…, aku bercak-bercak hitam, aku tetap lumpur lekat

aku tengadah ke langit "Tuhan…, aku pucat pasi…."

______

kaimuddin mbck 

________

luka adalah adalah tanda dengan bercak-bercak hitam, dosa yang mengering batu dengan  genangan gelisah, luka adalah detik akhir, luka adalah jarak kelabu  seperti  minyak  yang menyalakan api , dan luka adalah diam  dibekukan waktu,

daun gugur diluar jendela begitu dingin dan hening, tak sesiapa pun kecuali kau diintipnya.

Telah habis waktu sedang diluar jendela daun gugur, warna kuningnya mengabarkan seseorang akan pulangh, adakah namamu disitu.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar